ArtikelFeatured

Darurat! Sebanyak 400 Ton Sampah Tangsel ke Jatiwaringin, Pemuda Lira Banten Bersuara

Oleh : M. Dedi Suryadi, ST (Ketua DPW Pemuda LIRA Banten)

Peristiwa longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang Kota Tangerang Selatan yang akan dialihkan ke TPA Jatiwaringin Kabupaten Tangerang masih menjadi pro-kontra antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang dengan masyarakat lingkungan setempat. Jebolnya tanggul TPA (26/5) yang memiliki ukuran panjang 60 m, tinggi 16 m dan luas 2,5 ha dengan kapasitas per harinya diperkirakan 300 ton sampah, menuai pertanyaan masyarakat. Karena diperkirakan sebanyak 400 ton sampah akan dialihkan ke Jatiwaringin setiap harinya.

Kiriman sampah dari Kota Tangsel ke TPA Jatiwaringin menimbulkan keresahan masyarakat yang terganggu dengan aroma yang kurang sedap, dapat menyebabkan penyakit ispa, mencemarkan lingkungan dan air tanah.

Dalam kajian internal DPW Pemuda LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) Provinsi Banten, langkah Pemerintah Kota Tangsel dalam menangani sampah di wilayahnya sudah maksimal dan patut diapresiasi. Jebolnya tanggul TPA Cipeucang murni musibah sehingga harus menjadi perhatian dan kepedulian bersama.

TPA Cipeucang yang dibangun di bantaran sungai sudah melanggar SHI 03-3241-1994 aturan Kementerian PUPR tentang Tata Cara Pemilihan Lahan TPA. Persoalan demikian perlu dievaluasi karena kita semua tentunya tidak ingin insiden yang sama terulang dan mencemari sungai.

Perjanjian kerjasama antara Pemerintah Kota Tangsel dan Pemerintah Kabupaten Tangerang juga harus melibatkan elemen Pemerintah Kota Tangerang. Sampah sebanyak 400 ton/hari yang akan melintasi Kota Tangerang tidak boleh melanggar Perda Kota Tangerang Nomor 3 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan Sampah.

Disebutkan pada pasal 18 perda tersebut, bahwa dalam pengelolaan sampah masyarakat Kota Tangerang mendapat lingkungan yang bersih, indah, nyaman dan sehat. Kemudian pada Pasal 19 juga termaktub larangan mengelola sampah yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan, serta larangan mendatangkan sampah dari luar Kota Tangerang.

Walikota Tangerang harus memperhatikan dampak anggaran perawatan infrastruktur, estetika kota dari sampah yang tercecer, dan kenyamanan masyarakat pengguna jalan.

Persoalan truk tanah yang kian parah, jam operasional angkutan sampah harus juga menjadi perhatian, jangan sampai menambah kekhawatiran dan berpotensi mengganggu kenyamanan pengguna jalan.

Karena itu pengelolaan sampah harus dilakukan dengan asas tanggung jawab bersama, manfaat keadilan yang berkelanjutan, kesadaran, keselamatan, dan nilai ekonomi.

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: