ArtikelFeatured

Argo : Propaganda dan Politik Luar Negeri Ala Amerika

Rangkuman

  • Argo adalah nama skenario film palsu yang dipakai untuk mengelabui Iran. Skenario ini berhasil karena Mendez bisa meyakinkan atasannya bahwa dia sudah mempunyai orang Hollywood yang sebelumnya sudah bekerjasama dengan CIA membuat film. Keterangan Mendez dalam film ini seolah meneguhkan pendapat banyak kalangan, bahwa militer AS pada dasarnya sudah bekerjasama dengan Hollywood untuk melakukan propaganda kehebatannya.

Oleh : Delianur

Pastinya untuk mengetahui politik luar negeri Amerika, mesti ada penelusuran sejak AS berdiri. Namun bagaimanapun juga Perang Dunia II (PD II) adalah titik penting pola Amerika dalam membangun hubungan luar negerinya. Sebagaimana PD II adalah titik penting dinamika dunia global, PD II juga adalah titik penting bagi eksistensi Amerika di mata dunia.

Ketika negara industri pesaing lemah atau hancur karena perang, AS justru dalam posisi kuat. AS adalah negeri yang nyaris tidak mendapat serangan perang dan produksi nasional naik 3 kali lipat lebih. Bila sebelum perang AS sudah menjadi negara industri maju, maka usai perang tentunya makin besar. Pada kondisi inilah kebijakan luar negeri AS untuk menjaga dominasi disusun dan dilaksanakan. Hal ini bisa ditelusuri dan dipelajari karena AS dasarnya adalah negara terbuka.

Hal ini diantaranya bisa dilihat pada Policy Planning Study 23 (PPS 23) yang ditulis George Kennan. Kepala Staff Perencanaan Departemen Luar Negeri yang dikenal cerdas, lugas dan tokoh utama pembentukan tatanan dunia pascaperang. Dalam PPS 23 yang ditulis tahun 1948 disebutkan

“Kita menguasai sekitar 50% kekayaan dunia, tetapi hanya 6,3% dari total populasi…. Dalam situasi seperti ini, tidak bisa tidak, kita menjadi objek dari rasa cemburu dan benci. Tugas nyata kita pada periode mendatang adalah untuk merencanakan pola-pola hubungan yang akan memperkenankan kita mempertahankan disparitas ini… Untuk melakukannya, kita harus membuang sentimen dan khalayan; perhatian kita harus dikonsentrasikan sepenuhnya pada sasaran-sasaran nasional yang mendesak… Kita harus berbicara hal yang kabur dan….tujuan-tujuan samar seperti hak asasi manusia, peningkatan standar kehidupan, dan demokratisasi….”.

Penerapan kebijakan ini tercermin dari sikap AS pada Demokrasi. Bagi AS, ancaman utama dunia baru dibawah AS adalah nasionalisme Dunia Ketiga. Sebuah pemerintahan yang sebetulnya ingin meningkatkan standar hidup masyarakat yang rendah dan produksi untuk kebutuhan domestik. Namun karena bertentangan dengan AS, maka mesti diintervensi dan dilabeli “ultranationalism”. Bila pemerintahan seperti ini sudah berkuasa, mesti digulingkan dan dibentuk pemerintah baru yang mendukung investasi swasta dari dalam dan luar negeri, produksi demi ekspor dan hak membawa keuntungan ke luar negeri.

AS akan konsisten menentang demokrasi bila hasilnya tidak dapat dikontrol dan merugikan investor AS. Menurut Royal Institute of International Affairs di London, ketika di permukaan AS berperan dalam demokrasi, komitmen mereka sesungguhnya pada “perusahaan kapitalis dan swasta”. Ketika hak investor terancam, maka demokrasi akan dienyahkan. Sebaliknya, selama hak investor dilindungi, maka para pembunuh dan penyiksa pun akan aman. Hal ini bisa dilihat dari beberapa pemerintahan dunia yang dihambat atau digulingkan dengan dukungan atau intervensi langsung Amerika. Seperti Iran 1953, Guetamala 1954 dan 1963, Dominika 1963 dan 1965, Brasil 1964, Cili 1973.

Paparan diatas, akan kita temukan di bab awal buku “How the World Works” karya Noam Chomsky. Buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul sama. Menurut Arthur Naiman, editor buku ini, Chomsky adalah penulis yang banyak dikutip setelah Marx, Lenin, Shakespeare, Aristoteles, Injil, Plato dan Freud. Pengajar filsafat dan linguistik di MIT sejak tahun 1995 dan menjadi Professor penuh di umur 32 tahun. Chomsky banyak menulis perihal isu-isu politik dan telah menerima 37 gelar penghormatan karena karya-karyanya. Bila film Captain Fantastic adalah visualisasi sebuah keluarga Amerika yang sangat fanatik Chomsky dan menerapkan pemikiran Chomsky dalam kehidupan keluarganya, maka kita bisa menonton film dokumentar berjudul “Manufacturing Consent” yang berisi gagasan Chomsky yang ditonton banyak kalangan.

Namun, bila kita menonton Argo (2012), film berdasar kisah nyata yang disutradarai dan dibintangi Ben Afflect ini, maka kita akan mengingat pada paparan Chomsky pada bukunya diatas. Secara umum, film ini mengisahkan aksi Tony Mendez, Agent CIA, dalam menyelamatkan diplomat Amerika di Iran ketika hubungan kedua negara memanas. Namun apa yang diungkap Argo mempunyai kaitan dengan temuan Chomsky.

Sekitar dua menit awal, disebutkan tentang Iran sebagai kelanjutan Kekaisaran Persia yang dipimpin seorang Shah. Tahun 1950, rakyat Iran telah memilih Mohammad Mosadegh sebagai Perdana Menteri dengan cara demokratis. Mosadegh lalu membuat kebijakan yang sangat merugikan Amerika dan Inggris, yaitu menasionalisasi minyak Inggris dan AS dan mengembalikannya ke warga Iran. Demokrasi di Iran, tidak bisa dikontrol AS karena merugikan investor. Tiga tahun kemudian, AS dan Inggris merencanakan kudeta terhadap Mosadegh. Setelah berhasil, AS menunjuk Reza Pahlavi sebagai Shah dan mengendalikan Iran secara keseluruhan.

Shah Iran baru ini dikenal suka berpoya-poya, Istrinya suka mandi susu, dan makan siang nya dibawa dari Paris dengan pesawat Concorde. Pesawat Jet terbaik dan tercepat dari Prancis pada masanya. Padahal rakyatnya kelaparan. Shah menggunakan Savak, polisi kejam, untuk mempertahankan kekuasaannya dengan cara meneror, menyiksa juga membunuh rakyatnya. Shah juga melakukan westernisasi Iran hingga membuat marah penduduknya yang mayoritas Syiah tradisional. Sampai akhirnya rakyat menggulingkan Shah pada tahun 1979 dengan dipimpin pemimpin kharismatik Ayatollah Khomeini.

Shah jatuh, kemudin sakit kanker. Setelah kanker, Shah diberi suaka di AS. Masyarakat Iran pun turun ke jalan berdemonstrasi di depan Kedutaan AS menuntut dikembalikannya Shah untuk diadili. Dari sini lah kisah film ini dimulai.

Selain itu ada hal yang menarik lain bila kita menonton Argo. Dalam banyak hal, menonton Argo tidak jauh berbeda dengan menonton film fiksi lama Rambo. Rambo adalah visualisasi kehebatan prajurit AS di Vietnam. Digambarkan bahwa Rambo yang seorang diri, bisa menghancurkan banyak prajurit Vietnam. Padahal semua mafhum bahwa Amerika itu kalah perang di Vietnam. Begitu juga dengan Argo. Film ini bukan hanya menggambarkan kehebatan operasi intelijen AS di Iran, tetapi menamakan operasi tersebut sebagai operasi kemanusiaan untuk menghadapi orang Iran yang barbar. Padahal intelijen AS sebetulnya telah melakukan tindakan kotor di negeri itu. Kebijakan luar negeri AS atas Iran, telah melahirkan kesengsaraan rakyat Iran.

Namun kenapa gambaran seperti itu muncul, hal ini bisa temukan dari nama film ini sendiri. Argo adalah nama skenario film palsu yang dipakai untuk mengelabui Iran. Skenario ini berhasil karena Mendez bisa meyakinkan atasannya bahwa dia sudah mempunyai orang Hollywood yang sebelumnya sudah bekerjasama dengan CIA membuat film. Keterangan Mendez dalam film ini seolah meneguhkan pendapat banyak kalangan, bahwa militer AS pada dasarnya sudah bekerjasama dengan Hollywood untuk melakukan propaganda kehebatannya.

Mengutip artikel David Robb pada majalah Brill’s Content (Fall 2001) berjudul “Hollywood Wars” Ignatius Haryanto dalam bukunya “Aku Selebriti Maka Aku Penting” memaparkan tentang kerjasama CIA dan Hollywood. Menurut Robb, para pembuat film Amerika yang menginginkan film perang yang mereka buat kelihatan tampak meyakinkan, harus mengadakan kerjasama dengan Pentagon. Tujuannya tak lain agar mereka mendapat bantuan berupa penyediaan berbagai peralatan perang serta sarana penunjangnya seperti tank, pesawat tempur hingga kapal selam nuklir. Syaratnya cuma satu, pasukan Amerika harus tampak heroik dan selalu menang. Bila pembuat film bersedia, mereka akan mendapatkan berbagai perlengkapan militer dengan harga hampir gratis. Bila menolak, maka mereka harus menyewanya. Seperti menyewa F-15 yang harganya mencapai 10.000 dollar US/Jam. Tentunya itu adalah harga sekitar 20 tahun yang lalu. Pentagon sangat menyadari bahwa Film adalah bagian dari sebuah propaganda.

Karenanya menurut Robb, bila dikaitkan dengan Pentagon, maka ada dua kategori film perang yang ada di Amerika. Film yang direstui Pentagon, dan film yang tidak direstui Pentagon. Diantara film yang direstui Pentagon adalah Air Force One, The American President, Armageddon, Pearl Harbour, A Few Good Men, The Killing Field, A Time to Kill, Tomorrow Never Dies dan Top Gun.

Sementara diantara film yang tidak direstui adalah, Born on the Fourth of July karena didalamnya ada kampanye anti perang Vietnam. Hal ini bertentangan dengan kebijakan AS juga dianggap bertentangan dengan semangat patriotisme. Film Apocalypse Now, karena dalam film ada adegan seorang tentara diperintah membunuh tentara lainnya. Film Crimson Tide karena dalam film yang dibintangi Steven Seagal ini, disebutkan tentang adanya pembangkangan oleh Angkatan Laut Amerika. Film lain adalah Forest Gump, karena Tom Hanks dalam film ini sedang menggambarkan tentara Amerika dengan kecerdasan rendah juga adanya yang merendahkan martabat Presiden Amerika Lyndon Johnson. Lainnya adalah Platoon, Saving Private Ryan juga Die Hard 2.

Belum ada informasi apakah Argo termasuk film yang direstui Pentagon atau bukan. Karena Robb menulis artikel nya setahun sebelum film ini dibuat (2012). (Fn)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up