Artikel

Aku Tunas PII

Oleh: Ikhsan Kurnia

Umurku belum genap 9 tahun. Aku masih duduk di bangku kelas 3 SD. Ujang pun masih menjadi teman bermainku yang paling setia. Kami bermain seperti anak-anak yang lain. Bermain layangan, kelereng, tempolongan, dan sebangsanya. Aku mengalami semua jenis permainan tradisional khas anak-anak di jaman itu. Apalagi ada Ujang yang selalu mengajak dan mengajariku.

Suatu hari Ujang mengajakku mengikuti kegiatan yang sama sekali belum pernah aku lakukan sebelumnya. Sungguh sangat mengherankan, kali ini dia mengajakku mengikuti kegiatan yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari kegiatan yang biasa kami lakukan. Biasanya dia mengajakku untuk bermain perang-perangan ala Satria Baja Hitam atau Ultraman, kali ini dia mengajakku kegiatan yang lain.

Ujang mengajakku ikut acara pengajian!

Apa? pengajian? Kesambet setan dimana anak itu? Rasa heran dan tidak percaya spontan menyemburat dari dalam kepalaku. Bagaimana mungkin preman kecil berubah jadi santri? Seorang anak yang kenakalannya sudah sangat melegenda diseantero desa, tiba-tiba bertaubat dan ikut ngaji? Aku tidak habis fikir.

“San, nanti malam ikut acara pengajian yuk!” ajak Ujang padaku.

“Pengajian apa, Jang?” tanyaku bingung.

“Sudah, pokoknya ikut saja! Bilang sama Ibumu kalau nanti malam kita mau ikut acara pengajian IFI” ujarnya.

Aku tak kuasa menolak ajakannya.

Saat aku memberi tahu ibu bahwa aku malam ini mau ikut pengajian IFI, ibu menitikkan air mata. Ibu benar-benar terharu, anaknya yang selama ini lebih suka bermain tiba-tiba mau ikut pengajian. Beliau pun tak berfikir panjang untuk memberi izin padaku mengikuti pengajian bersama Ujang.

Aku tidak memiliki bayangan sama sekali apa yang akan aku dapatkan dari acara pengajian IFI. Apa itu IFI saja aku sama sekali tidak tahu. Apakah itu sekadar nama perkumpulan, seperti Muhammadiyah, NU, atau makanan jenis apa? Yang jelas Ujang menyuruhku ikut.

“Bawa buku sama pulpen ya!” perintahnya.

Aku anggukan kepala.

Habis sholat maghrib, aku menunggu Ujang menghampiri rumahku. Aku sudah siap berangkat ke acara pengajian. Ku kenakan sarung kotak-kotak berwarna biru, baju koko putih, dan memakai peci hitam. Buku dan pulpen aku cangking pakai tangan. Tiba-tiba Ujang tidak datang sendirian. Rupanya Oji dan Iyang juga ikut bersamanya.

Oji dan Iyang juga tetangga dekatku. Rumah Iyang persis di sebelah utara rumah Ujang, sementara Oji agak jauh, kira-kira selisih empat rumah sebelah timur rumah Iyang. Mereka bertiga seumuran, sama-sama sudah duduk di kelas 5 SD. Aku yang paling junior.

Begitu kami sampai di rumah tempat pengajian, aku sungguh terpana melihatnya. Busyet, banyak sekali pesertanya! Mungkin hampir mencapai seratus anak yang datang. Bahkan banyak peserta yang berceceran sampai keluar halaman rumah. Peserta pengajian dengan jumlah nyaris seratus anak di jaman itu merupakan hal yang sungguh fenomenal. Mengingat ini bukanlah pengajian pesantren, bukan pula pengajian atas nama sekolah yang jika kita tidak datang bisa dihukum oleh kyai atau gurunya. Namun, semua anak-anak ini datang dengan sukarela.

Pengajian kali ini diadakan di rumah salah satu anggotanya dengan sistem bergilir. Kebetulan kali ini yang ketiban (mendapat giliran tempat) adalah rumah Iwan, yang juga kakak kelasku 1 tahun di SD Muhammadiyah Desa Karanganyar. Aku sedikit lega, ternyata banyak dari anggota pengajian IFI yang bersekolah di SD yang sama sepertiku, jadi aku merasa tidak terlalu asing.

Ketika mengikuti pengajian ini untuk pertama kalinya, aku sungguh-sungguh terkesima dan hampir-hampir tidak percaya. Pengajian ini sangat berbeda dari pengajian pada umumnya. Jika biasanya pengajian hanya berisi mendengarkan ceramah seorang ustadz, maka disini aku menemukan sesuatu yang sama sekali baru. Semua rangkaian pengajian ini dijalankan oleh para pesertanya sendiri. Dari mulai petugas MC yang membuka acara, sambutan tuan rumah, sambutan pengurus pengajian, latihan khitobah (pidato), pemimpin bacaan sholat bersama, hingga pemimpin doa penutup majelis, semuanya dilakukan oleh para pesertanya sendiri.

Tidak bisa dibayangkan anak-anak kecil seusia SD sudah bisa menjadi MC dan berpidato di depan puluhan orang!

Dan yang lebih mengherankan lagi, yang mengisi acara inti adalah pengurus senior yang usianya baru seumuran anak SMP.

Ujang benar-benar guru yang selalu mengajarkanku hal-hal baru. Ternyata malam ini aku juga diajak untuk melihat dan mengalami hal baru yang belum pernah aku alami sebelumnya.

Bagaimana aku tidak terkesima, jika di depan mataku, seorang anak kecil usia sepuluh tahun berlatih pidato dengan sangat lantang dan percaya diri? Bahkan bukan sekedar lantang, tapi juga sekali dua kali sudah mampu mengutip sebuah hadits.

“Khairunnas anfauhum linnas… Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk sesama!”

“Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilallahdi… Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat!”

Aku tidak habis fikir melihat seorang anak kelas 4 SD sudah bisa berpidato dengan mengutip hadits dan menjelaskannya dengan sangat percaya diri. Padahal mereka hanya anak kampung yang tidak pernah mencium bau pesantren.

Setelah sesi latihan khitobah dan bacaan sholat bersama, tibalah saatnya acara inti.

“Acara selanjutnya, acara inti yang akan dibawakah oleh Mas Burhan” kata pembawa acara yang masih seusiaku itu.

Mas Burhan pun berdiri. Lantas membuka ceramah dengan pembukaan dalam bahasa arab, kemudian bercerita:

“Adik-adik semua, saya akan menceritakan sebuah kisah sufistik. Di sebuah desa terpencil yang terletak di kaki bukit, ada sebuah pondok yang dihuni oleh seorang kyai dan seratus orang santri. Suatu hari Sang Kyai hendak mengajak santri-santrinya melakukan pejalanan ke balik bukit. Sang Kyai berkata: Wahai santri-santriku, dalam perjalanan ke balik bukit, kalian akan menemukan sebuah sungai. Di sungai tersebut, terdapat banyak batu-batuan. Berdasarkan ukurannya, ada batu-batuan yang kecil, sedang dan besar. Jika kalian melewati sungai itu begitu saja tanpa mengambil batu yang ada disana, maka kalian akan MENYESAL. Namun, jika kalian mengambil batu yang ada disana, kalian juga akan MENYESAL”.

Mas Burhan menghentikan ceritanya sejenak, lalu melempar pertanyaan kepada semua peserta pengajian:

“Adik-adik semua, jika kalian semua menjadi santri yang ada dalam cerita tadi, apa yang akan kalian lakukan? Mengambil batu, atau tidak?”

Semua peserta tampak kebingungan dengan pertanyaan tersebut. Begitu juga aku. Bagaimana bisa, jika mengambil menyesal, tidak mengambil juga menyesal? Kepalaku berputar.

Lalu Mas Burhan berkata kepada semua peserta:

“Bagi kalian yang berpendapat mengambil batu, angkat tangan kalian!”

Sebagian dari peserta mengangkat tangan. Lalu mas Burhan menyuruh semua peserta yang berpendapat mengambil batu untuk berkelompok dan duduk bersama.
Kemudian mas Burhan bertanya kembali:

“Bagi kalian yang berpendapat untuk tidak mengambil batu, angkat tangan kalian!”

Sebagian peserta sisanya mengangkat tangan. Termasuk aku. Aku sendiri tak punya pendapat yang pasti. Karena bingung, aku hanya ikut Ujang dan teman-teman yang lain untuk mengangkat tangan. Setidaknya jika aku ditanya, aku bisa bersembunyi di balik ketiak Ujang. Atau setidaknya aku dapat bertanya padanya. Biasanya Ujang banyak akal.

Lalu mas Burhan juga menyuruh peserta yang berpendapat tidak mengambil batu untuk berkelompok dan duduk bersama. Aku dan Ujang pun berkelompok dengan beberapa teman lain yang sependapat.

Sementara itu, mas Burhan menatap beberapa anak yang tidak memiliki pendapat sama sekali. Sambil sedikit tersenyum, dia berkata:

“Orang yang tidak berani berpendapat, sama saja seperti orang mati. Hmm… ada yang mau jadi orang mati disini?”

Spontan anak-anak yang tadinya tidak berpendapat sama sekali langsung bangkit dari tempat duduknya dan terbagi menjadi dua, sebagian ke kelompok yang mengambil batu, sebagian lagi bergabung ke kelompok yang tidak mengambil batu. Dengan demikian kekuatannya fifty-fifty.

“Baiklah. Kelompok yang mengambil batu, adalah kelompok A. Kelompok yang tidak mengambil batu, adalah kelompok B. Sekarang silahkan kalian berdebat!”
Apa, berdebat? Apa aku tidak salah dengar? Anak kecil kok sudah disuruh berdebat seperti anggota DPR!

Namun, betapa sangat mengejutkan, ternyata anak-anak seusiaku sudah pandai berdebat. Meskipun disertai dengan celotehan dan argumen yang lucu-lucu dan kurang masuk akal, namun berdebatan berlangsung dengan sengit. Masing-masing kelompok kekeh dengan pendapatnya masing-masing.

Kelompok A berpendapat:
“Kita fikir saja, mengambil batu menyesal, tidak mengambil juga menyesal. Lebih baik kami mengambil batu, tapi batu yang paling kecil dari semua batu yang ada. Kalaupun menyesal, menyesalnya pun sedikit. Tapi setidaknya kami sudah berani mengambil resiko. Dari pada tidak berani mengambil resiko, banci namanya!”

Kelompok B berpendapat:
“Pendapat kami lebih masuk akal. Dari pada merepotkan dan memberatkan selama dalam perjalanan, lebih baik kami tidak mengambil batu sama sekali. Toh pada akhirnya kita semua akan menyesal. Jadi sama saja kan?”.

Perdebatan berlangsung dengan sangat sengit. Aku sendiri tak berbicara apa-apa. Aku hanya bisu mendengar teman-teman seusiaku sangat pandai berdebat dan berbicara di depan banyak orang. Aku merasa paling bodoh!

Mas Burhan pun menghentikan berdebatan, lalu melanjutkan ceritanya:
“Baiklah, saya lanjutkan cerita Sang Kyai dan para santrinya tadi. Ternyata, apa yang para santri fikirkan, sama persis dengan apa yang kalian fikirkan. Dari seratus santri, separuhnya berfikir untuk mengambil batu, namun mereka semua mengambil batu yang berukuran paling kecil diantara batu-batuan yang ada di sungai. Kalaupun menyesal, menyesalnya sedikit, fikir mereka. Sementara itu, separuhnya lagi berfikir untuk tidak mengambil batu, dengan alasan efisiensi. Jika mengambil atau tidak itu sama saja, lebih baik tidak mengambil sama sekali, jadi tidak memberatkan kantong perbekalan, fikir mereka. Dan akhirnya kedua kelompok ini pun sampai ke balik bukit. Ketika sampai ke tempat yang dituju, Sang Kyai sudah ada disana menyambut para santrinya. Lalu Sang Kyai mengumpulkan semua santrinya di sebuah lapangan terbuka, kemudian berkata:
Baiklah para santriku, tutup semua mata kalian. Bagi kalian yang tadi mengambil batu, genggamlah erat batu kalian! Bagi yang tidak mengambil, cukup tutup mata kalian!

Lalu Sang Kyai pun mengangkat tangannya ke atas, lalu memanjatkan doa kepada Tuhan selama beberapa saat. Setelah itu melanjutkan perkataannya:
Baiklah, sekarang buka mata dan tangan kalian yang menggenggam batu!
Tiba-tiba keanehan terjadi. Semua batu yang diambil dari sungai tadi dalam sekejap berubah menjadi emas yang berkilauan cahaya.

Dan benar apa kata Sang Kyai: semua santri MENYESAL! Mereka semua menangis keras-keras.

Santri yang paling keras menangis tentu adalah mereka yang tidak mengambil batu sama sekali. Mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mereka benar-benar menyesal!
Ternyata, semua santri yang mengambil batu pun tidak kalah keras menangis. Mereka berkata:

Oh Tuhanku… Kenapa aku hanya mengambil batu yang paling kecil? Kenapa tadi aku tidak mengambil batu yang paling besar? Jika batu besar itu berubah menjadi emas, maka aku akan menjadi kaya raya hingga tujuh keturunan! Oh betapa malangnya diriku ini!

Sang Kyai berkata: Itulah gambaran hidup kalian di dunia. Jika kalian saat ini tidak berbuat kebajikan sama sekali di dunia, kalian pasti akan menyesal di akherat. Begitu pula, jika kalian saat ini berbuat kebajikan, namun hanya sedikit, maka kalian juga akan menyesal di kemudian hari!”.

Mas Burhan menekankan pelajaran cerita tersebut dengan berkata:
“Saat ini kalian mengikuti pengajian tunas IFI. Kalian disini belajar. Bukan hanya belajar agama, namun juga belajar pengetahuan lainnya, belajar berpidato di depan umum dan belajar berorganisasi. Banyak hal yang bakal kalian dapatkan disini. Namun itu tergantung diri kalian sendiri. Jika kalian hanya ikut-ikutan dan tidak belajar sama sekali, kelak kalian akan menyesal. Jangankan kalian yang tidak belajar sama sekali. Orang yang belajar pun, dapat pula menyesal, karena belajarnya hanya sedikit!”.

Cerita dan perkataan mas Burhan begitu menusuk dan sangat membekas dalam kepalaku. Bahkan hingga hari ini. Malam itu, di usiaku belum genap 9 tahun, adalah pertama kalinya aku mendapatkan pencerahan dalam hidup yang begitu menggugah. Ya, melalui pengajian IFI, Ittihadul Fityanil Islamiyah yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih bermakna: Ikatan Pemuda Islam.

Itulah kisah pertama kali aku mengenal organisasi PELAJAR ISLAM INDONESIA (PII), sekitar tahun 1995, di usiaku yang baru 9 tahun, sebagai kader tunas Pengurus Komisariat Karanganyar Tegal Jawa Tengah. Bagaimana anda mengenal PII pertama kali?

Ikhsan Kurnia
PB KB PII Bidang Humas dan Media.

SELAMAT HARI BANGKIT PII
4 MEI 1947 – 4 MEI 2018.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up