Banner IDwebhost
Artikel

Anies-Sandi Effect

Banner IDwebhost

Oleh: Aswandi

Pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI 2017 menyita perhatian banyak orang di negeri ini. Sebagian orang mengatakan bahwa pilkada DKI 2017 merupakan barometer pemilihan presiden (pilpres) tahun 2019 yang akan datang. Oleh karena itu, mudah dipahami jika banyak orang sangat berkepentingan terhadap pilkada DKI 2017 tersebut.

Alhamdulillah, di luar dugaan pasangan Anies-Sandi mengalahkan pasangan Basuki-Djarot dengan selisih suara lebar, yakni 42,05% suara paslon gubernur Basuki-Djarot dan sebanyak 57, 95% suara paslon gubernur Anies-Sandi, padahal sepekan sebelumnya sejumlah survei menyebutkan elektabilitas keduanya terpaut tipis (1%).

Kemenangan Anies-Sandi mengingatkan penulis pada nasehat Hugo Saves selaku presiden Venezuela, ia menyatakan terdapat tiga kata kunci mencapai kemenangan, yakni: “Bersatu, Berjuang, Menang”, disingkat BBM.

Tim sukses kemenangan Anies-Sandi dan konstituennya menerapkan tiga kata kunci tersebut dalam perjuangannya. Sejak awal konsolidasi dilakukan secara intensif agar para pemilih bersatu melalui berbagai cara atau strategi, perjuangan dengan segala pengorbanan dilakukan secara santun sekalipun dihujani politik hitam dan fitnah kepadanya. Strategi tersebut menyadarkan masyarakat adanya dusta di antara mereka, pemilih menjadi muak menyaksikan perilaku elit politik dan elit ormas yang selama ini diasumsikan sebagai pundi pengumpul suara, ternyata tidak mampu berfungsi dengan baik, bahkan menjadi faktor penyebab kekalahan paslon yang didukungnya. Buktinya, antara lain sebesar 89% pemilih PPP dan sebesar 71% pemilih PKB memilih pasangan Anies-Sandi atau tidak memilih pasangan Ahok-Djarot sebagaimana perintah elit partai politik tersebut, dikutip dari Kompas, 21 April 2017. Kasus ini, sebuah bukti bahwa perintah atau bicara pemimpin tidak diikuti oleh sikap pengikutnya dan tentu saja kejadian ini sangat mempengaruhi eksistensi partai politik dan ormas tersebut di kemudian hari.

John Maxwell seorang pakar kepemimpinan menegaskan sebuah hukum kepemimpinan, bahwa “Jika seorang pemimpin perintahnya tidak diikuti dan bicaranya tidak didengar, berarti kepemimpinan telah hilang dan tercabut dari dirinya. Satu-satunya cara terbaik untuk menyelamatkan institusi/organisasi dibawah kepemimpinan kurang efektif seperti itu adalah segera ganti pemimpinnya”.

M. Qodari selaku Direktur Eksekutif Indo Barometer mengatakan bahwa terdapat tiga variabel mempengaruhi pilihan masyarakat pada pilkada DKI 2017: (1) rasional; persepsi mengenai kemampuan calon dan kinerja petahana; (2) kepribadian; kesukaan dan ketidaksukaan kepada kandidat; dan (3) sosiologis/primordial; kesamaan latar belakang, suku dan agama. Pasangan Basuki-Djarot unggul pada variabel pertama (kemampuan dan kinerja), dan lemah pada variabel kedua (kepribadian) dan ketiga (sosilogis), dikutip dari Kompas, 22 April 2017.

Penulis mengamati hal yang sama bahwa setiap pilkada termasuk pilkada DKI 2017 ini, barangkali juga pilpres tidak bisa membebaskan diri dari euphoria primordialisme dan pragmatisme. Faktanya, semua kandidat dan konstituennya menggunakan sentimen keagamaan, keetnisan dan membagi sembako untuk memperoleh kemenangan. Bukti kentalnya primordialisme, pada putaran pertama, sebanyak 97% non-muslim di pilkada DKI 2017 memilih pasangan Ahok-Djarot, dikutip dari Tempo. 26 Februari 2017.

Fakta lain, berdasarkan tingkat pendidikan pemilih; sebanyak 63,3% pemilih berpendidikan rendah, 59,2% pemilih berpendidikan menengah dan 45,9% pemilih berpendidikan tinggi memilih pasangan Anies-Sandi, selebihnya memilih pasangan Ahok-Djarot. Berdasarkan status sosial ekonomi (sosek); sebanyak 68,4% status sosek rendah, 59,4% status sosek menengah bawah, 60,9% status sosek menengah atas, dan 40,7% status sosek tinggi memilih paslon gubernur Anies-Sandi, selebihnya memilih paslon gubernur Ahok-Djarot, dikutip dari Kompas, 20 April 2017.

Ken Blanchard (2005) dalam bukunya “The Secret” menegaskan bahwa “jika anda dihadapkan pada sebuah pilihan dalam memilih pemimpin antara kemampuan/kecakapan atau kepribadian, maka utamakan memilih pemimpin karena kepribadiannya, baru mengembangkan kemampuannya”. Pakar kepemimpinan lainnya, Pouzner (2001) melakukan penelitian mendalam sebagaimana ditulis dalam bukunya “Credibility” menegaskan terdapat 4 (empat) faktor utama kepemimpinan efektif; (1) jujur, (2) visioner, (3) inspiratif, dan (4) cakap/mampu.

Kompas, edisi 20 April 2017 mencatat bahwa dukungan kepada paslon gubernur DKI 2017 tidak dipengaruhi oleh kampanye dan debat yang ditayangkan televisi dimana mereka menyampaikan visi dan program kerjanya. Hal ini sejalan asumsi John Maxwell bahwa “Orang tidak akan memilih pemimpin karena visi dan program kerjanya, mereka memilih pemimpin karena kepribadiannya. Mereka lebih dahulu menyentuh hati, baru minta tolong”. Sejalan asumsi tersebut, analisis para pakar terhadap kekalahan Ahok-Djarot karena sikap dan bicaranya sebagaimana diakui, sadari dan disampaikan Ahok sendiri pada saat ia bertemu bapak Surya Paloh selaku ketua partai Nasdem pasca kekalahannya.

Partisipasi politik masyarakat Indonesia, tidak sebatas masyarakat warga Jakarta pada Pilkada DKI 2017 dari sejak awal hingga akhir sehingga memberikan effect yang yang sangat besar, faktanya antara lain sebagian besar masyarakat Indonesia berusaha mensukseskan dan memantau pesta demokrasi tersebut dan menerima kemenangan pasangan calon gubernur Anies-Sandi secara tulus dan ikhlas, tentu saja masih ada yang belum puas dengan kemenangan mereka.

Pilkada DKI 2017 dimana Anies-Sandi sebagai pemenangnya menjadi pembelajaran bermakna bagi masyarakat Indonesia dalam berdemokrasi yang sesungguhnya, mengutip pendapat KH. Gus Dur bukan “Berdemokrasi Seolah-Olah” yang sering kali dipraktekkan oleh para hantu politik di negeri ini.

Beberapa pembelajaran bermakna dan akan memberikan effect terhadap pilkada, bahkan pilpres berikutnya; (1) pentingnya personality power calon pemimpin, Anies-Sandi memiliki kepribadian melancholis, berdamai dengan keberagaman yang mulai dirajut dari hal-hal kecil sehingga menjadi kekuatan besar. Kemudian setelah dinyatakan menang oleh KPU DKI, keinginan bersama-sama membangun Jakarta diawali rekonsiliasi sebagaimana diajarkan pemimpin sejati: Muhammad Saw, Lo Tzu, Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela, “Menang tanpa merasa mengalahkan, kalah tanpa merasa dikalahkan, dan segera memberi pengampunan sekalipun telah menjadi korban kemanusiaan”; dan (2) suka atau tidak, hadirnya pemimpin pemberani (meminjam istilah Prabowo Subianto selaku ketua umum partai Gerindra) yang mampu mempersatukan umat, khususnya umat Islam adalah faktor lainnya dari kemenangan Anies-Sandi.

Effect yang ditimbulkan dari pilkada DKI 2017 yang dimenangkan paslon Anies-Sandi, antara lain: (1) hasil pilkada DKI 2017 tidak sebatas kemenangan Anies-Sandi, melainkan kemenangan berdemokrasi yang sesungguhnya. Oleh karena itu kemenangan tersebut disambut dan dirayakan bersama oleh sebagian besar rakyat Indonesia, bukan sebatas warga DKI Jakarta saja; (2) sejak dini PDI Perjuangan partai terbesar di negeri ini, mengambil pelajaran dari pilkada DKI Jakarta 2017 dan kemenangan Anies-Sandi, agar tidak kalah lagi pada pilkada mendatang dimana ia merencanakan untuk mengintensifkan elit partai untuk berkomunikasi dengan kelompok Islam, dikutip dari Republika, 22 April 2017.

Akhirnya, semua pihak mengakui bahwa kemenangan Anies-Sandi dan kekalahan Ahok-Djarot adalah ketentuan atau kehendak Allah Swt.

*) Penulis adalah Ketua PW KB PII Kalbar, Kolumnis Pendidikan dan Sosial, Purek 1 Universitas Tanjung Pura, Pontianak.

Artikel Terkait

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker