Artikel

APAKAH AMBANG BATAS 20% MENJADI PERTANDA KEMENANGAN JOKOWI?

Oleh: M Izzul Muslimin

DPR akhirnya memutuskan ambang batas 20% untuk Pilpres 2019 melalui voting. Empat partai (Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat) melakukan walkout. Keputusan ini kembali menciptakan pertarungan head to head antara partai pendukung pemerintah dan partai oposisi. Hanya PAN satu satunya partai yang berada di pemerintahan tetapi tidak mendukung opsi pemerintah.

Kemenangan penetapan ambang batas 20% seolah dianggap sebagai jalan kemenangan Presiden Jokowi untuk melanjutkan kekuasaanya yang kedua kali pada Pemilu 2019. Jika hanya berhitung matematis memang sepertinya demikian. Kondisi ini sepertinya menguatkan asumsi bahwa Jokowi akan menjadi satu satunya Capres 2019 yang paling perkasa yang didukung oleh enam partai, yaitu PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura, PKB, dan PPP. Di atas kertas kekuatan ini melebihi 50% plus satu yang menjadi syarat kemenangan bagi seorang Capres di Republik ini.

Namun kita semua menyadari bahwa perhitungan politik tak selalu linier, tetapi akan membuat logikanya sendiri. Jokowi sendiri terpilih menjadi Presiden pada Pilpres 2014 bukan didukung oleh mayoritas partai politik di Pileg 2014. Jokowi hanya didukung oleh PDIP, Nasdem, Hanura, dan PKB. Sementara PPP terbelah sehingga menimbulkan perpecahan di dalam tubuh PPP. Hal yang sama juga dialami oleh SBY di Pilpres 2004. Dari pengalaman tersebut mengisyaratkan bahwa dukungan mayoritas parlemen tidak menjadi jaminan bagi kemenangan seorang Capres, tetapi lebih ditentukan oleh popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitas Capres yang akan diusung. Kemenangan Jokowi di Pilpres 2019 tidak hanya ditentukan oleh dukungan parpol tapi juga ditentukan oleh siapa yang akan menjadi lawan Jokowi di Pilpres 2019.

Keputusan DPR meloloskan ambang batas 20% akhirnya akan memaksa partai di luar pemerintahan untuk bersatu. Jika tidak mereka akan gagal mengusung Capres pada Pilpres 2019. Kondisi ini sebenarnya justru lebih membahayakan bagi Jokowi jika partai oposisi sejak awal memiliki kesadaran untuk bersatu. Lebih mudah bagi Jokowi untuk melawan partai oposisi yang tercerai berai dengan egonya masing masing. Tapi jika oposisi bersatu dan solid melawan, apalagi dilakukan jauh sebelum Pilpres dimulai, jelas jadi persoalan berat dan rumit.

Tetapi mempersatukan partai oposisi bukanlah perkara mudah. Dari empat partai oposisi, Gerindra dan Demokrat adalah dua partai yang paling sulit dipersatukan. Sementara PKS dan PAN cenderung lebih fleksibel. Gerindra dan Demokrat memang punya sejarah hubungan yang tidak terlalu harmonis, baik secara kelembagaan maupun antar elite partai. Antara Prabowo dan SBY memang memiliki sejarah panjang yang membuat mereka sulit untuk bisa jalan bersama dan bergandengan tangan. Namun kita semua tahu, bahwa dalam politik tidak ada yang abadi, kecuali kepentingan itu sendiri. Artinya, untuk mencapai kepentingan politik meraih kekuasaan bisa saja Gerindra dan Demokrat berkompromi dan menyingkirkan ego masing masing. Jika bisa terjadi demikian, maka sangat mungkin akan muncul kandidat Capres hasil kompromi partai oposisi yang menjadi lawan berat Jokowi. Kalau hal ini terwujud, maka saat ini bukan waktu yang tepat bagi Jokowi untuk bersantai dan tidur nyenyak.

*Mantan Relawan Jokowi-JK 2014

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up