ArtikelFeatured

Aksi 212 dan Bendera Tauhid

Oleh : M. Amir Faisal

Tulisan ini hanya membatasi analisisnya pada berlangsungnya proses aksi massa dan pengaruh simbol pada pergerakan massa Islam. Jadi sama sekali TIDAK MEMPERMASALAHKAN makna ataupun nilai kebenaran bendera tauhid.

Aksi massa yang efektif

Sebuah aksi demonstrasi bisa berlangsung massive dan mempunyai power energi yang tidak terbendung jika memenuhi syarat : Elite politik kaum intelektual dan ulama bersatu, isu yang diusung bersifat universal misalnya pelanggaran HAM, adanya aspirasi seluruh rakyat yang merasa sama-sama mengalami nasib sepenanggungan, dan isu perubahan yang diperjuangkan merupakan frustasi seluruh rakyat, sehingga mereka melupakan perbedaan identifikasi kelompok maupun ideologi.

Sebagai contoh aksi demonstrasi yang terjadi pada tahun 1966 dan 1998. Pada era lahirnya orde baru isu yang diusung adalah Tritura, yaitu Bubarkan PKI, Retul Kabinet dan Turunkan Harga. Saat itu kondisi ekonomi sangat mencekik dan membuat seluruh rakyat mengalami frustasi. Dengan adanya kasus pembantaian sadis para Jendral dan perwira tinggi di Lobang Buaya, atau yang dikenal dengan G 30 S/PKI, maka seakan-akan ini menjadi pencetus dari frustasi rakyat sesudah pemerintah dinilai tidak bisa bertindak tegas terhadap penjahat HAM. Apalagi ketika dicurigai presiden Soekarno ikut terlibat, atau setidak-tidaknya patut diduga mengetahui gerakan itu dan melakukan pembiaran, maka aksi massa menemukan sasaran tembaknya, yang berlanjut dengan penyerahan Super Semar, yang merupakan turning point perpolitikan Indonesia saat itu (friksi politik tentang Super Semar tidak menjadi bahasan tulisan ini)

Reformasi politik 1998 diawali dengan naiknya US Dolar Amerika secara drastis, yang berlanjut dengan krisis ekonomi yang disebabkan faktor fundamental ekonomi yang sangat rapuh akibat KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisne). Reformasi menjadi matang setelah terjadi pelanggaran HAM, yang dikenal dengan kasus Semanggi dan Trisakti dan bersatunya Elite politik, Ulama dan intelektual.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa reformasi 1998 bukanlah terjadi secara spontan, melainkan memang sudah banyak intrik-intrik politik dan kelompok-kelompok yang sengaja mematangkan kondisinya.  Namun demikian tidak bisa dipungkiri, kondisi itu (baik tahun 1966 maupun 1998) tidak bisa matang jika prolognya tidak memenuhi empat syarat diatas, yaitu : (1) Bersatunya Elite, Ulama dan Intelektual, (2) Isu yang diusung menyangkut pelanggaran HAM, (3) Adanya aspirasi seluruh rakyat yang merasa sama-sama mengalami nasib sepenanggungan, dan (4) Isu perubahan yang diperjuangkan merupakan frustasi seluruh rakyat SEHINGGA mereka bersedia melepaskan simbol identifikasi kelompok ideologi masing-masing.

Fenomena ABI 212

Aksi Bela Islam 212 sebenarnya memenuhi kriteria diatas. Uniknya aksi monumental terbesar sepanjang sejarah itu bukan dipimpin oleh aktor politik tetapi oleh Ulama dan bisa berlangsung secara sejuk dan damai. Bayangkan, mobilisasi jutaan massa di ibukota, tanpa menimbulkan korban jiwa maupun harta benda. Bahkan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan maupun meninggalkan sepotong sampahpun. 

Baiklah kita bahas satu persatu, kenapa ABI 212 bisa dianggap memenuhi empat kriteria, walaupun outputnyajustru bukan hard revolution?

Pertama, dalam ABI 212, para Ulama dan kaum Intelektual bersatu. Ketua Umum PB NU pernah berseloroh pada paska Aksi 4/11, bahwa kalau NU ikutan aksi, maka Jakarta tidak akan muat, dan ucapan itu benar-benar terjadi pada tanggal 12 Desember sebulan kemudian. Kaum terpelajar, para intelektual tidak mau ketinggalan ikut turun ke jalan. 

Kedua, Isu yang diusung adalah masalah penistaan agama atau pelecehan Al-Quran. Hak untuk meyakini kebenaran agama termasuk HAM, yang tidak boleh dinista dan dilanggar oleh siapapun. Ikutsertanya kelompok Non Muslim kemungkinan salahsatunya disebabkan Ahok pernah secara sengaja atau tidak melecehkan agama mereka. Atau setidak-tidaknya mereka ingin menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh gubernur DKI waktu itu bukanlah ajaran mereka.

Ketiga dan keempat, kesamaan nasib sepenanggungan disini meliputi mayoritas Ummat Islam yang merupakan penduduk di Indonesia yang merasa terhina oleh pernyataan dipulau seribu itu yang sekaligus bias dan tumpang tindih denganperan Ahok yang dianggap representasi dari penjajahan ekonomi Aseng terhadap ekonomi pribumi yang sebagian besarnya adalah UKM dan mikro. Oleh karenanya, kesuksesan ABI 212 bisa sukses karena dukungan dana dan logistik dari para saudagar Muslim yang berinfak dan bersedekah.

Pengaruh simbol Bendera Tauhid pada efektifitas gerakan massa.

Perlu disampaikan disini bahwa tujuan tulisan ini untuk menemukan syarat bagi efektifnya sebuah gerakan massa. Oleh karenanya jika ada unsur yang justru menyebabkan berkurangnya efektifitas massa, karena kelompok massa tertentu merasa tidak identik, bahkan merasa tidak in-grup dengan dikibarkannya simbol bendera dalam aksi-aksi massa, maka perlu untuk direnungkan kembali. Misalnya dari saudara kita kaum Nahdliyyin. Apalagi kelompok non Muslim. Maka faktor pertama dari aksi massa yang efekitif, yaitu bersatunya para Ulama tidak terpenuhi.

Apakah kaum Nahdliyyin tidak suka dengan bendera Tauhid? Nanti dulu. Seluruh kaum Muslimin, tanpa kecuali selalu berupaya mengidentikkan dirinya dengan identitas Nabi Muhammad SAW, tetapi perspektifnya yang tidak sama. Dalam doa kaum Nahdliyyin ada yang berbunyi : “Dan dibawah panji-panji Liwa (berwarna putih) Sayyidina Muhammad semoga dihari kiyamat nanti kami digiring”. Orang NU juga meyakini akan datangnya Imam Mahdi yang membawa Ar-Royah. Masih perlu waktu untuk menyamakan perspektif tersebut. Tetapi yang jelas gerakan massa Islam tidak akan efektif jika semua Ormas Islam tidak bisa bersatu. Itulah pesan utama penulisan artikel ini.

Wallahu A’lam

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait