ArtikelFeatured

Cerita Seorang Teman: Rocky Gerung yang Saya Ketahui

Oleh: Ramadhani Aksyah*

Saya kenal Rocky Gerung sejak lama. Di FIS UI dia tercatat sebagai mahasiswa ilmu politik Angkatan 1979. Sedangkan saya adalah angkatan 1981. Kami sering ketemu di ruang kuliah perpustakaann sesekali di kantin fakultas. Seingat saya, kami tiga atau empat kali ambil mata kuliah yang sama. Lama tak ketemu, ternyata dia juga kuliah juga di jurusan Filsafat FS UI. Saya tidak tahu apakah dia menyesaikan S1 Filafat atau juga jurusan ilmu politik.

Setelah lama tak ketemu, tahu-tahu dia jadi sangat terkenal karena ucapan dan pernyataannya yang bernas, menantang dan intelek di ILC TV One.

Sebagai kawan diskusi, Rocky sangat menantang kita untuk berpikir. Walau kadang terasa ucapannya nyelekit dan menyinggung lawan bicaranya, tetapi harus diakui dia punya begitu banyak literatur serta bahan bacaan. Kalau kita punya bacaan tanggung dan tidak mendalam, lebih baik menghindar dari berdiskusi serius dengannya. Berdasarkan pengalaman bertukar pikirannya dengan dia, diksi dan gaya bahasanya begitu kaya serta beragam yang sukar dicari tandingannya.

Saya tidak tahu apa agama Rocky. Hampir tidak pernah dia tunjukkan kecenderungan agamanya semasa di kampus. Tetapi, dia adalah seorang peminat bacaan dan ideologi kiri. Jangan coba-coba menguji dia dengan teori Marxis atau sosialis kalau tidak siap atau ilmu anda tanggung di sana. Sebab, bisa-bisa Anda terkurung dan terkesima. Dia sangat fasih menjelaskan logika, cara pikir secara pandang gerakan kiri. Kalau kita ikuti kategori Soe Hok Gie, Rocky tidak diragukan lagi adalah “orang yang berada di kiri jalan”.

Dia juga dekat dengan tokoh-tokoh sosialis. Dia biasa diskusi dengan Marsilam Simanjuntak, Sjahrir, Hariman Serigar, Robert Lawang atau Arif Budiman. Dia juga aktif di Sekolah Ilmu Sosial yang didirikan Dr Sjahrir (alm), sebagai wadah kreasi dan latih pikir kader-kader sosialis di Jakarta.

Pengalaman beberapa kali bersama-sama ambil kuliah dengan dia, saya rasakan dia seorang rendah hati dalam bersikap dan bergaul tetapi terkesan sedikit angkuh dalam berdebat serta mempertahankan pendapat. Pernah dalam sebuah kuliah, dia gigih mempertahankan pendapatnya sehingga dia berdebat dengan dosen kami yang bergelar doktor. Lama-lama dosen itu jengkel atas sikap Rocky. Akhirnya dia nyeletuk: Please Rocky, yang doktor itu lu ape gue? Kami tertawa semua, termasuk Rocky yang tentunya tertawa agak kecut.

Ketika dia muncul di ILC pertama kali, orang menganggap dia hebat serta kaget atas berbagai pendapat Rocky yang bernas dan menantang itu. Saya sendiri tidak kaget lagi karena sudah lama kenal dia. Juga ketika dia berbicara tentang fiksi dan fiktif dalam ILC tgl 11 April lalu. Itulah Rocky. Selalu memasuki serta melontarkan pikiran-pikiran “yang berada di luar zona aman”. Dia seringkali terlena untuk membicarakan “danger zone”. Dia anggap semua orang bisa dan terbiasa berpikir seperti dia. Padahal pemahaman dan pengertian orang itu berbeda-beda, walaupun sama-sama berpendidikan tinggi seperti yang ditunjukkan Akbar Faizal, Aria Bima, dan Dwi Ria Latifah.

Saya pun menduga, ungkapan Rocky itu akan menuai masalah. Benar saja, beberapa orang melaporkannya ke Polda Metro Jaya. Saya tidak heran sebab yang melaporkannya orang itu-itu saja. Ada Permadi Arya (Abu Janda), Guntur Ramli.,Muannas dll. Mereka inilah yang melaporkan Buni Yani dan Jonru sehingga keduanya harus berurusan dengan polisi.

Sebagai orang Islam, saya nilai Rocky tidak melecehkan agama saya. Karena itu saya harapkan kawanku yang pintar tersebu tidak akan diseret ke pengadilan. Orang seperti Rocky itu langka. Jangan kita hancurkan serta mengurung pikirannya yang mencerahkan itu ke dalam rekayasa yang naif dan memperkosa akal!

Salam untukmu, sobatku Rocky.

*Ramadhani Aksyah, Jurnalis Senior

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait