Artikel

Awal Ramadhan: Dari Bom, Bedug Sampai Natsir

Oleh: Lukman Hakiem*)

INSYA ALLAH, Sabtu 27 Mei 2017 umat Islam akan memulai ibadah puasa Ramadhan 1438 Hijriah. Alhamdulillah, tahun ini, tidak ada perbedaan di antara penganut rukyat dengan penganut hisab.

Di masa kini, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, jauh-jauh hari kita sudah mendapat kabar bahwa tanggal 1 Ramadhan akan jatuh bertepatan dengan tanggal sekian bulan anu tahun Miladiah. Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis) malah sudah mengeluarkan maklumat bukan hanya mengenai 1 Ramadhan dan 1 Syawal, tapi juga 1 Dzulhijjah dan 10 Dzulhijjah tahun ini.

Dengan maklumat yang sudah diumumkan jauh-jauh hari, sesungguhnya Sidang Itsbat yang biasa dilaksanakan oleh Kementerian Agama, tinggal formalitas saja, karena masing-masing ormas Islam sudah punya perhitungan sendiri yang tidak bisa digoyahkan.

Comite Bom
Jika sekarang yang berwenang secara resmi mengumumkan jatuhnya awal dan akhir Ramadhan ialah Kementerian Agama, di masa penjajahan Belanda kewenangan itu berada di tangan Hoofd Penghoeloe tiap-tiap daerah.

Untuk memudahkan pelaksanaan tugas di masa itu, para Hoofd Penghoeloe melakukan koordinasi. Mereka membentuk Perhimpoenan Penghoelo dan Pegawainya (PPDP) lengkap dengan pengurus besar yang disebut Hoofdbestuur.

Eksistensi Hoofdbestuur PPDO dapat dilihat di Berita Nahdlatoel Oelama 26 Sya’ban 1356/1 November 1937 yang memuat pengumuman mengenai “Auwal Ramadlan 1356” sebagai berikut:

Dari Hoofdbestuur Perhimpoenan Penghoeloe dan Pegawainya (PPDP) kami terima ma’loemat dalam mana diterangkan bahwa soedah diterima report dari Hoofd-Penghoeloe Boitenzorg dan Tasikmalaja bahwa di Bogor ada tiga orang saksi ro’jah dan di Tasikmalaja ada dua orang saksi ro’jah jg bersama2 melihat tanggal satoenja boelan Sja’ban pada hari Rebo 5/6 October ’37, maka oleh karena Java dan Madoera itoe satoe mathla’, maka PPDP menetapkan bahwa:

a. Awal Sja’ban pada hari Rebo 6 October ’37.
b. Moelai poeasa (dengan menjempoernakan Sja’ban 30 hari) djatoeh hari Djoemah 5 November 37 (djadi kalau malam Chemis roe’jah maka permoelaan poeasa djatoeh hari Chemis 4 November –Red. B. N. O)
c. Dan hari raja Idulfithri djatoeh hari Achad 5 Desember 1937 tetapi djikalau roe’jah malam Sabtoe maka hari raja djatoeh hari Sabtoe. Sekianlah jg perloe kami koetib.

Tentu tidak semua kaum Muslimin di masa itu membaca Berita Nahdlatoel Oelama. Radio masih merupakan barang mewah, televisi belum ada. Bagaimana cara umat mengetahui pengumuman resmi para penghulu itu?

Para pemangku kepentingan umat menyampaikan pengumuman penting itu melalui sebuah tanda. Di Jember, Jawa Timur, pengumuman itu disampaikan melalui alat tradisional yang mengeluarkan suara keras seperti suara bom. Suara bom juga menjadi isyarat masuknya waktu berbuka puasa.

Ikhtiar itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, tidak secara sambil lalu. Tugas dan tanggung jawab membunyikan bom tidak diserahkan kepada orang perorang, melainkan kepada suatu comite atau panitia. Tentu agar jangan sembarangan membunyikan bom.

Kesungguhan itu dapat kita baca di Berita Nadlatoel Oelama edisi Puasa (Poeasa Nummer) sebagai berikut, “Tjab. N. O. Djember melangsoengkan rapat pengoeroes oentoek pemasangan bom dalam boelan poeasa, dipoetoeskan itoe oeroesan diserahkan dalam tangannya Sdr. Abdussamad Kebon, K. H. Dzofir dan Sdr. M. Ismail Soemowondijo.

Penghoeloe van Batavia
Lain di Jember, lain pula di Betawi. Dalam bulan Ramadhan yang memegang peranan penting bagi kehidupan beragama orang-orang kampung di kota yang sekarang bernama Betawi adalah bedug. Bunyi bedug adalah isyarat bagi kaum Muslimin di kampung, bahwa bulan Ramadhan sudah masuk.

Bunyi bedug yang diperdengarkan di waktu yang pas, menjadi tanda saatnya berbuka puasa, atau telah tibanya waktu imsak. Jika telah berpuasa selama 29 hari, umat akan menunggu suara bedug dengan harap-harap cemas: apakah esok sudah boleh berlebaran atau masih harus menggenapkan puasa menjadi 30 hari.

Kadang-kadang isyarat bedug itu datang terlambat. Lama sesudah shalat Isya dan tarawih selesai ditunaikan, ketika dapur sudah gelap, dan jamaah di kampung sudah bersiap-siap untuk tidur, tiba-tiba bedug berbunyi memberitahukan bahwa besok tiba hari lebaran.

Kampung yang hampir lelap, kembali terbangun. Warung Cina di tengah kampung, dibuka kembali untuk melayani orang-orang yang masih perlu berbelanja. Dan Engko atau Encim pemilik warung melayani konsumen dengan berbahagia. Maklum, malam itu pendapatan warungnya bertambah.

Dengan agak menggerutu, tetapi tetap bahagia, kaum ibu turun ke dapur mempersiapkan ketupat dan segala lauk pauknya untuk lebaran besok. Sedangkan kaum lelaki menggemakan takbir di masjid dan mushalla, ditingkahi suara bedug, semalam suntuk.

Jika malam itu bedug tidak berbunyi, warga kampung akan tetap terlelap hingga datang waktu sahur. Besok mereka akan berpuasa lagi, dan menyiapkan penganan lebaran tanpa tergesa-gesa. Begitulah orang kampung di Betawi menetapkan awal dan akhir Ramadhan di masa lalu. Tentu saja bedug awal dan akhir Ramadhan itu hanya mungkin dibunyikan atas perintah de Hoofd Penghoeloe van Batavia.

Berpindah Haluan
Pada tahun 1950-an, Mr. Mohamad Roem tinggal di Jl. Merdeka Barat, Jakarta. Sebagai orang yang sejak tahun 1920-an tinggal dari kampung ke kampung Betawi, Roem merasakan betul perubahan suasana. Bedug yang biasa dia dengar, kini tidak ada lagi. Tetangga sebelah kiri rumahnya adalah Komisaris Agung Kerajaan Belanda yang tentu saja tidak bisa diajak ngobrol urusan puasa Ramadhan. Sebelah kanan rumahnya, kantor Partai Sosialis Indonesia (PSI). Dengan kawan-kawan PSI itu Roem cuma bisa bicara soal-soal politik.

Dekat menjelang Ramadhan, Roem makin merasakan suasana yang berbeda dengan suasana di kampung Betawi tahun 1930-an. Dia mulai bertanya-tanya, kapan masuk bulan Ramadhan. Untuk menghilangkan rasa penasaran, Roem menelepon Mohammad Natsir. Kepada sahabatnya itu dia bertanya, kapan mulai puasa. Dari ujung telepon, Natsir menjawab singkat: “Dua hari lagi.”

Roem memberitahukan hasil pembicaraannya dengan Natsir kepada istrinya, Markisah Dahlia yang oleh Roem dipanggil dengan sapaan mesra, “Dal.”

Maka terjadilah percakapan sebagai berikut:

“Lusa kita mulai puasa,” kata Roem.
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Dal.
“Barusan saya telepon Natsir,” jawab Roem.
Sambil tersenyum, Dal berkata: “Dari bedug sampai ke Natsir. Sayang tidak dua puluh tahun yang lalu kamu menelepon Natsir.”
“Mengapa komentarmu seperti itu?” Roem penasaran.
“Supaya saya tidak perlu lagi bikin ketupat dengan mendadak,” jawab Dal.

Sejak itu, Roem berpindah haluan dari pengikut rukyat menjadi pengikut hisab. “Tapi saya tidak merasa murtad,” tulisnya di harian Indonesia Raya edisi Idul Fitri 1391.

*)Peminat Sejarah

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close
Scroll Up