Banner IDwebhost
ArtikelFeatured

Ada “Jurang” bagi Pecurang

Banner IDwebhost

Oleh M. Anwar Djaelani

“Selain Pansus, PKS Juga Setuju Pembentukan TPF Kecurangan Pemilu” (www.tribunnews.com 26/04/2019). “Ketua KPU Tak Setuju Ada TPF Kecurangan Pemilu” (www.republika.co.id 26/04/2019). Alhasil, setidaknya lewat cerminan dua berita tersebut, “curang” telah menjadi kata atau tema yang sangat menyita perhatian masyarakat di sekitar April 2019.

Berakibat “Hebat”
Terlepas dari dua berita di atas, kepada para pecurang –siapapun mereka-, hendaknya jangan bangga dengan (berbagai) kecurangannya. Sungguh, atas “keuntungan” yang relatif tak seberapa, semua pecurang akan menuai celaka. Yakinlah, sebab kabar tentang ini langsung berasal dari Allah dan Rasul-Nya.

Mari, cermati pesan Allah di QS Al-Muthaffifin [83]: 1-6 ini: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi.Tidakkah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?”

Terkait ayat di atas, ada suatu riwayat berdasarkan HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah. Bahwa, ketika Rasulullah Saw sampai di Madinah, ternyata orang-orang di sana termasuk yang paling curang dalam takaran dan timbangan. Maka Allah menurunkan tiga ayat pertama dari QS Al-Muthaffifin sebagai ancaman kepada orang-orang yang curang dalam menimbang. Setelah ayat itu turun, orang-orang Madinah termasuk yang jujur dalam menimbang dan menakar.

Selanjutnya, mari lengkapi pemahaman kita atas ayat di atas dengan mencermati pesan Nabi Saw berikut ini. Berdasarkan HR Muslim, bahwa di sebuah kesempatan, Nabi Saw bersama sejumlah Sahabat pergi ke pasar. Saat sampai ke seorang penjual bahan makanan, Nabi Saw lalu memasukkan tangannya ke gundukan bahan dagangan tersebut. Didapatilah, bahwa di bagian tengahnya dalam keadaan basah.

“Apa ini wahai penjual,” tanya Nabi Saw.

“Bagian ini terkena air hujan, wahai Rasulullah,” jawab si penjual.

“Mengapa engkau tidak meletakkannya di bagian atas, agar orang yang akan membeli dapat melihatnya,” tanya Nabi Saw lagi.

“Barangsiapa yang berbuat curang kepada kami, maka ia bukan bagian dari golongan kami,” demikian peringatan keras dari Nabi Saw.

Berhati-hatilah, jangan berbuat curang. Waspadalah, sebab meski sejak awal Allah dan Utusan-Nya telah melarang, tapi praktik buruk itu tetap saja ada yang melakukannya. Lihatlah, misalnya, Kaum Madyan yang kepada mereka telah diutus Nabi Syu’aib As untuk menyampaikan Ajaran Allah. Ternyata, kaum itu tetap saja melakukan penipuan dengan cara berbuat curang dalam berdagang. Mereka mengurangi timbangan dan takaran dari yang semestinya, sehingga sangat merugikan si pembeli. Padahal, perintah Allah jelas dan tegas di ayat ini: “Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu” (QS Ar-Rahmaan [55]: 9).

Walau sudah diperingatkan berkali-kali untuk tidak melakukan perbuatan curang, Kaum Madyan tetap pada perilakunya. Lalu, apa yang didapat oleh kaum yang membangkang itu? Allah menurunkan azab seperti yang tergambar di ayat ini: “Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka” (QS Al A’raaf [7]: 91). Itulah azab bagi orang-orang yang melakukan kecurangan.

Jangan curang, di semua aspek kehidupan. Misal, di dunia olahraga, wasit curang jika bersikap “berat sebelah”. Di bidang ekonomi, pengusaha curang jika “menimbun” barang di saat harga murah dan baru menjualnya ketika harga melangit karena kelangkaan barang. Di ranah hukum, aparat hukum curang jika kedepankan prinsip “tajam ke bawah, tumpul ke atas”. Di lapangan politik, curang jika praktikkan resep “menghalalkan segala cara”.

Jangan curang! Curang itu salah satu bentuk kezaliman. Apa zalim? Zalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempat yang semestinya. Zalim adalah penyimpangan dari ketentuan, sedikit atau banyak. Zalim adalah perbuatan yang merugikan orang lain.

Tentang keburukan curang, ada lagi peringatan dari Allah. Dalam sebuah Hadits Qudsi, disebutkan: “Allah Swt telah mewahyukan kepada Nabi Daud As: ’Katakanlah kepada orang-orang yang melakukan kezaliman. Janganlah kalian berdzikir kepada-Ku (kecuali setelah bertobat atau dalam usaha bertobat) karena Aku selalu memperhatikan orang yang berdzikir kepada-Ku. Tetapi, perhatian-Ku terhadap orang (yang melakukan kezaliman) berupa laknat kepada mereka’.” (HQR Hakim, Dailami, Ibnu ‘Asakir).

Jangan curang! Tak seorangpun suka jika dicurangi. Curang itu meresahkan, yaitu meresahkan bagi yang dicurangi dan –sebenarnya- juga meresahkan bagi si pecurang karena hal itu termasuk dosa. Perhatikanlah hadits ini: “Kebajikan itu keluhuran akhlaq. Sedangkan dosa adalah apa-apa yang dirimu merasa ragu-ragu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya” (HR Muslim).

Jangan curang, sebab curang adalah salah satu pangkal bencana yang sangat menyengsarakan. Lihatlah lagi QS Al-Muthaffifin [83]: 1, “Wailul lil muthaffifiin” (“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang”). Sementara, “wailun” di ayat ini –kata Hamka di Tafsir Al-Azhar- sering diartikan neraka!

Pemimpin? Curang?
Semua orang dilarang untuk berbuat curang. Larangan itu semakin keras ditujukan kepada mereka yang berstatus sebagai pemimpin. Perhatikanlah hadits berikut ini: “Tidaklah seorang hamba yang Allah berikan kepemimpinan atas orang lain, lalu ia mati dalam keadaan berbuat curang terhadap orang-orang yang dipimpinnya, melainkan Allah akan mengharamkan atasnya surga” (HR Muslim). Jadi, jika demikian, pemimpin manakah yang masih berani berbuat curang? Siapa yang rela dihempaskan ke “jurang” bernama neraka yang sangat menyakitkan? Siapa, siapakah? []

Tags
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker