ArtikelFeatured

Cintaku di Kampus Biru

Oleh : Dhimam Abror Djuraid (wartawan senior)

Bagi yang sudah cukup senior (untuk tidak menyebut tuwir) pasti ingat judul itu. Iya betul. Novel Ashadi Siregar kisah percintaan kampus antara dosen dan mahasiswa, best seller, kemudian dijadikan film dengan bintang Roy Marten dan Rae Sita.

Kampus biru adalah UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogkakarta, tempat Ashadi kuliah, jadi dosen dan ilmuwan, kemudian mendirikan LP3Y yang mendidik dan melahirkan wartawan-wartawan top yang menyebar di semua media terkemuka di seluruh Indonesia.

Ashadi adalah seniman cum ilmuwan akademik yang lahir dari kampus UGM yang subur melahirkan generasi ilmuwan cum seniman kelas dewa langit seperti Umar Kayam dan Kuntowijoyo.

Awal 1990an adalah masa keemasan itu. Generasi emas lahir di era itu. Era ketika kekuasaan otoritarian Soeharto sedang berada pada puncak kekuasaannya, kampus biru muncul sebagai benteng kekuatan intelektual yang tangguh, independen, dan kritis vis a vis kekuasaan negara.

Lebih keren lagi adalah semua spektrum ideologis ada disana dan sama-sama tumbuh subur membentuk mozaik ideologi yang indah dan melahirkan tokoh-tokoh yang hebat. Dari spektrum Islam, Fisipol melahirkan Amien Rais and the Gang seperti Yahya Muhaimin, Mochtar Mas’ud, Affan Gafar, Kuntowijoyo, dan lain-lain. Mereka bersama-sama mendirikan PPSK yang menjadi think tank terkemuka dan melahirkan pelbagai gagasan sosial politik yang progresif.

Kemudian dari spektrum nasionalis bermunculan nama-nama hebat senior seperti Prof. Sartono Kartodirdjo begawan sejarah, Prof. Mubyarto begawan ekonomi tiada duanya sampai sekarang degan gagasan Ekonomi Pancasilanya. Disusul dengan ekonom yang lebih muda seperti Tony Prasetiantono. Ada pula Umar Kayam dan generasi yg lbh muda dan mboys seperti Ashadi Siregar.

Sangat beragam macam tapi indah seperti orkestra, dan rektor Kusnadi Harjasumantri cukup menjadi dirijen yang piawai memainkan nada. Ia menjaga ritme dan harmoni dengan luwes. Amien Rais sejak dulu sudah vokal dan tak takut menyuarakan kritik. UGM memberinya ruang gerak yang cukup, dan dia memanfaatkannya dengan penuh tanggung jawab.

Merekalah intelektual organik seperti yang digambarkan Gramsci, intelektual yang tidak sekadar duduk angkuh di menara gading tapi terjun langsung menjadi bagian dari gerak sosial masyarakat.

Tentu saja persaingan antarspektrum tetap ada, antara geng islam yang kemudian menjadi cikal bakal ICMI vs Geng Nasionalis yang lebih liberal. Tapi persaingan itu terjadi dalam bingkai intelektual yang jujur dan jernih. Mungkin mereka merasa punya common enemy yang sama yaitu rezim Soeharto.

Mereka punya nama besar dan bersama-sama mereka menjadikan UGM sebagai nama besar. Di tangan mereka UGM menjadi intellectual powerhouse yang menyaingi UI yg ketika itu seolah menjadi menara gading yang tak tersentuh.

Anak-anak mahasiswa UGM yang ketika itu mulai berani mengkritisi Orde Baru pun diberi ruang kebebasan yang cukup, dan melahirkan generasi emas seperti Rizal Mallarangeng, Muhaimin Iskandar, Priyo Budisantoso, dan masih banyak lagi.

Saya beruntung menjadi saksi pinggiran era emas itu. Pada awal 1990an saya menjadi wartawan Jawa Pos yang ditugaskan membuka dan memimpin biro Jogja. Bagi saya menjadi pemburu berita di Jogja seperti berburu di kebun binatang, kemanapun menembak bakal dapat hasil bagus karena hampir setiap dosen di UGM ketika itu layak menjadi sumber berita dan pantas menjadi headline.

Amien Rais adalah salah satu primadona dan media darling paling dicari para jurnalis. Pernyataannya selalu quotable dan layak berita. Amien Rais pun menjadi Rising Star dalam peta politik Indonesia dan menjadi salah satu tokoh sentral gerakan reformasi 1998 yang mengakhiri 32 tahun kekuasan otoritarian Soeharto. Amien moncer, UGM juga moncer.

Itulah masa-masa puncak keemasan UGM. Mungkin, hanya tinggal kenangan, sebagaimana kenangan cintaku di kampus biru. (Fn)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up