Banner IDwebhost
Artikel

Amien Rais, Guru Politik Indonesia

Rangkuman
  • Menarik melihat Amien Rais di antara para begawan lainnya. Sekarang, hanya Buya Syafii saja kawan seperjuangannya yang masih hidup. Meski tampak berbeda jalan, dua-duanya hadir untuk selalu mencerahkan umat.
Banner IDwebhost

Amien Rais guru politik Indonesia oleh: Faldo Maldini

Nurcholish Madjid, salah satu pemikir Islam kenamaan di Indonesia, konon pernah hampir menyerah menyelesaikan disertasinya. Pemikiran Ibn Taimiyah yang dikulitinya ternyata terasa cukup alot. Musim dingin Kota Chicago yang tak pernah biasa pun terasa makin menusuk tulangnya.

“Cak Nur, Anda ini tokoh dan ketua HMI dua periode. Anda ini jangan menyerah menyelesaikan PhD,” begitu kira-kira kata seorang lelaki yang juga kolega seperjuangannya menyelesaikan studi doktoral di Universitas Chicago. Lelaki itu adalah Amien Rais.

Ketika itu, Cak Nur belajar filsafat kepada Bapak Neomodernisme Islam Fazlur Rahman. Sementara, Amien Rais menulis soal Ikhwanul Muslimin di Mesir pada Departemen Ilmu Politik. Setelah mereka berdua selesai, Ahmad Syafii Maarif juga menyusul ke universitas yang sama lewat surat rekomendasi Amien Rais. Abdurahman Wahid atau Gus Dur kemudian menjuluki mereka sebagai tiga pendekar dari Chicago.

Menarik melihat Amien Rais di antara para begawan lainnya. Sekarang, hanya Buya Syafii saja kawan seperjuangannya yang masih hidup. Meski tampak berbeda jalan, dua-duanya hadir untuk selalu mencerahkan umat.

Jika Buya ke kiri, maka Amien Rais ke kanan. Begitu juga sebaliknya. Jika Pak Amien ke kanan, Ahmad Syafii Maarif pun bergerak ke kiri. Gerakannya seperti disengaja dan direncanakan. Mereka tampak berupaya untuk saling mengisi kekosongan, agar dimanapun posisi politik generasi penerus pasti akan tetap bertemu satu di antara mereka. Dan mereka seakan bersepakat dalam sunyi memberi misal pada generasi muda bahwa berbeda fikir sesama sahabat itu hal biasa.

Permainan semacam ini tidak hanya terjadi saat pecahnya blok pendukung atau penyeimbang pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sudah dari jauh-jauh hari, dua tokoh tersebut seperti berbagi peran. Ketika Amien mendirikan Partai Amanat Nasional, Buya ambil kendali PP Muhammadiyah. Tidak ada protagonis atau antagonis antara dua tokoh ini, hanya saling berbagi untuk mengisi kekosongan.

Amien Rais adalah seorang Profesor Ilmu Politik yang sangat mumpuni. Tanya saja soal gagasan Plato, Hobbes, Barrington Moore, hingga Samuel Huntington bukan perkara sulit untuknya. Belum lagi, kita bicara soal pikiran Machiavelli. Mungkin, itu hanya olahraga otaknya. Falsafah aktivisme Islam sudah khatam pastinya.

Selain Guru Besar, Amien Rais juga seorang aktivis politik. Ketika Tanwir Muhammadiyah tahun 1993 di Surabaya, pidato Amien Rais membuat banyak orang ternganga. Dia bicara soal suksesi kepemimpinan nasional. Tema ini hanya bisa dibicarakan secara berbisik-bisik ketika itu karena pemerintahan berada dalam genggaman rezim otoriter.

Suksesi kepemimpinan nasional yang disampaikan oleh Amien ketika itu begitu terasa tajam. Apalagi, Muhammadiyah ketika itu adalah ormas Islam yang sangat mendapat tempat di lingkungan pemerintahan.

Ketajaman pernyataan tersebut lebih menyayat dibanding tagar 2019 ganti presiden (#2019GantiPresiden). Pernyataan Pak Amien ketika itu lebih menohok dibanding teriakan makar ke rezim yang lebih terbuka.

Gagasannya tersebut menjadi penggerak perubahan. Amien Rais adalah orang yang mengubah kritik bukan lagi hal yang taboo. Gelar Bapak Reformasi memang begitu pantas dia sandang. Untuknya. Dia dan hanya dia.

Pukulan Amien Rais soal “pengibulan” sertifikat tanah sebenarnya sudah sangat sopan. Beliau masih memaparkan data dan berbagai argumentasi yang logis. Dahulu, pernyataannya jauh lebih menakutkan daripada itu.

Sekarang, kita butuh berlaku lebih adil. Amien Rais bukan hanya seorang politisi, namun dia juga seorang professor di Universitas Gadjah Mada, salah satu kampus terbaik di negeri ini. Tempat dimana Presiden kita Bapak Joko Widodo pernah menimba ilmu kala muda belia.

Sebagai politisi, dia berhasil membuat pemerintah lebih mawas diri. Bahkan, Menteri Luhut Binsar Pandjaitan sampai lontarkan ancaman aksi bongkar dosa. Namun sebagai guru politik Indonesia, Amien Rais juga sukses merangsang murid-muridnya berdebat dan kembali berpikir.

Jika tidak dapat mendukung Amien Rais sebagai seorang politisi, maka selayaknya kita hormati Beliau sebagai seorang guru. Bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa guru-gurunya.


Faldo Maldini adalah Wakil Sekretaris Jendral Partai Amanat Nasional (PAN) & Alumnus Imperial Collage London

Tags

Artikel Terkait

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker