Banner IDwebhost
ArtikelFeatured

Akhirnya Shin Tae Yong

Banner IDwebhost

Oleh M. Nigara (Wartawan Olahraga Senior Stafsus Menpora)

PERBURUAN pelatih tim nasional Indonesia, Sabtu sore (28/12/19), selesai sudah. PSSI akhirnya memilih dan mengumumkan Shin Tae-Yong (50), pelatih asal Korea Selatan untuk menangani tim nas semua lapisan.

Lazimnya pelatih modern, STY, akan didampingi sedikitnya empat orang atau lebih dari negaranya dan beberapa pelatih lokal sebagai pendamping. Diharapkan pelatih lokal yang akan menjadi pendamping itu, mampu menyerap ilmu STY dan timnya. Transfer-Knowledge atau transfer pengetahuan ini tak kalah penting dari capaian yang diharapkan.

Dulu, pelatih asing yang dikontrak hanya membawa satu asisten. Namun sejak era 1990an, keadaan berubah. Para pelatih memboyong asistennya dari negara asal untuk alasan keseragaman tata-kelola.

STY memang gagal meloloskan Korsel dari grup F, piala dunia Rusia 2018. Dua kali kali dari Swedia (1-0) dan Meksiko (2-1). Tapi dilaga terakhir, STY mempermalukan Jerman, juara dunia empat kali, dengan skor 2-0.

Tiga Faktor
Banyak orang bertanya, apakah PSSI tidak keliru memilih STY dan bukan kembali ke-Luis Mila? Menurut saya, sekali ini PSSI sama sekali tidak keliru. Tentu pendapat saya tidak absolut, tidak mutlak. Dan jika ada pihak yang berpendapat bahwa Mila-lah yang lebih tepat, saya pun tidak akan membantah.

Pengalaman lapangan saya, catatan sejak 1982, saya dipercaya oleh institusi saya, Kompas, BOLA, Media GO, Sinar Pagi, dan Berita Buana, untuk mengikuti timnas segala lapisan, mengatakan: bahwa kekurangan pemain kita ada tiga.

Pertama fisik, kedua disiplin, dan ketiga kemauan. Dari tiga faktor itu, hanya 1 dan 2 yang terkait langsung dengan teknik. Sementara faktor ketiga, kapan-kapan akan saya bahas secara spesial.

Nah terkait fisik, almarhum M. Saelan, mantan kiper nasional 1950-60 dan mantan Ketum PSSI (1964-67), para pemain kita hanya mampu bermain sekitar 30 menit saja. Itu pula yang ditemukan oleh pelatih asal Soviet/Ukraina, Anatoli Polosin, juga almarhum. Maka, Polosin pun saat melatih, berkonsentrasi penuh pada fisik. Dan hasilnya, 1991, kita meraih emas di Seag Manila. Padahal kala itu kita bermain lebih dari 120 menit. Dalam adu penalti itu, Thailand justru kehilangan daya tahannya.

Endurance atau daya tahan pemain kita rata-rata jeblok. Hal ini disebabkan kesalahan dari tingkat awal. Hampir semua pelatih kita, selalu mempersiapkan strategi. Sementara fisik hanya digarap seadanya. Akibatnya ya seperti itu. Dan, ini otokritik, pelatih kita (tidak seluruhnya) sering kali melatih berdasarkan pengalaman bukan berdasar pada ilmu dan perkembangan. Sementara sepakbola sudah berkembang demikian dahsyat.

Lalu soal disiplin atau kedisiplinan. Sekali lagi, ini otokritik, pelatih kita (juga tidak seluruhnya) rata-rata tidak mampu membangun sektor ini.
Bahkan dulu, para pelatih dan pemain sama-sama melakukan hal-hal yang jauh dari sikap disiplin. Misalnya yang paling sederhana, sama-sama ngayap malam hari.

Nah, dua sektor ini, lagi-lagi berdasarkan pengalaman impiris, pelatih Korsel sangat ketat. Hampir tidak pernah terlihat atlet atau pemain Korsel bermasalah dengan daya tahan fisik. Selain asupan pangan yang memang luar biasa, mereka juga menggunakan lebih dari 50 persen membentuk fisik.

Jangan Terkejut
Khusus sektor ini, saya ingin mengajak kita semua untuk tidak terkejut. Hal-hal yang akan kita lihat nanti, sesungguhnya bukan hal yang baru, tapi kita sering menilainya agak berlebih.

Apakah itu?
Pelatih Korsel dikenal ringan tangan. Saya menyaksikan berulang kali, dan yang paling membekas terjadi saat Ju Do Chun, juara dunia tinju super Flyweight versi IBF. Malam itu (3/5/1985), menjelang kamar ganti di Istora Senayan, Chun dihajar oleh pelatihnya.

Padahal, belum sepuluh menit lalu, Chun baru saja kehilangan gelarnya setelah kalah TKO-8 dari petinju kita, Elly Pical. Menurut sang pelatih, Chun tidak mematuhi intruksi sang pelatih. Soal kalah, bukan hal yang tidak bisa dimengerti, tapi jika atlet tidak mengikuti intruksi, apalagi kemudian kalah, maka itu indisipliner. Hukumannya jelas, dikemplangi. Kisah itu tidak hanya terjadi pada Ju Do Chun, tapi juga pada atlet Korsel yang lain.

Satu lagi. Saat itu, tahun 1989, saya ikut pelatnas sepakbola di Jinhe, Busan, Korsel. Tim berlatih di komplek duplikat Ragunan. Saat yang sama ada atlet panahan, wanita. Hanya karena tidak memberi hormat kepada mantan bomber timnas kita era 1960-70, Sutjipto Suntoro alias Gareng, sang atlet ditampar karena dianggap tidak disiplin. Penghormatan pada pelatih dan senior, juga jadi bagian penting di Korsel.

Nah, jika hal-hal itu terjadi dengan maksud disiplin, kita jangan terkejut. Jangan juga lantas kita serang karena kita anggap sikap itu tidak sesuai dengan adat-istiadat kita. Kita anggap berlebihan. Ini penting, menurut hemat saya.

Jadi, jika fisik beres dan kedisiplinan terjaga, saya sama sekali tidak khawatir soal teknik. Tanpa kedua sektor itu saja anak-anak kita sudah mampu menebar harapan, apalagi jika dilengkapi fisik yang bagus dan tingkat kedisiplinan yang tinggi, maka hasilnya bisa ciamik alias keren.

Secara teknis, tim asuhan Fahri Husaini dan Indra Sjafri, sangat menjanjikan. Tetapi, ketika lawan mengembangkan pola speed and power, anak-anak kita kedodoran. Mudah-mudahan di tangan Shin Ta Yong, apa yang kita impikan tentang prestasi, bisa tercapai.

Dan harapan Presiden Jokowi serta seluruh rakyat Indonesia, kita bukan hanya sekadar menjadi tuan rumah Piala Dunia U20, tahun 2021. Tapi juga bisa berprestasi. “Jangan hanya menggelar pestanya, tapi mbok yao,” kata Jokowi yang didampingi Menpora, Zainudin Amali saat menerima PSSI di Istana.

Mbok yao itu maknanya sangat dalam. Artinya STY mampu sedikitnya meloloskan anak-anak kita dari penyisihan grup. Syukur-syukur bisa lebih dari itu. Betul STY bukan cabai, artinya habis makan langsung pedas, tapi harapan itu juga bukan tanpa dasar.

Semoga sepakbola kita benar-benar sudah berada di jalan yang benar…..