ArtikelFeatured

Covid-19 dan Tanda-Tanda Pergeseran Sosial (Bagian 2)

Oleh: In’am eL Mustofa (Pegiat Sosial Keagamaan dan Property. Tinggal di Jogjakarta)

Perilaku gotong royong dan saling bantu yang hadir bak cendawan di masyarakat patut kita syukuri. Mereka menutup kampung, menjaga ketat untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Posko mandiri dibuat dgn berbagai kreatifitas, sejak dari tulisan imbauan dan aneka bentuk Lockdown. Bagi yang kemarin malas ronda malam, kini keluar rumah ikut serta jaga kampung secara bergiliran full 24 jam agar tak kecolongan sebaran Covid-19. Mereka bergiliran, menjaga setiap orang yang masuk kampung. Untuk memastikan dalam keadaan bersih dan sehat. Suplay makan minum di pos jaga tak pernah kurang. Luar biasa bukan? Bahkan ada warga yang menyediakan rumahnya untuk dijadikan tempat karantina bila ada yang PDP. Sedikitpun tak ada bau pencitraan agar berkesan ‘hueebbaatt’, anat jauh dari anasir tersebut.

Kita lihat juga di kampus ITB, masjid dijadikan Laboratorium untuk menghadang laju penyebaran Covid-19, penulis yakin ke depan akan banyak lembaga sosial seperti masjid, ormas agama untuk terjun pada lapis dua untuk membantu para petugas medis yang berada di garis terdepan.

Ada pergerakan sosial yang bermula dari solidaritas dan tanggungjawabnya sosial kemasyarakatan bahwa lingkungan harus dijaga secara bersama-sama.
Nah, pada titik ini pejabat publik tentunya tinggal support secara all out dengan regulasi yang produktif serta efektif pelaksanaannya. Jangan sampai tumpang tindih, apalagi jika rakyat berkesan di ‘ping-pong’. Pendek kata, jangan hanya janji, tapi secara operasional dapat dirasakan langsung oleh rakyat. Tidak sekedar aturan, namun tak efektif pada tingkat operasional. Karena penulis, tentu tidak berharap ditengah kelesuan ekonomi dan kesulitan pemenuhan kebutuhan pokok akan terjadi gejolak sosial karena tumpang tindihnya wewenang dan delegasi.

Frustrasi sosial bisa terjadi karena lemahnya kontrol dan pengawasan terhadap setiap kebijakan yang telah digulirkan. Sekali lagi hal ini tidak diinginkan. Perlu diingat bahwa solidaritas masyarakat yang sudah terbentuk bisa berubah menjadi konsolidasi sosial untuk melakukan perbuatan yang baik secara bersama tanpa harus memperhatikan kebijakan dari pemerintah. Hal ini berbahaya, dan tidak diinginkan oleh sebagian besar pejabat publik. Maka kata kuncinya adalah utamakan keselamatan jiwa rakyat, Jangan sekedar lipstik. (Fn)

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: