Artikel

Sekolah Formal Harus Beradaptasi dengan Sistem Pendidikan Nonformal

Banner IDwebhost

Oleh: Bathalatu Karbela Al-khumairah

Di masa pandemi seperti saat ini sektor pendidikan merupakan salah satu sektor yang mengalami dampak yang signifikan. Hal tersebut betul-betul mengubah total tatanan pendidikan di Indonesia bahkan di dunia tentang cara siswa belajar dan cara guru mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa.

Berdasarkan data dari Kemdikbud pada tahun 2020, jumlah peserta didik di Indonesia dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah atas berjumlah  45.684.771 siswa. Sungguh jumlah yang fantastis bukan? Lalu bagaimana nasib 45 juta siswa tersebut dengan adanya masa pandemi saat ini?

Hanya sedikit sekolah yang memiliki persiapan yang baik dalam menerapkan sistem pembelajaran berbasis teknologi dan pembelajaran jarak jauh. Bagaimana nasib sebagian besar sekolah yang tidak pernah mempersiapkan dan memprediksi akan datangnya masa seperti ini? Apalagi mengandalkan teknologi sebagai satu-satunya jalan dalam melakukan pembelajaran merupakan hal yang sulit.

Baca juga: Era New Normal ; Sekolah Harus Dinamis, Jangan Tergantung Guru dan Pemerintah

Pada kenyataannya, teknologi bukanlah satu-satunya jalan untuk bisa menjamin terselenggaranya pendidikan. Hal terpenting dan substasial dari tujuan pendidikan itu adalah pembentukan karakter. Kita tentu menginginkan agar dengan terselenggaranya pendidikan, maka akan menghasilkan SDM yang bisa menjawab setiap problem yang terjadi dalam kehidupan. Dengan kata lain bisa menjadi problem solver dalam menjawab tantangan kehidupan.

Pendidikan yang paling tepat untuk diterapkan di masa pandemi yakni dengan merombak kurikulum yang diterapkan di setiap sekolah. Tujuannya agar jangan sampai capaian-capaian itu memiliki bobot yang sama dengan kondisi pada saat sebelum pandemi. Mengubah pendekatan pembelajaran yang semula menggunakan pendekatan pedagogi menjadi pendekatan andragogi.

Semisal untuk mata pelajaran Ekonomi dan Bisnis pada jenjang pendidikan SMK. Seharusnya jangan ada lagi kegiatan menjejali siswa dengan segudang teori tentang ekonomi. Namun ubahlah cara belajar yang semula menggunakan pendekatan pedagogi, menjadi pembelajaran dengan pendekatan andragogi. Sebuah pendekatan yang biasa diterapan pada pendidikan non formal. Siswa diperlakukan sebagai orang dewasa, dan pembelajaran berorientasi pada tantangan-tantangan kehidupan nyata. Siswa digiring untuk bisa menemukan sendiri konsep ilmu pengetahuan yang ia butuhkan untuk hidup. 

Baca juga: Kenapa Anak Usia Sekolah Harus Membaca Buku?

Salah satu contoh penerapan pembelajaran Ekonomi dan Bisnis di jenjang SMK bisa diuraikan sebagi berikut. Untuk menggiring siswa agar bisa memahami materi pembelajaran semisal dalam satu semester terdapat materi Jenis-jenis Pasar dan Hukum Permintaan dan Penawaran.

Seorang guru jangan lagi mengajar siswa dengan memisahkan materi tersebut berdasarkan judul materi. Buatlah sebuah rancangan proyek yang realistis untuk dilakukan oleh siswa agar dalam pembuatan proyek tersebut siswa secara tidak sadar bisa mempelajari apa itu bentuk-bentuk pasar dan bagaimana kaitannya dengan hukum permintaan dan penawaran barang.

Guru bisa menugaskan siswanya membuat proyek kegiatan. Siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang bisa dipasarkan pada salah satu jenis pasar yang berada di lingkungannya. Tentu dengan memperhatikan aspek tingkat permintaan terhadap produk yang diminati serta menganalisis tingkat penawaran produk tersebut.

Dengan analisis tersebut siswa akan mengalami proses berpikir dan mencari tahu. Apa saja bentuk-bentuk pasar dan mengapa harus memilih produk A, B, atau C untuk dijual. Sebelum memutuskan produk mana yang akan dijual, tentu siswa akan mencari tahu pengertian permintaan dana dan penawaran, serta bagaimana hukum tersebut bekerja.  

Paling tidak meskipun kerangka berpikir analisis oleh setiap siswa berbeda-beda dalam segi kedalamannya, namun pembelajaran akan berlangsung berdasarkan inisiatif mereka sendiri. Sehingga ilmu pengetahuan yang digali berdasarkan kebutuhan masing-masing diri mereka biasanya akan melekat lebih lama daripada sekadar menjejalkan teori-terori serta definisi-definisi ilmu pengetahuan tanpa mengetahui substansi kebutuhannya serta kaitannya dengan kehidupan nyata. 

Artikel Terkait

Back to top button