ArtikelFeatured

Akhirnya Menpora Kena Juga

Oleh : M. Nigara (Wartawan Olahraga Senior)

Menpora, Imam Nahrawi jadi juga tersangka. KPK, Kamis (18/9) mengumumkannya dalam jumpa pers. Dunia olahraga nasional kembali berguncang. Ini merupakan menteri kedua di jajaran kemenpora, sebelumnya Andi Malarangeng yang terseret kasus Sentul.

Untuk kalangan dunia olahraga nasional, khususnya dijadikannya Imam Nahrawi sebagai tersangka, sesungguhnya bukanlah kejutan. Meski belum bisa dibuktikan, kabar adanya permainan anggaran di lingkungan kemenpora, sudah bukan hal aneh.

Sekali lagi, ini bukan tudingan, tapi rumor yang beredar di kalangan dunia olahraga nasional, nadanya seperti itu.

Tak heran jika BPK dua kali berturut-turut membuat opini disclaimer pada kementerian itu. Seperti diturunkan republika.co.id (29/3/18). Tahun 2017, Kemenpora mendapatkan opini disclaimer atau tidak menyatakan pendapat dari BPK dalam penggunaan anggaran tahun 2016. Opini tersebut adalah penilaian terburuk dari BPK terkait pengelolaan anggaran.

Kemenpora telah mendapatkan opini tak memberikan pendapat dari BPK sebanyak dua kali. Pada laporan audit 2016, atas penggunaan anggaran 2015, BPK juga mendapuk Kemenpora sebagai salah satu kementerian dengan pengelolaan anggaran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Jadi, sebetulnya, sudah sejak awal, ada yang tidak beres atas pengelolaan keuangan di sana, tetapi menpora sendiri seperti sakti mandraguna. Ia seolah tak terjangkau.

Kiprahnya seperti akan berhenti saat pesta olahraga bangsa-bangsa Asia, Asian Games ke-20, 2018. Waktu itu ada kasus sosialisasi AG, di beberapa kota. Arah anak panah sudah ke sana, tapi kemudian berbelok arah.

Menpora kembali tersenyum. Namun KPK tak menyerah. Perlahan tapi pasti, akhirnya kena juga. Kita ingat pepatah lama, Sepandai-Pandai Tupai Melompat, Akhirnya Jatuh Juga.

Artinya tidak ada orang yang sempurna di mana setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan/kejahatan/kegagalan. Begitulah akhir dari perjalanan seorang Imam Nahrawi.

Non Partisan

Menyimak dua kasus Andi Malarangeng dan Imam Nahrawi, kedepan pos kementerian itu harus diisi oleh orang yang bukan politisi. Meski tak separah di era Imam, di era Andi juga ada orang-orang partai yang berkeliaran di kementerian. Kehadiran mereka kasat mata, mencari dana.

Kabarnya di era Imam ada puluhan anggota partai yang ditempatkan di pos-pos tertentu dan rata-rata menjadi penentu. ASN yang sesungguhnya menempati posisi struktural, justru seperti pelayan saja. Meski kabar ini sudah beredar ramai, tapi, kita tetap harus mendalami untuk membuktiannya.

Di samping itu, kedepan pemuda dan olahraga wajib dipisahkan. Pemuda, seluruh aktivitasnya bersentuhan dengan politik praktis, sementara olahraga, seluruhnya untuk keharuman bangsa dan negara. Dan sepanjang ada kementerian yang afiliasinya kemenpora sejak 1948, baru Maladilah satu-satunya menteri yang berasal dari dunia olahraga. Maladi adalah mantan kiper nasional.

Semoga dengan ditersangkakannya Imam Nahrawi, maka seluruh kasus yang ada di kemenpora bisa terungkap kepublik. Dan semoga juga pemerintah tidak keliru lagi untuk mendanai dunia olahraga. Serta dana olahraga tidak lagi jadi bahan bancakan. Aamiin…

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up