ArtikelFeatured

Corona Pasti Bisa Dilawan!


Oleh: M. Nigara (Wartawan Senior)

Optimis dan jangan panik (bersabar). Itu kunci kita melawan Covid-19. Begitu kira-kira rangkuman saya terkait dengan apa yang disampaikan akhli virus Mohammad Indro Cahyono (MIC).

Selintas sepertinya tidak meyakinkan. Kok begitu entengnya sih? Atau, kok mudah banget sih? Padahal dampak yang ditimbulkannya begitu besar. Yang terguncang bukan satu negara, tapi lebih dari 160 negara.

Korbannya bukan: 1, 10, 100 atau 1000, tapi ratusan ribu. Bahkan korban yang meninggal tidak kurang dari 10 ribu.

Tidak hanya itu, perekonomian juga ikut kacau. Banyak pihak terancam kebangkrutan. Dan tak kepalang, negara juga bisa ikut bamgkrut.

Jadi, apa benar pandangan MIC itu? Semua tentu berpulang pada kita sendiri. Toh MIC tidak memaksakan pendapatnya. Toh banyak pakar yang juga sudah mengemukakan pendapatnya.

Tinggal kita pilih, ingin yang setelah baca tambah takut, atau yang setelah membacanya kita putus asa?

Q.S Al-Baqarah (2) : 155: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Saya sengaja ingin mengajak kita semua untuk optimis. Saya ingin kita terus mengembangkan layar optimisme. Membangun pikiran positif.

Ayat di atas juga jelas, ketika ada ujian, ketakutan, kelaparan, ada kabar gembira untuk mereka yang sabar. Nah, berpikir optimis itu pasti menggunakan kesabaran.

Dari Love Life Daily (15/7/2015) dikisahkan tentang optimisme yang membawa kesembuhan seorang gadis bernama Jeanette Jacobus, berusia 20 tahunan. Memang bukan Corona dan Covid-19 sakitnya.

Tapi Jeanette sama sekali tidak menangis apalagi bersedih ketika dokter memvonisnya menderita kanker akut. Padahal, kebanyakan orang pasti sudah langsung rontok.

Saya sendiri mengalaminya dua pekan setelah operasi prostat 2014, dokter menyatakan saya positif kanker dengan stadium-4. Belum selesai sang dokter berbicara dengan istri saya, dunia rasanya runtuh.

Saya bersyukur ketika istri dan anak-anak saya membawa ke Penang, Malaysia, hasilnya berbeda jauh. Meski demikian, dalam dua minggu berat badan saya turun 6 kilo.

Kembali ke Jeanette. Ia terus optimis bisa sembuh. “Caranya hanya satu, percaya bahwa penyakit ini bisa hilang,” katanya.

Selain itu, ia juga menjalankan semua perintah dokter. Tapi, kunci utamanya optimis bisa sembuh. Dan alhamdulillah ia sembuh.

Penelitian

Hasil penelitian Mayo Clinic, sebuah organisasi non-profit yang bergerak di bidang kesehatan dan pusat kelompok peneliti medis di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa berpikir positif dapat membuat seseorang cenderung optimis memandang hidup. Penelitian yang dilakukan oleh Suzanne Sugerstrom sebagai peneliti psikologi positif mengamati pasien Mayo Clinic dari pola pikir dan tingkah lakunya.

Ia laporkan bahwa pikiran positif biasanya diikuti dengan kepribadian yang optimis. Pada Maret 2014 hasil penelitian dipublikasikan dengan mengatakan bahwa berpikir positif berpengaruh terhadap kesehatan, proses penyembuhan penyakit, serta tingkat kesejahteraan.

“Saat berpikir positif, maka perbuatan juga mengikuti. Akhirnya saya merasa lebih bahagia dan tetap semangat,” ujar perempuan yang akrab disapa Nannette.

Bukan kiamat

Mengkaji apa yang dilakukan oleh Mayo Clinic, dan membaca semua kisah kesembuhan para penserita Corona, rasanya optimisne dan pikiran positif yang diterapkan MIC adalah jawaban yang jitu.

Toh secara faktual belum ada obat apa pun yang bisa membunuh Corona/Covid-19 itu. Dokter dan perawat yang berjuang di garis depan pun mengajarkan pada para pasien agar bisa berpikir positif dan membangun optimisme yang tinggi.

Menurut dr. Andika Pawitri seperti dimuat di Kesehatan Mental (21/1/2020), ada enam faktor peningkatan daya tahan tubuh atau penyembuhan non-medis.

Di urutan ke-4 untuk
Meningkatkan daya tahan tubuh: Manfaat berpikir positif tidak hanya berdampak secara psikis, tetapi juga secara fisik. Berpikiran positif membantu mengurangi kerentanan Anda terhadap penyakit musiman, seperti flu dan memiliki sistem imun yang lebih kuat.

Jadi, tidak berlebihan jika saya yakin betul dengan pandangan MIC itu. Apalagi, dia adalah memang akhli virus. Artinya, MIC paham sifat-sifat virus termasuk Covid-19.

Dan terpenting, Corona dan Covid-19 itu bukan kiamat. Keduanya hanya tanda-tanda kiamat. Artinya kita masih bisa terus menjalankan hidup. Namun kewaspadaan tetap harus dijaga.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya cuplik Berita Positif terkait wawancara MIC dengan seseorang itu:

Lalu bagaimana cara menangani penyebaran virus corona yang sangat cepat ini?

Virusnya pakai sabun hancur, pake bayclean hancur. Pake sunlight cuci piring hancur. Pakai deterjen untuk cuci baju hancur. Pakai yang buat ngepel lantai hancur.

Pakai cairan disinfektan yang biasa disemprot itu? Cairan itu untuk membersihkan virus atau mencegahnya?

Itu sama seperti kita mengepel lantai. Lantai kita pel, udah bersih kan? Nah terus ada yang datang, ya kotor lagi. Jadi kalau ada orang yang gejala flu, ya baiknya di rumah aja. Supaya gak ngotorin yang lain. Ntar, seminggu dua minggu dia sembuh sendiri kok dengan antibodi tubuh manusia.

Ayoooo kita terus optimis! Corona bisa kita lawan!

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: