ArtikelFeatured

Covid-19 dan Pergeseran Sosial (Bagian 3)

Oleh : In’am EL Mustofa (Pegiat social keagamaan dan Property)

Pergerakan solidaritas sosial antar masyarakat terutama di masyarakat bawah hari terbukti sudah sebagaimana penulis prediksikan pada tulisan sebelumnya, solidaritas sosial antar individu kini telah merambah ke lembaga-lembaga keagamaan dan tempat peribadatan seperti Masjid, Gereja, dan lain-lain.

Semua bahu-membahu dan bergotong royong untuk menjinakkan wabah covid-19. Orang jawa menyebut ini adalah pageblug dimana alam mencari keseimbangan dengan caranya sendiri, sedang manusia sebagai bagian dari alam tinggal menyesuaikan secara total.
Totalitas ini berdimensi sosial, bahwa semua lapisan masyarakat tanpa kecuali harus saling menyesuaikan diri satu dengan lain.

Tolong menolong, rasa solider yang berujung pada kemanusian yang adil dan beradab semata tidak menjadi domain orang bawah (baca : rakyat biasa) namun juga para pengambil keputusan dan para Konglomerat, wirausaha milyarder.

Penulis memang agak risih ketika para pengambil keputusan bangsa ini tidak memberi contoh yang baik, misalnya dengan cara mendonasikan sebagian kekayaanya untuk mengurangi kepanikan pemerintah dalam menghadapi wabah. Sampai kini hampir tidak ada kecuali amat sangat sedikit. Miris sekali bukan. Paradok dengan hal tersebut malah membuka kotak donasi, mempersilahkan siapa saja yang mau menyumbang. Pada sisi lain bersiasat untuk berhutang kepada lembaga dan negara donor. Mau berutang bukan pada soal jumlahnya. Namun bagaimana ditengah wabah ini kita bangsa yang besar ini mampu mengunakan sebagai momentum untuk konsolidasi secara nasional.

Taruhlah misal Global bond yang akan diterbitkan adalah 4,3 Milyar dolar dengan tenor 50 tahun sebenarnya jumlahnya sedikit. Ya, sedikit. Jika pemerintah mau bersungguh-sungguh untuk mencari tanpa harus utang. Caranya, jika ada kemauan Pemerintah tinggal mengeluarkan peraturan yang mengikat khususnya kepada para pengusaha kelas menengah dan konglomerat untuk donasikan harta kekayaanya, misal 10% dari kekayaan. Tinggal hitung jumlah Konglomerat. Penulis kira akan klaar sampai 100 trilun. Karena para pengusaha di negri Indonesia tercinta ini yang kaya amat juga ratusan jumlahnya.

Sesekali pemerintah jangan hanya mengimbau, apalagi ini adalah keadaan darurat. Darurat militer saja pemerintah bias mewajibkan rakyat sebagai serdadu. Darurat wabah covid-19 dan kesehatan tentu bisa dilakukan untuk mewajibkan para konglomerat untuk keluarkan hartanya untuk kepentingan bersama. Jadi memaksapun pemerintah bisa. Memaksa para konglomerat untuk menyisihkan kekayaannya. Ini momentum untuk konsolidasi nasional, merasa senasib dan sepenanggungan. Apalagi? Dana CSR (corporate social responcibility) aturannya sudah ada dalam PP 47 tahun 2012 secara nasioal angkanya juga lumayan gede lebih dari 10 Triliun. Namun sebagai biaya social, sosial spending jumlahnya masih sedikit. Hal itu bisa dijalani selain dari usulan Rizal Ramli , memakai SAL.

Usul Rizal Ramli baik tapi tak berdimensi sosial pada permulaan. Padahal wabah ini selain kesehatan juga menjadi masalah sosial dan pasti akan merembet ke bidang lain, ekonomi dan politik. Maka cara menanganinya sebaiknya juga berdimensi sosial dengan cara meningkatkan tanggungjawab sosial setiap individu pada seluruh lapisan. Pageblug tak mengenal siapa yang akan menjadi korban tapi setiap korban akan memberi efek pada yang lain dan sambung menyambung seperti mutan. Maka jargon “bersama kita bisa” menjadi relevan lagi.

Pemerintah jangan hanya memberi kemudahan-kemudahan pada para konglomerat namun kini saatnya memaksa para konglomerat untuk peduli secara hakiki terhadap masalah bangsa, wabah covid-19. Dan pada titik ini jurang social yang makin melebar akan menjadi sempit, paling tidak berkurang. Menjadi point tersendiri yang smart. Tumbuh solidaritas semua lapis masyarakat, terbangun konsolidasi nasional dan pemerintah menjadi lebih berwibawa dan benar-benar hadir di tengah masyarakat.

Jika sampai pemerintah abai dalam hal tersebut diatas dan hanya menari-nari diatas pageblug maka bayaran tunainya adalah, Chaos.
Maka nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kalian dustakan. (Fn)

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: