Artikel

Ada Apa dengan Prabowo?

Oleh : Adi Prayitno

Pengamat Politik

 

Jelang pendaftaran kontestan pilpres ke KPU, Prabowo Subianto yg sejak awal digadang siap menantang ulang Jokowi justeru mengutarakan statement politik mengejutkan. Ia siap tak maju jika umat menghendakinya dan ada figur lain yang lebih mantap.

Ungkapan yg disampaikan dalam acara ijtima’ ulama GNPF Jumat malam lalu itu sontak saja memantik spekulasi publik. Di tengah upaya publik menanti sosok penantang Jokowi, Prabowo yg sedari awal diprediksi maju malah siap mundur. Ada apa dengan Prabowo?

Setidaknya ada 3 hal penting yang bisa diraba-raba terkait pernyataan Prabowo itu.

Pertama, pernyataan Prabowo bisa dimaknai sebagai sikap legowo karena banyak kalangan ingin Prabowo tampil menjadi king maker saja di pilpres 2019. Masa Prabowo dianggap sudah ‘selesai’ dan berat melawan Jokowi.

Banyak kisah sukses (succes story) yang bisa dijelaskan ketika Prabowo  tambil sebagai dalang politik. Dua peristiwa politik paling fenomenal ialah keberhasilan mengantarkan Jokowi dan Anies Baswedan ke singgasana DKI 1. Racikan tangan dingin Prabowo meracik strategi politik terbukti ampuh. Prabowo seakan ditakdirkan hanya sebagai juru taktik pemenangan.

Kedua, pernyataan Prabowo bisa dimaknai sebagai upaya menurunkan daya tawar Prabowo krn PKS dan PAN juga ngotot dengan nematok posisi cawapres. Jika semua ngotot koalisi non pemerintah terancam bubar. Koalosi tak bisa dibangun dengan egoisme sektoral. Harus ada kalimatan sawa’ (kalimat bersama) utk merakit kekuatan bersama.

Artinya, jika Prabowo berkenan tak dicalonkan kembali, tentu PAN dan PKS harus legowo jika cawapres bukan dari mereka. Ini strategi tarik ulur apik untuk meredakan ketegangan. Apalagi pada saat bersamaan Demokrat mulai membuka pintu lebar utk bergabung dengan tanpa harus AHY sebagai cawapres.

Ketiga, Prabowo mulai rasional dengan kalkulasi politiknya yang dalam banyak hal kalah sama Jokowi. Mulai dari elektabilitas hingga dukungan parpol. Tentu saja Prabowo tak mau dalam laga tanding ulang melawan Jokowi tak memberi perlawanan berarti. Prabowo adalah prajurit, sekalipun kalah harus terhormat.

Saat ini, arah mata angin politik memang tak terlampau menguntungkan Prabowo. Ia kalah segala-galanya dari Jokowi. Kondisi inilah yang akhirnya memaksa Prabowo berfikir realistis soal hasratnya maju kembali. Sebab, Jokowi tak bisa dilawan hanya dengan gaya-gaya koboi seadanya. Tak bisa pula dilawan dengan terus membakar sentimen emosi umat. Jokowi hanya bisa dilawan dengan akal sehat. Dalam konteks inilah kemudian Prabowo sepertinya mulai tawadu‘ (menerima keadaan apa adanya) untuk maju pilpres kembali.

Di luar itu, mungkin saja ungkapan Prabowo semata gimmick politik belaka untuk merawat stamina publik soal sosok Prabowo. Semacam ‘iklan gratis’ di media karena Prabowo akan terus dipergunjingkan. Pastinya, hanya Prabowo dan Tuhannya saja yg tau. Sebab, dalam politik anything can happen.

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait