Artikel

Cerdas Melawan Serangan Pasukan Ahokers

Maka ketika mengangkat kinerja itu seperti menggarami air laut, mengubah perilaku Pak Basuki tidak mungkin, maka mereka pindah melakukan hal yang belakangan ini gencar sekali lakukan: Menjatuhkan Mas Anies dan Bang Sandi dengan cara asosiasi.

Oleh: Pandji Pragiwaksono

Kenapa pendukung Paslon 2 seneng banget ngomongin Anies Sandi ya…

Kenapa mereka nggak fokus pada Paslonnya sendiri?

Padahal kalau dipikir pikir, bukan Anies Sandi lho, Petahana yang tingkat populeritasnya sempat 92,6% tapi gagal memenangkan satu putaran karena hanya mampu unggul 3.04%. Tidak sampai 300.000 suara.

Bukan Anies Sandi lho yang gagal meraih suara pemilih muda. Padahal punya dukungan selebritas luar biasa dari Tompi sampai Slank, lihat saja Konser Gue 2 yang dipenuhi para pendukung.

Bukan Anies Sandi lho yang punya jumlah pasukan digital terbanyak

Anak muda paling banyak di mana sih? Socmed kan?

Yang tim digitalnya paling gede siapa sih? Petahana kan?

Kok bisa gagal meraih suara pemilih pemula di putaran pertama?

Kok gagal?

Pendukung sebelah sana selalu menuding agama sebagai alasan Anies Sandi unggul. Karena itu yang mereka yakini, sulit untuk diberi tahu kebenaran yang ditemukan oleh orang yang memang pekerjaannya melakukan riset untuk kampanye politik seperti ini. Bahwa..

data putaran pertama pilkada menunjukkan kecerdasan pemilih Jakarta. Mereka tak membeli isu murahan–suku, agama, antargolongan.

Exit poll Indikator Politik menunjukkan hanya 7 persen pemilih menjadikan agama sebagai alasan mencoblos. Sebanyak 93 persen lainnya memilih karena kecakapan kandidat, kejujuran, program kerja, atau alasan lain.

Mereka tidak bisa percaya itu. Menurut mereka, survey itu tidak mungkin benar. Dengan segala hingar bingar sentimen Agama di social media, pasti alasan utama mereka gagal satu putaran dan hanya unggul tipis dari Anies Sandi adalah, Agama.

Di sinilah mereka gagal untuk memahami permasalahan mereka sendiri. Terlalu sibuk menunjuk kesalahan orang lain, tapi gagal mengangkat kebaikan diri sendiri.

Perhatikan baik-baik berita ini.

Di situ dibahas (sudah dibahas sejak lama bahkan) dan juga disebut sendiri oleh Pak Basuki, bahwa tingkat kepuasan kinerja Pak Basuki sebenarnya tinggi. Tapi tingkat elektabilitas jauh lebih rendah.

Alias suka sama hasil kerjanya tapi ga suka sama orangnya.

[nextpage title=”Cerdas menyikapi”]

Lalu bagaimana cara tim paslon 2 menyikapi ini?

Selama ini kampanye-nya petahana selalu mengenai apa yang sudah dikerjakan. Dari Kalijodo yang diubah jadi RTH, foto foto artis pendukung Petahana di proyek Subway, Sungai yang bersih, dll.

Lah orang orang mah udah tahu soal ini dan memang sudah menyatakan puas dengan kinerja.

Yang bikin mereka tidak memilih seperti yang artikel tadi katakan, adalah gaya kepemimpinannya. Ini yang harusnya jadi fokus kampanye-nya. Ini yang orang harap lihat ada perubahannya.

Lalu kenapa mereka tidak kampanye ke arah sini?

Karena mereka tahu mereka tidak bisa ubah gaya kepemimpinan Pak Basuki.

Dari ucapan beliau terkait Al Maidah, sampai ucapan beliau bahwa memilih berdasarkan agama itu melawan konstitusi, sampai marah marah pergi meninggalkan acara KPUDKI padahal sendirinya entah kenapa tidak menunggu di ruangan yang diberikan KPUDKI, masyarakat berulang ulang melihat dengan mata kepalanya sendiri: Ternyata beliau tidak berubah.

Maka ketika mengangkat kinerja itu seperti menggarami air laut, mengubah perilaku Pak Basuki tidak mungkin, maka mereka pindah melakukan hal yang belakangan ini gencar sekali lakukan: Menjatuhkan Mas Anies dan Bang Sandi dengan cara asosiasi.

Apakah berhasil?

Apakah berhasil mengingatkan publik bahwa Titiek Soeharto, Tommy Soeharto adalah bagian dari klan Cendana? Apakah berhasil mengingatkan pemilih bahwa FPI rapat ke Anies Sandi? Bahwa pendukung Anies Sandi ada yang menggunakan sentimen agama?

Bisa jadi berhasil.

Tapi datang dengan resiko.

Melakukan semua di atas, jatuhnya jadi keliatan kayak menyerang dan marah marah di jejaring sosial.

Anak muda tidak suka itu. Pemilih pemula tidak suka itu.

Sejak awal masa kampanye, saya berpikir di mana kelemahan Goliath bernama Basuki Tjahaja Purnama ini?

Lalu secara tidak sengaja saya nonton film “World War Z”-nya Brad Pitt. Di situ, ada kalimat “Perhatikan baik baik, biasanya justru dibalik kehebatannya (virus yang menyebabkan orang jadi kayak zombie) justru tersimpan kelemahannya.”

Saya baru sadar.

Kehebatan tim Paslon 2, adalah jumlah pasukan digital yang luar biasa. Tapi justru disitulah, letak kelemahannya. Saking banyaknya jadi cenderung mem-bully. Saking banyaknya jadi susah diatur.

Sejak itu, saya berhenti berargumen dengan buzzer buzzer paslon 2. Membiarkan mereka beringas. Membiarkan mereka mengamuk. Membiarkan mereka secara tidak sadar menampilkan, apa yang ternyata merupakan kelemahannya.

Di mana fokus saya dan teman teman digital paslon 3?

Kampanye gagasan dan program, serta menggaet suara pemilih pemula.

Seperti yang saya jelaskan di sini

Kenapa? Karena kami percaya diri dengan paslon kami sendiri, sehingga kami sudah terlalu sibuk membahas dan beradu program serta kompetensi kami untuk bahkan membahas yang lain.

Misalnya membahas program OKOCE atau DP 0 atau bahkan mengenai KJP+ dan KJS+

Harapannya, dengan paslon 2 terus membicarakan kami, mereka jadi tidak membahas paslon mereka sendiri. Sementara pemilih terus membaca mengenai gagasan gagasan kami. Termasuk yang ikut diramaikan di social media oleh pendukung paslon 2 hehehe.

Jadi, kepada pendukung paslon 2 yang membaca ini, sisa masa kampanye putaran 2 ini mungkin sebaiknya berhenti ngomongin paslon lain seakan akan dari paslon sendiri tidak ada yang bisa diomongin.

Kecuali, saking bingungnya mau angkat apa tentang paslonnya sendiri, hanya itu yang anda pilih sebagai sebuah strategi.

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up