Artikel

Debat Capres dan Pencarian Dwitunggal Baru

Oleh: Harryadin Mahardika

Sejak penunjukkan Ma’ruf Amin sebagai pasangan cawapres dari Joko Widodo, muncul keraguan publik tentang chemistry dua orang ini sebagai calon pemimpin.

Joko Widodo yang abangan dan impulsif, diragukan bisa nyambung dengan Ma’ruf Amin yang santri dan reserved.

Rupanya keraguan ini terkonfirmasi dalam Debat Capres yang pertama tadi malam. Keduanya tampil tanpa chemistry, seperti dua orang yang saling tidak kenal.

Padahal pemilih tentu mengharapkan mereka bisa tampil sebagai DUET calon pemimpin yang solid dan saling memahami satu sama lain. Para pemilih layak khawatir jika mereka nantinya menjadi pasangan pemimpin yang jalan sendiri-sendiri. Itu akan menjadi mimpi buruk bagi bangsa ini.

Ketiadaan chemistry tersebut secara khusus ditunjukkan dalam fragmen-fragmen debat berikut ini:

1). Bahasa tubuh Joko Widodo yang tidak hangat kepada Ma’ruf Amin.

Seolah-olah Kyai Ma’ruf adalah beban bagi penampilan Joko Widodo. Berkali-kali kamera menangkap Joko Widodo melirik pasangannya dengan mimik yang dingin. Kyai Ma’ruf juga tidak bisa menyembunyikan reservasi-nya terhadap Jokowi. Perlakuan timses 01 yang kurang pas pada beliau bisa jadi menjadi alasannya.

2). Koordinasi keduanya sangat buruk, sehingga menimbulkan situasi yang membuat Ma’ruf Amin tidak nyaman.

Jawaban dari Joko Widodo yang berbelit dan meloncat-loncat membuat Ma’ruf Amin sulit mengikutinya. Sehingga ketika Joko Widodo mengakhiri jawabannya dan menyilahkan Ma’ruf Amin meneruskan, pak Kyai terlihat kaget dan tidak siap dan terpaksa merespon seadanya (misal: cukup). Situasi ini bisa membuat Kyai Ma’ruf merasa kehilangan muka dihadapan jutaan pemirsa televisi.

3). Setiap kali Joko Widodo menyerang Prabowo secara personal, wajah Ma’ruf Amin terlihat jengah.

Serangan personal tanpa dasar kuat kepada Prabowo oleh Joko Widodo rupanya membuat jengah Ma’ruf Amin. Termasuk ketika Joko Widodo menolak dengan ketus tawaran moderator untuk memberi apresiasi pada Prabowo. Sebagai ulama, beliau tentu mengedepankan adab dan etika dalam situasi apapun. Seharusnya Joko Widodo sudah mencapai maqom itu juga, sama seperti Ma’ruf Amin, Prabowo dan Sandi yang tadi malam menahan diri untuk tidak melakukan serangan personal.

4). Setiap Joko Widodo membanggakan dirinya dan keluarganya, Ma’ruf Amin lagi-lagi terlihat jengah.

Tadi malam Joko Widodo tidak sekalipun berempati menceritakan penderitaan yang dialami rakyatnya. Padahal masih ribuan kisah pilu yang dialami rakyat yang seharusnya mendapat empati dari presiden. Sebaliknya, ia justru terus membanggakan dirinya sebagai pemimpin yang bersih dan membanggakan anaknya yang gagal tes CPNS. Semua narasi berpusat pada dia dan keluarganya. Disinilah Kyai Ma’ruf kelihatan sekali jengah. Pemimpin yang telah mencapai maqom tertinggi akan terlebih dahulu mengakui kekurangannya, dan meminta maaf atas kekurangan tersebut.

5). Joko Widodo dan Ma’ruf Amin tidak pernah berdiskusi selama debat berlangsung.

Layaknya pasangan yang tengah berkompetisi, wajar jika keduanya seharusnya berkomunikasi untuk merespon situasi yang dihadapi. Anehnya, hal ini sama sekali tidak dilakukan tadi malam. Mungkin karena mereka berdua sudah yakin dengan contekan yang disediakan untuk masing-masing, sehingga tidak merasa perlu untuk berkoordinasi di panggung.

Mencari Dwitunggal Baru

Melihat fragmen-fragmen tersebut, bisa disimpulkan bahwa ketakutan para pemilih telah benar-benar terbukti. Joko Widodo dan Ma’ruf Amin menunjukkan mereka berdua tidak ‘fit’ sebagai DUET pemimpin.

Padahal negeri ini butuh dua orang pemimpin DWITUNGGAL, Presiden dan Wakil Presiden. Dwitunggal ini harus kompak dan punya chemistry untuk bekerja bersama mencari solusi bagi ribuan masalah bangsa. Seperti Bung Karno dan Bung Hatta.

Justru yang nampak kompak dan layak disebut DWITUNGGAL adalah pasangan Prabowo-Sandi. Keduanya sangat komunikatif, tampil lepas, dan mengerti betul pembagian peran masing-masing. Dwitunggal inilah yang dibutuhkan Indonesia untuk keluar dari carut marut keterpurukan hukum, sosial, ekonomi dan politik.

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait