Banner IDwebhost
Berita

Seminar GPII: Hoax Bisa Jadi Embrio Perpecahan Bangsa

Banner IDwebhost

Kanigoro.com – Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII), hari Minggu (25/3) bakal menggelar Deklarasi dengan seruan Pilkada 2018 dan Pemilu 2019; No Black Campaign, No Hate Speech, No Hoax Untuk Demokrasi Indonesia Yang Berkualitas. GPII mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut serta dalam acara yang akan digelar di Bundaran HI, pukul 06.30 WIB.

Ketua Umum PP GPII Masri Ikoni menjelaskan bahwa acara tersebut adalah tindak lanjut dan rangkaian dari seminar nasional GPII dengan tema yang sama, Jumat (23/3).

Seminar Nasional GPII yang diadakan di Restoran Bumbu Desa itu cukup meriah. Pembicara yang hadir dari KPU RI (Partono) Kemenkopolhukam (Wahyu Agung Permana),  Komisi Informasi Jatim (Wahyu Kuncoro), dan Al Mentra Institute (Karman BM) sama-sama menyajikan presentasi yang menarik tentang kondisi Pilkada, Pemilu dan fenomena hoax.

Wahyu Agung Permana memaparkan bahwa sebuah negara bisa mengalami kehancuran yang terstruktur karena hoax.  Itulah mengapa, terangnya, pemerintah sangat concern dalam memerangi hoax. “Pemerintah tak akan menyerah berperang melawan hoax. Walaupun akun penyebar hoax sangat licin. Hari ini dibanned 100 besok bisa muncul lagi ratusan akun lagi,” terangnya.

Untuk itu menurut Wahyu, dukungan publik untuk mengantisipasi informasi hoax sangat diperlukan. Terutama aktifis dari OKP dan ormas yang secara sadar meyakini bahwa hoax itu sangat berbahaya. “Bisa perang saudara gara-gara hoax. Sudah ada contoh negaranya,” tambahnya.

Menyambung pernyataan Wahyu, Tenaga Ahli KPU RI Partono membenarkan jika pelaku penyebar hoax sangat wajib diberantas. Apalagi, saat ini tahun politik dimana Pilkada serentak dilakukan di 171 daerah. “Kalo hoax ini dibiarkan, maka black campaign dan hate speech akan menjamur. Potensi instabilitas keamanan akan bergerak menuju kerawanan dimana-mana,” katanya.

Partono memuji GPII yang ikut bersama pemerintah memerangi hoax. Apalagi, GPII punya banyak kader yang kini hampir tersebar di seluruh partai politik dan pemerintahan “Dengan demikian GPII dapat menjadi drive engine untuk memberantas hoax dari dalam dan luar sistem pemerintahan,” tandasnya.

Wahyu Kuncoro dari Komisi Informasi Jawa Timur juga menjelaskan jika diseminasi informasi menjadi hal yang penting diperhatikan. Kanal informasi terutama media sosial harus benar-benar digunakan dengan bijak. “Aduan yang masuk ke KI juga didominasi oleh pengadu melalui media sosial. Untuk itu perlu literasi media sosial yang baik,” terangnya.

Mantan Ketua Umum PP GPII yang juga Direktur Al Mentra Institute,  Karman BM menjelaskan jika hoax sudah ada sejak zaman Rasulullah. Diceritakan oleh Karman pada saat itu “korban” hoax nya adalah Siti Aisyah. “Artinya memang hoax adalah penyakit dari zaman ke zaman. Dari dahulu sudah ada. Hanya bertransformasi dimensi dan istilah,” terangnya.

Pernyataan Karman ini menjawab pernyataan dari seorang peserta Fariz Rama Putra. Fariz cukup bersemangat mengikuti acara tersebut karena dirinya sangat benci terhadap hoax.”Semua berpotensi melakukan hoax. Termasuk pemerintah. Oleh itu semua wajib saling mengingatkan untuk tidak mengeluarkan informasi hoax,” ungkap Fariz.

Acara seminar dihadiri sekitar 150 peserta yang terdiri dari aktivis OKP,  Jurnalis, Ormas, Akademisi, Siswa, Mahasiswa (ded) *

Tags

Artikel Terkait

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker