Artikel

Ali Mocthar Itu Loyal Pada Keputusan Partai, Bukan Brutus Politik!

Oleh: M. Saleh Mude

Mantan aktivis PII Sulsel, sahabat Ali Mocthar

 

Apa kata Bang Ali Mocthar Ngabalin setelah menemukan dirinya di-bully, dihina, dicaci-maki, dituduh sebagai penjilat kekuasaan dan dinilai bumerang bagi citra Jokowi?

Ali hari ini dapat menyaksikan orang-orang asyik menonton videonya yang viral, berisi dukungannya pada Prabowo, menjelang pemilihan presiden 2014.

Sebagai kawan dan junior, saya terpanggil untuk menulis ulang pesan-pesan Ali yang dikirim ke nomor whatsapp saya.

Bagi Ali, sebagian orang telah terjangkiti penyakit hati, menggunakan media sosial digital untuk menyerang dirinya secara keji dan kejam. Mereka tidak lagi ingin mempertimbangkan nurani dan akal pikirannya. Mereka hanya asyik menyerang orang yang lain sesukanya. Apakah setelah itu, mereka merasakan suatu kepuasan? Tulis Ali.

Bagi Ali, teknologi itu hadir untuk memudahkan manusia, misalnya untuk merekam dan mendeteksi perilaku dan perkataannya. Tidak berbohong, tidak bisa dihindari, dan perlu disyukuri. Itu rahmat Tuhan.

 

Tidak Paham

Padahal ada satu hal yang kurang dan tidak mau dipahami oleh orang-orang yang hobi mem-bully dirinya. Mereka tidak memahami konteks perjuangan dan sikap politik partai Golkar ketika menjelang pilpres 2014, tempat Ali bernaung. Keputusan Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar ketika itu adalah mendukung Prabowo-Hatta. Sebagai kader partai, Ali dan kawan-kawan pun harus tunduk, patuh dan loyal pada keputusan partai. Mendukung dan berjuang maksimal untuk memenangkan Prabowo-Hatta adalah titah partai Ali, Partai Golkar.

Hari ini, partai saya, kata Ali, bergabung dan mendukung pemerintahan Jokowi-JK. Maka Ali pun merasa, sekali lagi, itu keputusan partai yang harus dipatuhi. Apa yang salah? Kenapa ada orang marah?

Salah besar, jika partai saya oposisi, tapi saya mendukung dan menjilat Jokowi, seperti tuduhan orang-orang yang iri itu, tulis Ali.

Bagi Ali, mendukung dan berjuang itu harus totalitas. Tidak setengah-setengah.

 

Ali Pemberani

Ali mengaku bukan tipe brutus politik. Bukan pemain dua kaki. Bukan pahlawan kesiangan, apalagi penjilat kekuasaan. Ali adalah pemberani dan dibutuhkan oleh Istana (Jokowi) untuk melawan oposisi, kata Fahri Hamzah.  

Tanah Abang, 5 September 2018.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait