Artikel

Al-Fatekah Jokowi

Oleh: Iswandi Syahputra

Hari Jum’at, pada bulan Juni 1992 pertama kali saya tiba di Yogyakarta. Masuk waktu sholat Jum’at, saya beranjak menuju mesjid Diponegoro, Demangan Yogyakarta. Tidak ada yang aneh… hingga imam sholat Jum’at membaca surat Al-Fatihah dengan lafaz yang aneh dan janggal di telinga saya.

Al-hamdu lillahi rabbil ngalamin (skrip bahasa Arab-nya: الحمد لله ربّ العالمين)

Kata ngalamin ini sangat mengejutkan dan mengagetkan saya. Sholatpun jadi tidak khusyu’.

Saya ajak beberapa teman sesama alumni MAPK Padang Panjang mendiskusikannya. Diskusi buntu hingga seorang senior yang sudah lama menetap di Yogya saat itu berkata, “Lidah orang Jawa memang seperti itu, tidak ada unsur sengaja melecehkan ayat suci. Sambil bercanda dia berujar, sama seperti orang Minang yang sulit surat Al-Ankabut karena terbiasa dengan lafaz Al-Ankabuik”. 

Saya tersenyum…

Kemudian teringat dengan wejangan Ustadz Saidan Lubis, guru yang paling saya hormati di pondok saat menjelaskan hadist:

“Sesungguhnya Al Qur’an ini diturunkan dalam tujuh huruf. Maka, bacalah apa yang mudah darinya.“ (Muttafaq alaih dari Umar bin Khatab R.A.)

“Jangan heran jika nanti saat menempuh studi di Timur Tengah ada lafaz Wadh-dhuhe… Wal-laili idza saje…,” jelasnya pada kami para muridnya.

Sejak itu saya terbiasa dan dapat menerima perbedaan lafaz karena faktor budaya dalam melafal ayat suci. Hingga saat ini, sejak kuliah di Yogya walau nama saya Iswandi Syahputra, selalu saja dipanggil dengan Iswandi Syahputro.

Nah… dalam konteks ini saya pada posisi dapat memahami dan menerima lafaz Pak Jokowi menyebut Al-Fatekah untuk merujuk pada sebutan Al-Fatihah. Karena itu pula, mohon saya jangan di-bully.

Ucapan Al-Fatekah disampaikan Jokowi saat memberi sambutan pada acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVII tahun 2018 di Gedung Serba Guna, Jalan Wiliam Iskandar, Kota Medan, Sumatra Utara (Sumut), Ahad (7/10/2018) malam. Pada kesempatan tersebut Jokowi mengajak semua yang hadir dalam acara tersebut untuk bersama-sama membacakan surat Al Fatihah untuk korban bencana alam dan para keluarga yang selamat agar diberi kesabaran dan ketabahan.

Di sinilah masalahnya…

Bukan di lafaz Al-Fatekah Jokowi, tapi konteksnya yang membikin masalah dan menimbulkan kontroversial.

Pertama, Jokowi itu Presiden RI, ranahnya Umara (pemerintah), bukan Ulama. Sebagai Kepala Pemerintahan, jika ingin menyinggung gempa di Palu dan Donggala sampaikanlah apa yang sudah dan akan dilakukan pemerintah dalam memulihkan warga dan daerah yang terkena gampa.

Kedua, Do’a itu ranahnya Ulama bukan Umara. Jika Jokowi ingin menyampaikan do’a, melalui petugas protokoler dapat dititipkan pada  Ulama yang membacakan do’a. Siapa, dalam kapasitas apa, melakukan apa menjadi jelas kedudukannya. Dalam konteks ini Jokowi tampak ingin tampil menuai simpati dengan sedikit menyenggol sektor lain di luar kapasitasnya.

Ketiga, Jokowi adalah Capres untuk Pilpres tahun 2019. Kejadian tersebut tentu menjadi bahan untuk mengkritisi gaya kepemimpinannya. Namun umumnya kelompok pengkritik lebih mengedepankan kritik personal. Bagi saya, ini agak kurang baik. Tapi dapat dipahami karena Jokowi juga sering tampil sebagai personal dalam kapasitasnya sebagai Kepala Negara atau Pemerintahan. Menggunakan kaos pada acara formal, itu contoh penampakan sisi personal Jokowi sebagai Presiden RI.

Keempat, Jokowi seharusnya menyadari kelemahannya dalam soal lafaz berbahasa Arab, sebab ini bukan yang pertama menjadi viral. Khalayak kemudian dengan mudah dan cepat menilai yang dilakukan Jokowi (selain persoalan personal) juga untuk menarik simpati umat Islam menjelang Pilpres. Di sini, khalayak akan teringat dengan berbagai argumen pihak yang keberatan menggunakan isu agama dalam politik.

Selalu begitu… Khalayak selalu ramai dan riuh untuk masalah sepele karena mungkin saja pemerintah belum dapat menghadirkan narasi besar tentang gagasan memajukan bangsa sebagai perbincangan publik.

Itu ajah

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close