ArtikelFeatured

Hikayat MAR VS Doktor Kuntet Mangkulangit

Banner IDwebhost

Mohammad Amien Rais (MAR) adalah intelektual organik dalam perspektif Gramscian, seorang intelektual yg tidak nongkrong saja di atas menara gading dan tenggelam dalam dalam tumpukan buku-buku.

Intelektual organik turun ke jalan dan terlibat langsung dalam gerakan masyarakat menentang ketidakadilan, sedangkan intelektual tradisional sibuk dengan penelitian-penelitian semu dan bangga dengan gelar akademiknya yg berderet-deret sampai dua meter.

MAR sudah turun ke jalan pada 1998 menentang kekuasaan otoritarian Soeharto. Dia tak kenal takut, syaraf takutnya sudah putus. Melawan Soeharto MAR bertaruh nyawa bukan sekadar jabatan.

Amien Rais Muda Melawan Rezim Soeharto.

Kemudian MAR beraksi lagi ketika dianggapnya presiden Gus Dur melenceng lagi dari rel. MAR tak takut melengserkannya, lagi-lagi taruhannya nyawa bukan jabatan. Kepedulian dan keterlibatan MAR dalam perjuangan bersama rakyat berada pada level langit, level para dewa.

Sekarang nyali MAR masih tetap tinggi. Usianya sudah 75 tahun sudah terlihat tak selincah 20 tahun silam, tapi semangat perlawanan itu masih tetap ada padanya, tak terlihat surut ia menentang ketidakadilan.

Tak ada yang ditakuti MAR, jangankan gelar akademik, nyawanya pun ia pertaruhkan. Karena itu lucu kalau banyak lawan politik bertepuk tangan ketika UGM mengumumkan bahwa gelar akademik MAR sebagai Professor sudah dicabut karena sudah pensiun dan tidak lagi menghasilkan karya ilmiah. Seolah-olah MAR sangat terpukul oleh pencabutan gelar itu.

Memang begitulah cara pandang intelektual tradisional yang terkungkung di kampus. Mereka merasa bangga dengan karya-karya ilmiah yang harus disetor tiga kali setahun. Mereka bangga dengan gelar akademiknya meskipun itu berarti mereka menjadi intelektual budak alias kacung yang lupa menjalankan kewajiban organiknya.

Tak jarang untuk mengejar setoran mereka jadi tukang palak, memalak para mahasiswa untuk setor karya ilmiah yang kemudian diakui sebagai karyanya. Mereka bikin sibuk kejar setoran sampai tidak sempat memikirkan nasib bangsa. Pada gilirannya para mahasiswa dibuat sibuk melayani dosennya sampai tidak kepikiran lagi keadaan di sekelilingnya.

Dalam bahasa Ali Syari’ati MAR adalah Rausyan Fikr manusia merdeka yang tercerahkan, dengan intelektualitasnya ia mencapai pencerahan dan kemudian memakainya untuk mencerahkan rakyat melawan ketidakadilan.

Intelektual organik dan rausyan fikr adalah manusia merdeka, sedangkan para intelektual tradisional di kampus itu adalah kacung-kacung yang menjadi korban berkepanjangan imperialisme intelektual Barat. Mereka menjadi hamba Scopus dan tidak sadar bahwa mereka korban penjajahan intelektual Barat. Mental inlander (pribumi) menjadikan mereka bangga bisa bekerja sama dengan ilmuwan barat meskipun mereka hanya menjadi pesuruh.

Ada seorang doktor anyaran yang begitu bangga dengan kampusnya di Inggris dan mengolok-olok MAR. Dia lupa MAR lulus dari Chicago University dengan predikat cumlaude. Dibanding MAR anak kecil ini peanut.

Dia bangga melakukan riset dengan bule-bule dan pamer foto-foto dimana-mana. Badannya kuntet terlihat lucu di antara bule-bule. Mentalnya kuntet juga karena gak sadar bahwa dia adalah intelektual inlander. Toh dia merasa pinter setinggi langit. Pantaslah dia disebut si Doktor Kuntet Mangkulangit.

Para intelektual Doktor dan Professor kuntet mangkulangit jumlahnya ribuan di Indonesia, sedangkan intelektual organik kelas langit ala MAR jumlahnya bijian. Para doktor, professor kuntet mangkulangit sibuk kejar setoran Scopus dan sibuk memalak mahasiswa dengan ngasih tugas-tugas penelitian sampai-sampai mahasiswa terbuai lupa gak sadar dan diam saja melihat ketidakadilan di depan matanya.

Julien Benda tak ragu menyebut para intelektual kuntet mangkulangit itu sebagai pengkhianat. Dalam La Trahison des Clercs Benda mengatakan bahwa para cendekiawan yang mengurung diri di kampus dan tak peduli dengan ketidakadilan adalah cendekiawan pengkhianat.

Sejarah para intelektual besar pekat diwarnai perjuangan melawan hegemoni Barat. Edward Said adalah intelektual Amerika Nasrani blasteran Arab-Amerika, tapi dia adalah penentang utama hegemoni intelektual Barat dan berada pada garda terdepan pembela hak-hak bangsa Palestina.

Noam Chomsky, intelektual Yahudi-Amerika, tak punya takut menjadi pengkritik utama Amerika dan Israel. Ratusan karya tulisnya super kritis terhadap kebijakan Amerika. Ia menjuluki Amerika dan Israel sebagai teroris terbesar di dunia.

Mereka lah contoh intelektual organik sejati. Merekalah contoh rausyan fikr tingkat langit dan level dewa. MAR ada di level langit itu. Sementara para pengritiknya sekarang berada pada level kuntet si mangkulangit. (dad/Fn)

Artikel Terkait

Back to top button