Artikel

Ahok, Bukan Sekadar Al-Maidah! Paham Nggak Kalian?

Oleh: Ahmad Khoirul Fata
Penikmat Media Sosial

Keputusan MA menolak Peninjauan Kembali (PK) kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi viral beberapa hari ini. Semula, Ahok dan kawan-kawan begitu optimis dirinya akan dibebaskan. Alasan utamanya adalah adanya vonis 1,5 tahun terhadap Buni Yani karena dianggap telah mengedit pidato Ahok. Vonis ini dijadikan dalih oleh Ahok untuk membuktikan bahwa pidatonya tentang Al-Maidah 51 itu tidak bermasalah. Tapi masalahnya terletak pada editan yang dibuat Buni Yani.

Seandainya PK-nya diterima, Ahok akan menjadi pihak yang bersih. Tuduhan bahwa dirinya membenci dan memusuhi Islam karena telah melecehkan ayat Al-Qur’an otomatis akan gugur. Dan ujung-ujungnya, mantan Gubernur DKI yang dikenal kasar itu dapat meniti karier politiknya dengan nyaman di 2019. Dan santer terdengar, pria asal Bangka Belitong itu sudah digadang-gadang akan menjadi pendamping Jokowi pada Pilpres 2019 nanti. Apalah daya, skenario indah itu gagal. Ahok pun tetap harus menjalani masa tahanannya.

Namun jika seandainya saja PK Ahok dikabulkan, dan dia dibebaskan dari tuduhan pelecehan agama, apakah ia benar-benar menjadi sosok yang bersih tanpa noda?

Kita mungkin belum lupa, betapa Ahok pernah mengeluarkan larangan penggunaan lapangan Monas untuk kegiatan keagamaan Islam atau larangan takbir keliling dengan alasan menganggu lalu lintas. Di saat bersamaan ia mengizinkan digelarnya kegiatan agama lain di Monas. Ahok juga mengizinkan kegiatan hura-hura tahun baru di sepanjang jalan-jalan Jakarta. Padahal kegiatan ini jelas-jelas menganggu arus lalu lintas.

Sikap dan perilaku Ahok itu menjadi indikasi atas ketidaksukaan-nya pada umat Islam Jakarta. Seandainya pun sikap Ahok itu bukan ekspresi ketidaksukaan, paling tidak Ahok dipandang sebagai pemimpin yang keputusan-keputusannya banyak merugikan masyarakat Jakarta yang mayoritas Islam.

Ahok juga dikenal kasar. Caci maki, umpatan, dan misuh-misuh menjadi hobinya. Memperlihatkan kualitas pribadi dan kepemimpinannya yang rendah dan tidak beradab. Semua Sikap dan perilaku itu mencerminkan karakter kepemimpinan yang tidak baik. Dan ternyata, kepribadian rendah itu memberikan pengaruh besar pada gaya kepemimpinan Ahok.

Banyak kasus yang menyeret namanya. Seperti kasus RS Sumber Waras, pembelian tanah di Cengkareng, dan eks lahan Kedubes Inggris yang diduga merugikan duit negara ratusan miliar rupiah. Kasus lainnya, pengelolaan dana CSR dari berbagai perusahaan yang tidak transparan. Dan magnum opus-nya adalah kasus reklamasi yang diduga melibatkan uang ratusan triliun rupiah.

Bukan hanya saat menjabat gubernur, Ahok juga disebut-sebut terkait kasus korupsi E-KTP. Seabrek kasus korupsi yang menyeret-nyeret mantan bupati Belitung Timur itu menggambarkan betapa dirinya bukanlah pemimpin yang benar-benar bersih.

Dalam mengambil keputusan, Ahok pun cenderung grusa-grusu tanpa mengindahkan hukum dan aturan yang ada. Dan terbukti, dia berkali-kali kalah di pengadilan. Dikalahkan oleh warganya sendiri.

Berbagai perlawanan terhadap arogansi Ahok telah dilakukan. Namun mantan pasangan Jokowi pada Pilgub DKI 2012 itu tetap bertahan. Hukum seolah enggan menyentuhnya. Maka wajar jika Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menyebut Ahok sebagai “orang sakti”.

Kabar yang beredar menyebutkan, Ahok di-back-up sembilan naga penguasa ekonomi Indonesia. Kabar angin juga menyebut, “bos besar” berdiri di belakangnya. Karena itulah dia begitu “berani” (baca: arogan) dan sakti.
Maka, melihat Ahok seyogyanya tidak disimplifikasikan pada kasus Al-Maidah belaka. Melihat Ahok harus secara utuh. Ahok adalah penista agama, sekaligus penguasa yang banyak membuat derita bagi rakyat bawah.

Sesungguhnya kasus Al-Maidah 51 itu hanyalah pintu masuk bagi masyarakat untuk menggulingkan sang penguasa tiran. Ketika semua kasus-kasus hukum yang menimpa Ahok berguguran terkena ajian “kebal hukum”-nya, tiba-tiba Allah menyelipkan lidah Ahok di Pulau Seribu. Melalui selip lidah inilah kaum agamawan bersatu dengan masyarakat miskin yang telah bosan dengan kelalimannya bergerak melawan penguasa. Al-Maidah 51 telah mempersatukan emosi keagamaan dengan tangisan kaum proletar yang lelah dengan kedzaliman yang menimpanya.

Dan terbukti, kesatuan doa dan air mata itu pun menjadi gelombang besar merobohkan kelaliman. allahu a’lam.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up