ArtikelFeatured

Bagaimana Pendekatan Non Empiris Mengatasi Covid-19

Oleh: dr. Fuad Amsyari, Ph.D

Pendekatan Empiris atau Syahadah untuk mengatasi covid-19 sudah dikembangkan oleh seluruh dunia karena covid-19 menjadi pandemi. WHO sebagai badan kesehatan PBB langsung ambil peran pengarahan & koordinasi. Maka berkembanglah kiat kiat seperti social distancing, lock-down, pencarian obat modern- tradisional, menemukan vaksinnya, peningkatan imunitas non-spesifik, personal hygiene, dll. Upaya upaya seperti itu tentu akan terus diproses, namun bagaimana upaya upaya yang bernilai Non-Empiris yang didalam agama Islam disebut sebagai pendekatan Ghoib atau Mahdhah?

Memang telah ada aktifitas seperti pembatalan Shalat Jumat, bahkan meniadakan shalat berjamaah di mesjid. Benarkah itu tergolong pendekatan non-empiris atau hanya implikasi dari upaya empiris terkait sosial distancing? Sepinya atau terhentinya orang thawaf di Mesjidil Haram Mekah juga jelas merupakan dampak internasional dari upaya empiris oleh lock-down negara Arab Saudi. Maka bagaimsna sebenarnya bentuk pendekatan Non-Empiris atau Ghoib untuk mengatasi pandemi covid-19 itu dari pandangan ajaran Islam?

Makna operasional Pendekatan ghoib atau non-empiris itu adalah upaya upaya untuk menjadikan manusia mendapat perlindungan ghoib atau non-empiris dari Allah SWT karena kedekatan manusia pada-Nya. Kedekatan itu tentu tidak bisa diukur secara empiris namun dapat diketahui dari adanya keberuntungan keberuntungan irrasional yang didapat manusia terkait masalah yang dihadapinya di dunia. Sebagai contoh misalnya bahwa seseorang atau sekelompok orang ternyata terhindar dari terinfeksi covid-19 walau upaya upaya empirisnya biasa biasa saja seperti kebanyakan orang, atau ternyata sembuh dari serangan berat covid-19 walau tanpa pengobatan istimewa. Pada sisi lain juga perlu dicatat bahwa pada upaya non-empiris atau ghoib itu umumnya sulit dinilai adanya bentuk hubungan sebab-akibat antara upaya tersebut dengan proses empiris dari masalahnya, yang dalam dunia kedokteran sering disebut sebagai “biological plausibility”, yakni mekanisme pathofisiologinya. Katakanlah tidak bisa diterangkannya bagaimana dengan berdoa maka suatu kanker stadium 4 ternyata sembuh tanpa upaya radiasi maupun sitostatika. Maka kini perlu difikirkan bagaimana mengembangkan Pendekatan Non-empiris atau Ghoib itu untuk bisa mengatasi pandemi covid-19.

Jika ditinjau dari prinsip prinsip dasar yang diajarkan Islam maka ada satu mekanisme yang bisa membuat hadirnya pertolongan Allah SWT secara ghoib itu, yaitu KUATNYA KECINTAAN ALLAH pada manusia tersebut. Kualitas kecintaan itu dalam al Qur’an disebut dalam surat Ali Imran ayat 31 yang artinya “Katakanlah (Muhammad) jika kalian ingin dicintai Allah maka taatilah aku (caraku berislam) tentu Allah akan mencintaimu dan mengampuni kesalahanmu”. Dari dasar inilah sesungguhnya manusia bisa mendapat berbagai pertolongan ghoib dari Allah untuk mengatasi masalah dalam kehidupannya, sebagai pribadi, keluarga, maupun tatanan sosialnya yang plural. Apakah dengan shalat tahajud atau qunut nazilah bisa mendapat pertolongan ghoib itu? Sepertinya tidak semudah itu karena berislamnya Nabi SAW tidak sekedar beritual bukan? Nabi SAW itu jelas berahlaq mulia, amal sosialnya luar biasa, berpolitik membangun kekuatan politik Islam Hizbullah sehingga memenangkan persaingan menjadikan Islam memimpin dunia pluralnya, membuat kebijakan publik poleksodbudkumhankan berbasis al Qur’an, berperang jika diperangi musuh, membela umat Islsm & agama Islam jika dihinakan orang. Itulah cara berislamnya Nabi selain beliau shalat dan beritual lain. Maka jika umat Islam ingin mendapat pertolongan ghoib Allah SWT mengatasi pandemi covid-19 maka di manapun berada, berperan sebagai apapun: rakyat biasa, intelektual, ulama, pejabat pemerintah dll harus BERISLAM SEPERTI BERISLAMNYA NABI sesuai kapasitas & kemampuan masing masingnya. (Sudono Syueb/ed)

Surabaya, 24 maret 2020

Selanjutnya

Artikel Terkait