Artikel

71 Tahun PII: Revitalisasi Peran di Pentas Nasional

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Saya tak begitu menyadari sedang direkrut menjadi anggota PII (Pelajar Islam Indonesia). Ketika itu, menjelang Ramadhan tahun 1981, Ustaz Abdullah Kaoy mengabarkan akan ada training di Sabang. Dia mengajak saya, sahabat Usman Hasyim dan teman-teman lain menjadi peserta. Dia tak beritahukan training apa, tapi hanya mengatakan untuk latihan mental. Mental yang dimaksudkan pun adalah sebatas melatih keberanian. Abdullah kaoy adalah guru mengaji kami di HIQQAH (Himpunan Qari dan Qariah) Sabang.

Ternyata, training tersebut berlangsung di kampung kami, Balohan, Sabang. Saya dan Usman ikut menjadi peserta bersama puluhan peserta lainnya dari seluruh sabang, yang berlangsung selama sepekan di SDN Balohan. Kami tak dibenarkan pulang ke rumah, karena pelatihannya berlangsung siang malam. Sedikit sekali waktu untuk tidur dan istirahat. Para instruktur (pelatih) umumnya datang dari Banda Aceh, di antara yang saya ingat: A Wahab Musa, Mustafa Gelanggang, Surya Sulaiman, Zaini Zakaria Alwy, dan Cut Maneh.

Selama sepekan, kami digembleng sebagai kader umat yang militan, mampu memimpin dan terampil berpendapat di depan publik. Beberapa materi disajikan: kepemimpinan, keorganisasian, ke-PII-an, teknik rapat dan diskusi, pemecahan masalah, teknik pidato, dan masalah-masalah aktual tentang kepelajaran. Metodanya lebih banyak diskusi, debat dan curah pendapat. Beberapa diskusi mengarahkan kami bersikap kritis terhadap kekuasaan yang tidak berpihak kepada Islam dan umat Islam.

Hal menonjol yang saya alami dan dibenarkan beberapa senior, setelah mengikuti training yang berlabel Leadership Basic Training (LBT) itu, saya menjadi lebih percaya diri, memiliki komitmen yang tinggi terhadap Islam dan agak berani mengeluarkan pendapat. Biasanya, saya agak pendiam dan tidak banyak berbicara. Saya merasakan kecut juga atas uji keberanian yang dilakukan seorang instruktur, Zaini Zakarian Alwy. Sekarang, dia seorang petani dan tokoh masyarakat, tinggal di Jantho Aceh Besar.

Beberapa tahun berikutnya, saya terus mengikuti training PII misalnya Mental Training (Aneuk Laot Sabang 1982 dan Jeunieb 1983), Couching Instruktur (Lamyong 1987) dan Leadership Advance Training (Keumangan 1987). Demikian juga “karier” kepemimpinan PII terus meningkat dari tahun ke tahun, seperti terlihat pada tabel di bawah ini:

Jabatan Jenjang Tahun
Wakil Ketua Departemen Penerangan PD PII Sabang 1982-1984
Ketua Bidang Ekstern Komisariat PII FKIP 1986-1987
Ketua Bidang Pembinaan Masyarakat PD PII Perguruan Tinggi 1987-1988
Ketua Bidang Kaderisasi PW PII Aceh 1988-1990
Ketua Bidang Ekstern/Humas PW PII Aceh 1991-1992
Bidang Pers dan Penerbitan PW KB PII Aceh 2003-2008
Bidang Siasah PW KB PII Aceh 2008-2014
Bidang Ekonomi PW KB PII Aceh 2014-2017
Wakil Sekretaris PW KB PII Aceh 2017- sekarang

Dari pengalaman mengikuti berbagai jenjang training pengkaderan, kepemimpinan dan menjadi instruktur PII sejak 1981, saya merasakan mendapat pembinaan yang instensif dari para senior untuk menjadi pribadi yang terlatih, pembelajar dan komited terhadap Islam. Hampir seluruh kader PII tentu mengalami hal serupa, sehingga rata-rata kader PII tidak mengalami kesulitan dalam bidang karier, bisnis dan politik. Mereka telah ditempa dengan pengalaman berorganisasi dan kepemimpinan yang memadai.

Sebagai refleksi milad PII ke 71 (4 Mei 1947 – 4 Mei 2018), saatnya aktivis PII dan kader yang telah menjadi alumuni (Keluarga Besar PII) kembali merenungkan peran perjuangan dan historis PII. Dari pembelajaran masa lalu, PII dapat melakukan revitalisasi gerakan, sehingga peran dan kiprah PII semakin penting dalam membantu pelajar dan pemuda untuk sukses menempuh studi ke jenjang yang tinggi, serta terampil dalam memimpin umat dan bangsa di masa akan datang. Sudah waktunya PII dan Keluarga Besar PII meningkatkan peran politik dan ekonomi, sehingga kehadirannya semakin strategis di pentas Nasional.

PII yang sejak bangkit tahun 1947 mencita-citakan islamisasi pendidikan dan kebudayaan, seharusnya merumuskan kembali cita-cita tersebut, sehingga tidak terbatas implementasi syariat Islam dalam lingkup pendidikan dan kebudayaan, tapi cita-cita PII mencakup islamisasi yang lebih luas, meliputi seluruh aspek kehidupan. Sudah waktunya PII merumuskan tujuan tegaknya syariat Islam yang kaffah di Indonesia.

Dengan rumusan tujuan baru itu, PII dapat melakukan revitalisasi peran dalam pembangunan bangsa dengan mengoptimalkan potensi pelajar, pemuda dan umat Islam. Pada tingkat kepelajaran dan kepemudaan, garapan pembinaannya dapat dilakukan oleh pengurus PII, sementara pembinaan keumatan dan kebangsaan diperankan oleh pengurus Keluarga Besar PII yang bersinergi dengan berbagai Ormas dan Lembaga Dakwah Islam lainnya.

Saya berkeyakinan, bahwa dengan pengalaman, sumber daya dan jaringan yang dimiliki PII dan Keluarga Besar PII, kedua organisasi kakak beradik ini mampu memanfaatkan peluang yang tersedia berupa kesadaran umat Islam, iklim bangsa yang kondusif dan sumber daya umat Islam Indonesia. Maka, tampillah PII dan KB PII sebagai motor penggerak tegaknya syariat Islam kaffah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia. Selamat milad ke 71 PII.

Banda Aceh, 3 Mei 2018

Sumber: Steemit @sayedhusen

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up