ArtikelFeatured

Al-Qur’an dan Ketegangan Antar Ummat Beragama

Rangkuman

  • Ada latar historis relasi buruk antara Islam-Yahudi, dan kritisi Quran terhadap Nashrani dalam memandang eksistensi Nabi Isa. Namun hal-hal diatas pun sudah dinetralisir baik dengan ayat maupun praktik.

Oleh : Delianur ( Alumni Fikom Unpad, Pemerhati Komunikasi Politik )

Ketika Prof. Quraish Shihab (QS) membahas gambaran Al-Qur’an tentang Ahlul Kitab, dalam hal ini adalah Yahudi dan Kristen, dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an ; Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat, pakar tafsir ini seperti biasa memulainya dengan analisa kata. Analisa ini dipakai untuk melihat kecenderungan makna dibalik kata. Dalam Komunikasi, apa yang dilakukan oleh guru besar Ilmu Tafsir ini adalah melakukan content analysis atau framming analysis. Meskipun tidak melakukan kuantifikasi secara rigid sebagaimana analisa teks media, namun hasilnya secara garis besar bisa menunjukan makna kata Al-Qur’an ketika membicarakan Yahudi dan Nasrani.

Menurut QS padanan kata Ahl Al-Kitab dalam Al-Quran adalah Utu Al-Kitab, Utu nashiban minal kitab, Al-Yahud, Al-Ladzina Hadu, Bani Israil, An-Nashara dan istilah lainnya. Secara kuantitatif, maka kata Ahl Al-Kitab terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 31 kali, Utu Al-Kitab (Orang yang diberi Kitab Suci) 18 kali, dan Utu nashiban minal kitab sebanyak 3 kali, Al-Yahud 8 kali, Al-Ladzina Hadu 10 kali, Ari-Nashara 14 kali, dan Bani/Banu Israil 40 kali.

Kesan umum ketika Al-Qur’an menggunakan kata Al-Yahud adalah kecaman atau gambaran negatif, ketidakrelaan terhadap kaum Muslim sebelum umat Islam mengikuti mereka, pengakuan bahwa Yahudi dan Nasrani adalah putra-putra kinasih Allah, pernyataan orang Yahudi bahwa tangan Allah terbelenggu (kikir). Bila Al-Qur’an menggunakan Al-Ladzina Hadu, maka kandungannya ada yang berupa kecaman. Seperti mereka yang suka mengubah arti kata-ata atau mengubah dan menguranginya, kelompok orang yang sangat tekun mendengar berita kaum muslim dan memanipulasinya untuk kemudian disebarkan. Ada juga yang bersifat netral seperti janji yang beriman dengan benar untuk tidak akan mengalami rasa takut atau sedih.

Sementara kata Nashara, sama penggunaanya dengan Al-Ladzina Hadu, terkadang digunakan dalam konteks positif dan pujian seperti pujian sebagai orang yang paling akrab persahabatan dengan orang Islam. Berbicara tentang kecaman karena ketidakrelaan mereka terhadap orang Islam sampai kaum muslim mengikuti mereka. Dalam kesempatan lain, kandungannya netral bukan kecaman dan pujian, membicarakan putusan Tuhan yang adil terhadap mereka.

Kesimpulan dari makna kata Yahudi dan Nasrani menurut Ustadz QS, bahwa bila Al-Quran menggunakan kata Al-Yahud, maka pasti ayat tersebut berupa kecaman atas sikap-sikap buruk mereka, dan jika menggunakan kata Nashara, maka ia belum tentu bersikap kecaman. Jadi, ketika Al-Qur’an berbicara Yahudi, maka konotasinya adalah negatif. Sementara ketika berbicara Nashrani atau Kristen, maka konotasi kata yang dihadirkan bisa positif juga bisa negatif.

Bila kita membacanya berhenti sampai disini, maka satu kesimpulan sudah bisa diambil bahwa Al-Quran adalah Kitab permusuhan. Menstimulasi umatnya untuk melakukan perseteruan pada kelompok Agama yang berbeda melalui gambaran negatif tentang mereka. Yahudi dan Kristen hanya sample perbedaan Agama karena ketika itu di Makkah dan Madinah hanya ada agama itu. Bila Al-Qur’an turunnya di India, bisa jadi permusuhannya juga terhadap agama Hindu dan Budha.

Namun masih di buku dan pembahasan yang sama, Prof. QS mengingatkan tentang kekeliruan penafsiran terhadap ayat-ayat diatas sehingga melahirkan prasangka negatif. Diantaranya kekeliruan penerjemahan dari Departemen Agama yang mengartikan kalimat “Wadza katsira” sebagai “Kebanyakan” bukan “Banyak”. Artinya, pandangan negatif Al-Qur’an terhadap Ahlul Kitab itu tidak bermakna ke seluruh orang, tapi pada sebagian saja. Bahkan di buku lain penulis mengatakan bahwa kritisi Al-Qur’an terhadap umat Kristen ada pada masalah prinsip Tauhid. Quran memiliki cara pandang berbeda dengan keyakinan umat Kristiani tentang meninggalnya Nabi Isa Al-Masih. Selebihnya, bahasa Quran terhadap Isa Al-Masih adalah bahasa penuh apresiatif, positif dan hangat.

Dalam tulisan diatas, Pof. QS menguraikan banyak hal yang mesti diluruskan dalam memahami ayat-ayat diatas. Namun diluar penjelasan Prof. QS, hal yang sangat mungkin menarik itu adalah bila kita melihat Al-Qur’an sebagai sebuah Kitab sejarah. Sebuah Kitab yang tidak hanya memberikan petunjuk-petunjuk normatif, tapi Kitab yang bila ditelaah lebih seksama dan detail, sering menunjukan dinamika sosial politik masa Al-Qur’an turun. Karena sudah menjadi pengetahuan bersama, bahwa Al-Qur’an bukanlah Kitab suci yang diturunkan sekaligus dalam satu waktu di satu tempat, tapi diturunkan secara bertahap selama 23 tahun masa kenabian. Turunnya ayat-ayat Al-Qur’an selalu berkaitan dengan masalah yang muncul atau yang sedang dihadapi Nabi Muhammad dan ummatnya.

Dalam pembabakan sejarah Islam masa Nabi sendiri secara umum sering dipisah antara priode Mekkah, yang melahirkan ayat-ayat Makiyyah, dan priode Madinah yang menghasilkan ayat-ayat Madiniyyah atau ayat yang turun di Madinah.

Pada 10 tahun masa Nabi di Makkah, kelompok masyarakat yang dihadapi adalah kelompok kafir dan musyrik Quraisy. Kelompok masyarakat yang salah Tuhan, karena Tuhannya adalah patung, dimana kelas utama masyarakatnya adalah pemilik uang dan ketua klan. Masyarakat yang sudah beragama, dalam hal ini adalah Yahudi dan Kristen, adalah kelompok minoritas dan tidak mempunyai peran signifikan. Sehingga tidak aneh, ayat Makiyyah dominan berkisah tentang kecaman terhadap kelompok pagan, bukan masyarakat beragama. Karenanya pada masa itu dikenal tentang puluhan patung berhala yang berdiri mengelilingi Ka’bah menjadi pusat sesembahan masyarakat.

Situasi berbeda ketika Nabi di Madinah. Di Kota bernama asal Yastrib ini, Nabi tidak hanya mesti berhadapan dua suku utama, Aus dan Khajraz, tetapi juga Yahudi. Pemeluk Yahudi adalah kelompok masyarakat yang juga mempunyai kekuatan politik dan ekonomi yang dominan. Karena eksistensi Nabi Muhammad diakui dua suku terbesar di Madinah juga di dampingi para mantan enterpreneur Makkah, lambat laun dominasi politik dan ekonomi Yahudi atas Kota Madinah pun tergeser.

Sebagimana diketahui, kedatangan awal Nabi Muhammadi ke Madinah dimulai dengan membuat kesepakatan politik bersama seluruh kelompok di Madinah. Kesepakatan politik yang sering disebut dengan Piagam Madinah ini, merupakan konstitusi pertama dunia yang mengatur kehidupan kehidupan sosial politik sebuah komunitas. Diantara kesepakatan dalam Piagam Madinah adalah bahwa semua kelompok di Kota ini bersepakat untuk menjaga Kota dari ancaman luar. Namun kesepakatan politik ini beberapa kali dilanggar Yahudi ketika mereka ketika mereka bersekongkol dengan Makkah untuk menghancurkan Madinah. Pelanggaran kesepakatan politik ini telah mengakibatkan konsekuensi politik berupa pengusiran orang Yahuid dari Madinah.

Persekongkolan politik Yahudi dengan orang Makkah untuk menghancurkan dominasi Nabi Muhammad di Madinah, tidak terlepas dari dinamika ekonomi Madinah. Dominasi Ekonomi Yahudi di Madinah goyah dengan kedatangan kaum muslimin dari Makkah. Nabi Muhammad bukan hanya mantan enterpreneur yang masa mudanya pernah berkelana sampai ke negeri Syam (Palestina sekarang) untuk berdagang, tetapi juga datang bersama sahabat-sahabat nya yang juga mempunyai mental enterpreneur mantan saudagar Makkah yang tangguh. Seperti Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf. Disamping itu, Nabi datang dengan mempraktikan konsep perniagaan yang bertentangan dengan pola Yahudi Madinah seperti tidak boleh nya Riba. Sementara pada saat bersamaan, pola Riba itulah yang dipraktikan Yahudi Madinah dan menjadi senjata mereka untuk menguasai aktivitas Ekonomi Madinah. Rabbi Yahudi di Madinah menurut Prof. QS adalah agamawan korup dan suka Riba.

Pertentangan kaum Muslimin dengan Yahudi bertambah tajam manakala sentimen ras dan keagamaan ikut serta didalamnya. Pada waktu itu masyarakat Arab Masyarakat Arab, termasuk Yahudi dan Kristen, pada dasarnya sudah mendengar dan percaya tentang akan datanganya Nabi akhir zaman. Hal yang menjadi permasalahan serius bagi kelompok Yahudi, bahwa ternyata Nabi Muhammad sebagai nabi akhir zaman itu, datangnya dari orang Quraisy bukan dari Yahudi. Sementara di mata mereka Quraisy bukanlah masyarakat masyarakat unggulan karena tidak mempunyai Kitab Suci seperti orang Yahudi.

Hal yang berbeda terjadi dengan relasi antara orang Islam dan orang Kristen. Pada masa itu, konsentrasi terbesar umat Kristiani adalah di Syam bukan di Makkah atau Madinah. Di dua kota terakhir, umat Kristiani berjumlah sedikit.

Disamping itu, pendeta-pendeta Kristen pada masa itu dikenal sebagai orang-orang yang shaleh. Mereka ikut mengajarkan ajaran-ajaran kebaikan Nabi Isa. Mungkin hal yang sering dilupakan dalam ingatan masyarakat muslim tentang sejarah hidup Nabi Muhammad, bahwa orang pertama yang mempercayai kenabian Muhammad adalah seorang Nasrani bernama pendeta Waraqah bin Naufal. Paman dari Khadijah istri Nabi. Waktu itu selesai mendapat wahyu pertama, Khadijah membawa Muhammad suaminya bertemu dengan pamannya Waraqah yang dikenal sholeh untuk berkonsultasi. Waktu itu Bukhaira meyakinkan Muhammad bahwa beliau adalah Nabi akhir zaman sebagaimana yang sudah dia pelajari.

Dalam catatan sejarah lainnya juga disebutkan bahwa sebelum kaum muslimin di Makkah hijrah ke Madinah, lebih dahulu sudah ada hijrah ke Ethiopia. Negus, Raja Ethiopia beragama Kristen, waktu itu menerima dengan terbuka kedatangan kaum muslimin Makkah yang datang mencari suaka politik ke wilayahnya. Bahkan ketika utusan Makkah datang untuk menjemput mereka, Negus menyatakan penolakannya dan menegaskan perlindungannya kepada kaum muslimin.

Mungkin hal yang terabadikan dalam konteks hubungan Islam-Kristen masa itu, ada dalam ayat-ayat pertama surat Ar Rum. Waktu itu Jazirah Arab adalah wilayah yang diapit dua negara super power dunia : Persia yang Majusi dan Romawi yang Kristen. Pada satu peperangan, Romawi sempat kalah oleh Persia dan kaum Muslimin bersimpati dan merasa sedih dengan kekalahan Romawi. Namun surat Ar Rum yang turun mengabarkan kekalahan Romawi, juga menghibur kaum muslimin yang bersedih dengan mengatakan bahwa tidak lama lagi orang Romawi akan mengalahkan Persia.

Dalam konteks historis seperti inilah kemudian bisa difahami kenapa Quran banyak menunjukan kata negatif terhadap Yahudi dan negatif-positif terhadap Nasrani. Ada latar historis relasi buruk antara Islam-Yahudi, dan kritisi Quran terhadap Nashrani dalam memandang eksistensi Nabi Isa. Namun hal-hal diatas pun sudah dinetralisir baik dengan ayat maupun praktik. Perihal buruknya orang Yahudi, banyak ayat lain yang mengingatkan orang Islam untuk membangun hubungan positif antar manusia, terlepas dari Agamanya apa. Bahkan secara praktik, hikayat Nabi Muhammad yang suka menyuapi seorang Yahuid buta yang miskin, adalah hikayat mashur yang terus diceritakan. Sementara berkaitan dengan kritisi Quran terhadap proses kematian Nabi Isa, ayat Quran lain mengatakan dengan tegas bahwa “lakum diinukum waliyadiin” atau bagi mu agamamu dan bagi ku agamaku. Artinya, orang dipersilahkan untuk mengimani kepercayaannya itu dan tidak ada larangan untuk mengimani nya seperti itu.

Karenanya disamping kekeliruan pemahaman terhadap teks kitab suci, maka politik dan relasi sosial-ekonomi, selalu menjadi pemicu ketegangan hubungan antar umat beragama. (Fn)

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait