Artikel

Jangan Ragukan Lagi Nasionalisme, Patriotisme dan Kebhinekaan Muhammadiyah

Banner IDwebhost

Oleh: Hajrianto Y. Thohari

Muhammadiyah adalah gerakan Islam dengan mengusung semangat Islam berkemajuan. Islam berkemajuan sebenarnya bukan konsep atau istilah yang baru muncul. Konsep ini telah lama dan dicetuskan oleh KH Ahmad Dahlan. KH Ahmad Dahlan mempunyai gagasan supaya umat Islam itu harus unggul di segala bidang, mampu mengikuti perkembangan zaman dan membuang jauh sifat jumud. Setelah itu gagasan Islam berkemajuan juga dikembangkan oleh Soekarno sebagai lawan dari Islam sontoloyo. Gagasan itu dituliskan Soekarno dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi

Muhammadiyah juga dikenal sebagai Gerakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar, artinya jika ditinjau dalam hubungan bernegara dengan pemerintah, Muhammadiyah akan senantiasa mendukung berbagai program pemerintah jika dirasa positif dan bermanfaat, tapi Muhammadiyah tidak segan untuk mengkritik dan memberi masukan jika program tersebut dirasa kurang positif untuk itu pemerintah diharap tidak alergi untuk menerima masukan atau kritik.

Muhammadiyah jangan diajari lagi makna Nasionalisme, Patriotisme dan Kebhinekaan, karena Muhammadiyah yang lahir tahun 1912 dari awal sudah mempunyai bapak bapak bangsa yang ikut andil membangun bangsa Indonesia. Di Panitia Sembilan dalam perumusan dasar negara ada nama tokoh Muhammadiyah Abdul Kahar Muzakir yang melahirkan Piagam Jakarta. Peran tokoh Muhammadiyah lain seperti Ki Bagus Hadikusumo juga sangat sentral, Ki Bagus diminta persetujuan terakhir tentang perubahan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, Ki Bagus dengan kebijaksanaanya akhirnya menyetujui karena kecintaan kepada bangsa Indonesia .

Kecintaan Muhammadiyah kepada bangsa juga tidak perlu diragukan lagi terlebih dalam darah TNI Polri mengalir darah Panglima Besar Jendral Soedirman. Jendral Soedirman sendiri dikenal sebagai pejuang hasil didikan Muhammadiyah.

Muhammadiyah juga turut andil membantu pemerintah memajukan bangsa melalui pendidikan tanpa membedakan apapun latar belakang suku dan agama seperti di Sorong, Papua Barat, atau di Kupang, NTT, di sana berdiri perguruan tinggi Muhammadiyah yang mayoritas mahasiswanya adalah non Muslim.

Kepada oknum pejabat pemerintah hendaknya lebih bijak lagi melabeli umat Islam atau Muhammadiyah sebagai umat atau kelompok yang fanatis, sebab dalam kelompok atau agama apapun sikap fanatisme pasti ada

Warga Muhammadiyah hendaknya menjadi saudagar karena dalam Islam umat dituntut untuk menjadi kaya karena ayat yang ada adalah perintah menunaikan zakat bukan perintah meminta zakat. Jika umat Islam sudah unggul di bidang ekonomi maka bidang yang lain bisa dikuasai. Dahulu kerajaan Islam baik di Andalusia hingga di Mughal mampu membuat bangunan megah dan penataan kota yang baik karena ekonominya juga unggul. Di Indonesia sendiri saat ini ekonomi Indonesia dikuasai oleh segelintir kelompok minoritas yang jumlahnya sangat jauh dibanding umat Islam yang mayoritas.

Umat islam apalagi warga Muhammadiyah jangan sampai alergi dengan politik jika hal itu terjadi maka umat Islam akan semakin terpuruk untuk itu warga Muhammadiyah supaya tidak ragu terjun dalam dunia politik. Pada dasarnya agama tidak bisa dipisahkan dari politik. Memisahkan politik dari agama adalah ciri perbuatan kaum sekuler.

Diringkas dari Tausyiah Hajrianto Y. Thohari dalam acara Musycab Palang di Gedung Dakwah Muhammadiyah Glodok – Palang Kabupaten Tuban, Ahad 25 Maret 2018.

Artikel Terkait

Back to top button