Artikel

Berjumpa Ramadhan, Tetapi Celaka

Oleh: Sabrur R Soenardi*)

Malaikat adalah makhluk dengan julukan muqarrabûn, dari kata qaruba-yaqrabu, yang berarti dekat. Al-muqarrab berarti “yang didekatkan”. Dijuluki demikian, karena status malaikat sebagai kalangan yang dekat dengan Allah. Al-Muqarrabûn, maksudnya al-muqarrabûn ilâ Allâh, dekat atau didekatkan dengan Allah.

Dengan kedudukannya yang istimewa seperti itu, dekat dengan Allah, sudah bisa dipastikan bahwa jika malaikat berdoa maka sangat besar kemungkinan doanya terkabul, karena langsung terhubung dengan Allah, sang Mujîb al-Sâ’ilîn, tanpa perantara (wasîlah) sama sekali. Apalagi jika malaikat yang dimaksud itu adalah Jibril, penghulu para malaikat, karena posisinya sebagai jubir Allah SWT.

Sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah manusia biasa, meski tidak sebagaimana manusia pada galibnya, basyarun lâ kal-basyar. Walaupun secara fisik-lahiriah Muhammad adalah manusia lumrah, namun secara ruhiah-spiritual tarafnya bahkan melampaui Jibril. Sebagai bukti atas hal ini adalah peristiwa Mikraj, di mana Nabi SAW langsung bisa ber-muwajahah, bertatap muka langsung dengan Allah SWT tanpa perantara, hal yang tidak bisa dilakukan oleh Jibril. Ini karena kedudukan Nabi SAW sebagai al-Mushthafa, yang terpilih.

Sekarang, bisa dibayangkan jika keduanya: Jibril dan Muhammad bersama-sama dalam sebuah munajat kepada Allah, yang satu berdoa dan yang satunya mengaminkan. Kemungkinan, atau malah kepastiannya, hanya satu: Allah mengabulkannya tanpa syarat. Pernahkah itu terjadi? Pernah suatu kali, seperti dikabarkan dalam sebuah hadits.

Dikabarkan bahwa suatu kali di atas mimbar Nabi tiba-tiba mengucap amin tiga kali. Lalu sahabat bertanya, ada apa? Nabi menjawab bahwa Jibril berdoa atas tiga hal, sedangkan Nabi SAW mengaminkan ketiga-tiganya. Doa Jibril atas tiga hal itu adalah: “Celakalah orang yang diberi kesempatan berjumpa dengan Ramadhan, tetapi ia tidak menggunakannya untuk beribadah sebaik mungkin. Celakalah orang yang didengarkan padanya nama Muhammad, tetapi ia tidak menggerakkan bibirnya untuk bersalawat. Celakalah orang yang diberi kesempatan hidup bersama kedua orangtuanya, tetapi tidak menggunakannya untuk berbakti dengan sebaik-baiknya kepada mereka.” (Hadis Abu Hurairah, diriwayatkan Ibnu Hibban di dalam kitab Shahih-nya, 3:188).

Maka, mari kita berharap dan berdoa, serta berusaha dengan sebaik mungkin, agar tidak masuk dalam golongan orang-orang yang celaka sebagaimana doa Jibril di atas, apalagi Nabi yang mengaminkannya. Kita bersyukur diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan lagi tahun ini, karena banyak saudara-saudara kita yang tidak diberi hal itu. Sebabnya, terutama, karena mereka mendahului kita menghadap-Nya. Ramadhan adalah tamu dengan sambutan khusus, yakni “marhaban”, yang menandakan bahwa ia tamu spesial yang sudah jelas ciri dan karakternya, sudah jelas pula kapan kedatangannya, dengan maksud dan tujuan apa kedatangannya. Ya, ia adalah tamu agung yang bertambat segala karunia tertinggi dan terindah dari Allah, bulan penuh berkah, penuh rahmah (kasih-sayang), dan penuh maghfirah (ampunan) dari-Nya. Bagi siapa? Tentu saja bagi yang memberikan “sambutan” dan “pelayanan” khusus dan terbaik atas kehadiran sang tamu agung itu, yakni dengan beribadah sebaik dan sebanyak mungkin: puasa, tadarus, sedekah, zikir, iktikaf, dlsb. Bahkan, bagi yang beruntung dan memenuhi syarat tertentu, Ramadan akan memberi bonus Lailatul Qadar untuknya.

Semuanya kembali kepada kita sendiri, apakah akan masuk barisan mereka yang beruntung, yakni yang bisa memanfaatkan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya, atau sebaliknya: orang yang celaka. Yang celaka, maksudnya orang-orang yang telah membuat Ramadhan kecewa, karena sebagai tamu ia hanya disambut dan dilayani sekadarnya saja, tidak ada perlakuan khusus, dianggap layaknya tamu-tamu (baca: bulan-bulan) lain pada galibnya. Bahkan, ada yang memberi “pelayanan” dengan malas-malas dan hati dongkol, nggrundel, kurang ikhlas, sembari berpikir bahwa datangnya Ramadan ini justru membuat kinerjanya menurun, mengurangi jam tidur, dan seabrek alasan lain. Semoga kita dilindungi dan dikuatkan oleh Allah dari hal-hal sedemikian. Amien. Wallahu a’lam.

 

*) Penulis adalah pengajar STPI Binan Insan Mulia Yogyakarta & PP Al-Hikmah Gunungkidul, eksponen Pelajar Islam Indonesia wilayah Yogyakarta Besar.

 

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: