Artikel

Ali Mocthar Ngabalin di Mata Juniornya

Dari dulu dekat dengan militer

Oleh: M. Saleh Mude

Mantan aktivis PII Sulawesi Selatan

 

Saya adalah salah satu orang yang kenal dekat dengan Ali Mocthar Ngabalin. Saya berteman baik dan mengambil posisi sebagai junior. Saya dan kawan-kawan menyapanya Bang Ali. Saya bisa telepon dia kapan saja. Bang Ali pun ketika menemukan saya di mana saja, selalu menyapa saya.

Bang Ali kini menjadi sumber berita. Tiap hari, siang-malam, Ali dibincangkan oleh banyak orang dan media-media rajin meliput dan meminta komentar apapun kegiatan Bang Ali. Orang pun terbelah, pro dan kontra menilai sosok Bang Ali.

Saya mengenal dan bersahabat dengan Bang Ali di beberapa tempat dan momen. Saya sekampus dengan Bang Ali ketika kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Bang Ali di Fakultas Dakwah dan saya di Fakultas Ushuluddin. Saya juga seorganisasi di Pelajar Islam Indonesia (PII), sama-sama pernah menjadi Pengurus Wilayah PII Sulsel di Makassar. Kami juga sekampus di Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia. Kami sempat mendirikan dan mengelola jurnal Forum Pasca Sarjana Asal Sulawesi Selatan (FKMPASS), Bang Ali sebagai koordinatornya.

Ketika saya baru tiba di Jakarta, awal Juni 1998, saya beruntung dipinjamkan kamar oleh Bang Ali, gratis, di Menteng Raya 58 Jakarta Pusat. Saya memakai kamar itu hingga 2 tahun. Ketika saya mulai mengelola kantor konsultan media dan publishing, Giezpro dan Prodeleader, Bang Ali beberapa kali berkunjung ke kantor saya.

Saat masa kontrak kantor saya habis di Jalan Wahid Hasyim, Bang Ali menawarkan saya, sekali lagi gratis, memakai kantor dan segala isinya di Gedung Dewan Pers, di kawasan Jakarta Pusat. Saya juga beruntung dekat dengan istri Bang Ali, Mbak Heni, yang sekampung dengan saya, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.

Bang Ali di mata saya adalah sosok yang memiliki kemampuan bicara (orasi) yang bagus, karena dia jebolan Fakultas Dakwah UIN Makassar dan Ilmu Komunikasi UI, lalu meraih gelar doktor di Universitas Negeri Jakarta.

Bang Ali kini beruntung, menjadi salah seorang di ring 1 Presiden Joko Widodo, staf ahli Kantor Sekretariat Presiden. Posisi yang memungkinkan dia dapat berkomunikasi politik dengan banyak orang dan media.

Saya pernah ditanya oleh seorang senior saya, “Sapa yang membawa Ali ke Jokowi?”

Saya jawab, “Saya tidak tahu pasti, tapi kemungkinan melalui Moeldoko. Bang Ali dari dulu sudah dekat dengan beberapa pejabat tinggi di militer, termasuk Moeldoko.”

Bang Ali adalah politisi jebolan partainya Yusril, Partai Bulan Bintang (PBB) dan kini terdaftar di Partai Golkar. Hari ini, Bang Ali adalah sosok yang dibutuhkan dan dipakai oleh Presiden Jokowi, karena pemberani, memiliki kemampuan bicara, dan dicari oleh media-media. Tapi pada saat yang lain, saya menyaksikan Bang Ali, yang humanis dan retorik itu, di-bully, dihujat, dan digugat.

Apapun yang terjadi pada diri Bang Ali, dia tetap sahabat baik saya. Orang-orang tentu punya hak, memuji dan mencaci-maki Bang Ali. Apakah Bang Ali termasuk tokoh muda kontroversial dan antagonis?

Bang Ali, selamat membantu Presiden Jokowi. Wallahu a’lam bissawab …

Tanah Abang, September 2018

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up