Artikel

Buah Puasa Ramadhan: Silaturahim sebagai Intagible Asset

Oleh: Jusman Syafii Djamal*

Senin pagi, (3/7/2017) jam 11.30 saya menemani Rachmat Gobel berhalal bil halal dengan karyawan Panasonic Gobel Grup. Kita berkumpul bersama 1000 orang karyawan, dari cleaning service, karyawan biasa, supervisor hingga jajaran manajemen dan direksi anak perusahaan dan induknya. Sebelumnya Rachmat Gobel dan adiknya Abdullah Gobel bersalaman dengan 3000 karyawan di kompleks Panasonic Manufacturing Indonesia di jalan Raya Bogor.

Sebuah kompleks industri tua yang didirikan oleh almarhum ayahnya Dr. Thayeb Mohammad Gobel bersama Konnosuke Matsushita tahun 1980-an.

Tiap tahun kami memiliki rutinitas yang sama. Ketika hari pertama masuk ke kantor kita menunggu di depan pintu untuk bersalaman dengan karyawan dan kemudian bersilaturahim untuk membangkitkan kembali energi puasa menjadi energi pembangkit produktivitas di masa yang akan datang.

Sebuah tradisi yang dijaga oleh Rachmat Gobel sejak lebih 25 tahun, ketika di usia 26 tahun ayah beliau wafat lalu beliau menggantikan peran ayah sebagai owner joint venture tersebut. Ia berusaha merawat perusahaan joint venture Indonesia Jepang, yang termasuk klasifikasi joint venture tertua di Indonesia.

Sebuah Joint Venture yang telah melewati pelbagai krisis politik ekonomi di Indonesia. Krisis politik 1965 ketika Presiden Sukarno diganti Presiden Suharto. Krisis ekonomi ketika dollar merambat naik dari 475 rupiah menjadi 2000 rupiah ketika Pacto 1988, Krisis ekonomi Asia yang diikuti krisis politik ketika rupiah dari 2000 manjadi 17000 ribu per dollar nya tahun 1997/1998 dan Krisis Finansial Global tahun 2008.

Sebuah joint venture Japans-Indonesia yang bertahan karena ada trust satu sama lain.

Perusahaan joint venture ini diawali dengan kerjasama technical assistance tahun 1962, ketika Thayeb Mohammad Gobel mendapatkan “order” dari Bung Karno untuk merakit TV Hitam putih pertama di Indonesia, agar pada Asian Games, rakyat Indonesia dapat menyaksikan secara live Pidato Bung Karno dan juga prestasi para atlit Indonesia yang bertanding dalam Asian Games.

Dengan kata lain peristiwa di pagi hari yang saya alami bersama Rachmat Gobel ini, sudah berlangsung sejak saya kenal beliau tahun 2005 ketika saya baru saja pensiun dini dari PT Dirgantara Indonesia, dan direkrut beliau untuk menjadi salah seorang “advisor nya” dan menjadi Chairman Yayasan Matsushita Gobel.

Yayasan yang bergerak dalam bidang pelatihan manusia bersumber daya Iptek Panasonic Gobel Grup. Sebuah yayasan yang bertugas untuk memberikan pelatihan tentang tata cara kerja atau Japan way of doing business melalui pemahaman konsep Kaizen, Monozukuri, Gemba Gaibatsu untuk peningkatan produktivitas. Serta model interaksi kerjasama pemimpin perusahaan dan karyawan model Industri Pancasila yang dikembangkan oleh Thayeb Mohammad Gobel, sejak tahun 1970-an.

Tradisi bersalaman di hari pertama masuk kerja setelah lebaran sebetulnya bukan hanya terjadi di perusahaan Panasonic Gobel Grup såja, dulu juga tahun 1982 hingga 2003 ketika saya bekerja di IPTN, Pak Habibie juga melakukan “tradisi” yang sama. Merengkuh kebersamaan dengan bersilaturahim saling maaf memaafkan antar tetangga di ruang kerja. Bersalaman dengan kurang lebih 16000 karyawan di pintu gerbang gedung pusat management, ketika itu.

Sebuah tradisi yang awalnya muncul dari kampung kampung ketika kecil. Baik di Aceh, Medan, Padang hingga Jakarta, Makasar dan Papua. Semua tetangga bertemu di hari lebaran saling bersilaturahim. Dengan kata lain tradisi kampung itu kemudian merambat secara kultural mejadi tradisi di semua kantor baik pemerintah maupun swasta pasti juga memiliki tradisi bersilaturahim di antara karyawan dan para manajer serta direksinya.

Acara ini tentu tanpa pidato atau tanpa “ular ular” kata orang Medan. Tak banyak petuah. Hanya bersalaman dan tersenyum serta berujar Selamat Hari Raya, Mohon Maaf Lahir dan bathin, setelah itu makan basamo.

Inilah buah puasa Ramadhan yang bersifat intangible, tak kasat mata. Menyambung tali silaturahim yang mungkin terputus dan mengalami “korsluiting” karena tekanan beban kerja atau sebab sebab lainnya. Hal seperti ini juga yang menyebabkan ada kurang lebih 29 juta orang melakukan “tradisi mudik” dari tempat mereka mencari makan, pulang ke kampung mengejar beduk dan azan shalat ‘Ied di lapangan terbuka bersama tetangganya di masa lalu. Sebuah tradisi untuk membangkitkan kembali “energi” atau proses energizing untuk menghadapi masa depan yang tak lagi mudah.

Beruntung juga kini jajaran Kementerian PUPR telah berhasil membangun jalan tol hingga Brebes, Batang dan Pemalang serta tambahan 4 flyover yang membuat lintasan sebidang di Prupuk, Bumiayu dan Tegal tak lagi jadi “bottleneck” penyebab kemacetan luar biasa. Kita harus berterimakasih pada jajaran Kementerian Perhubungan, Kementerian PU, dan Kepolisian Republik Indonesia yang membuat mudik tahun ini jauh lebih baik dari tahun tahun sebelumnya. Alhamdulillah.

Jika tradisi mudik ini dapat kita pertahankan kenyamanannya dan pergerakan 29 juta manusia, 5 juta mobil pribadi, 3 juta motor, 96 frekwensi kereta api tiap hari untuk mengangkut 3 juta penumpang, lalu lintas penyebrangan Bangkahuni-Merak, Ketapang-Gilimanuk. Pergerakan 525 pesawat terbang tiap jam untuk tiap rute ini semua dapat dikelola dengan baik seperti tahun ini atau jauh lebih baik lagi di tahun mendatang, Insya Allah pertumbuhan ekonomi Indonesia akan diikuti oleh pemerataan.

Seperti kata Bank Indonesia di kala lebaran uang beredar meningkat menjadi 127 Triliun rupiah. Sebuah kekuatan pembangkit ekonomi yang tidak dapat dipandang enteng. Dan itulah buah Ramadhan yang dinikmati oleh kita semua. Insya Allah.

Karena itu tradisi bersalam-salaman di awal masuk kantor dan di hari pertama Lebaran ‘Iedul Fitri merupakan kekayaan kultural bangsa Indonesia yang tak dimiliki oleh umat Muslim dari belahan lain di dunia.

Bagi saya tradisi khas Indonesia inilah, merupakan salah satu tradisi kultural yang membuat kata Bhineka Tunggal Ika itu memiliki makna dan mewujud dalam realitas sehari hari. Dalam perbedaan ada keindahan.

Mohon Maaf Jika Keliru. Salam

 

*) Pakar Teknik Aeronautika, Komisaris Utama Garuda Indonesia

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up