Banner IDwebhost
Artikel

Gempa Lombok, Briefing Langit

Banner IDwebhost

Oleh Ahyudin
Presiden ACT

Pekan-pekan ini, sentrum narasi negeri menyuguhkan tema politik. Elit berhimpun, sebagaimana politisi. Lintas partai membincang pucuk pimpinan negeri. Pengkutuban antar masyarakat, menguat. Langkah-langkah menebar pengaruh, terang-benderang dipertontonkan. Masyarakat tersihir dengan pesona “atraksi politik” yang melalaikan pokok masalah kebangsaan, sampai kemudian langit mengalihkannya. Gempa berkekuatan 6,4 SR mengguncang Lombok Ahad pagi, disusul berpuluh kali gempa susulan.

Ini menjadi pemberi peringatan. Batin yang terhubung ke langit, nurani yang peka pada warning, niscaya bisa menangkap sinyal itu, hal yang tak tertangkap batin yang lalai. Insan ACT menerima itu sebagai “briefing langit”, panggilan rapat cepat untuk segera berbuat sesuatu. Stop hiruk-pikuk yang melalaikan tugas-tugas penting kemanusiaan; jangan perpanjang umbar narasi yang jauhkan nalar dari sadar, lengahkan sadar dari hal-hal utama. Keriuhan yang rawan bohong, kuat tarikan duniawi dan syahwat.

Jakarta dan Lombok. Dalam waktu yang sangat dekat, bertaut isu diametral. Tatkala gempita dukung-mendukung bergema, adu wacana ditabuh di Jakarta, nun di Lombok, Nusa Tenggara Barat, kemenangan wong cilik tingkat dunia – Lalu Muhammad Zohri – tiba-tiba mengisi ruang publik bangsa Indonesia. Tak tergeserkan, membangun inspirasi untuk bangkit melawan kejumudan. Sesaat Indonesia diajak kembali melek: ada ketertinggalan panjang, kemiskinan yang terlalu lama di Lombok dan sejumlah tempat lainnya. Ada hal-hal utama di bangsa ini abai dari perhatian di tengah “panen koruptor” yang terus saja terjadi. Sebetulnya serius atau tidak pemberantasan korupsi itu, sehingga begitu kerap koruptor “tertangkap tangan”, tidak main-main, tertangkap tangan! Sebuah kejadian yang seharusnya sangat langka!

Tak seberapa lama, tatkala kian intens udara di pusat negeri dipenuhi perbincangan siapa “tokoh nomor dua” alias wakil presiden, dan bukan “tokoh utama negeri” yang dibincang, alam bereaksi. Langit menyemprit. Seolah wasit memberlakukan time out. Ada yang harus diingatkan karena banyak orang termasuk penyandang amanah langit dan pengikutnya, mencoba meyakinkan penduduk bumi di Indobesia, ketokohan yang sudah berjalan sudah tepat betul sehingga cukup diganti tokoh nomor duanya saja, negeri ini akan baik-baik saja. Langit keberatan, alam bereaksi seakan berkata tidak. Maka Lombok yang sama, yang sudah menunjukkan kemenangan wong cilik di level dunia itu, bereaksi. Kali ini, ia tak tanggung-tanggung. Mengguncang bumi di akhir pekan hingga banyak bangunan rontok, manusia jatuh korban atau terluka, kegiatan reguler terganggu. Sekejap, semua membincang gempa Lombok.

Semoga semua segera kembali pada tugas pokok. Urusan pokok. Masalah pokok, dan hal-hal prioritas tak salah fokus. Tak sibuk semata unjuk “figur kedua” semata, bukan “tokoh terbaik” bagi bangsa ini saat ini dan untuk mengatasi problem urgent saat ini. Indonesia pasca gempa Lombok, “pasca briefing langit”, sadar pada isu prioritas dan segera mengendalikan kemudi kebangsaan sebagaimana mestinya. Sadar untuk tak membiarkan kemudi negeri mengarahkan kendaraan bangsa ke arah yang salah.

Artikel Terkait

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker