ArtikelFeatured

Dunia Termediasi vs Desentralisasi Media Sosial

Banner IDwebhost

Oleh: Pandu Sastrowardoyo 
VP of Consulting dari Blocksphere.id

Anda membaca (tulisan) ini di dunia yang termediasi. Mediator-mediatornya merupakan media sosial Anda. Kemungkinan besar Anda menemukan artikel ini lewat Linkedin, Facebook, Twitter, Whatsapp, atau melalui Instagram. Yang menjadi dilema, Anda mungkin justru tidak menemukan artikel ini sama sekali, jika perusahaan-perusahaan besar itu memutuskan bahwa ide saya tidak boleh disebarkan. Ini sedang menjadi perdebatan besar di Amerika, tentunya. Untuk memilih dua contoh paling mutakhir dari masa sebelum pemilu: Kebocoran laptop Hunter Biden serta kebocoran dokumen pengembalian pajak Trump keduanya memiliki tingkat pembuktian jurnalistik yang serupa. Namun, salah satunya segera disensor oleh kebanyakan media sosial, sementara yang lain diizinkan untuk menyebar jauh dan luas, bahkan menjadi trending topic di banyak mimbar (plaftorm) media sosial. Saya tidak akan menyebutkan mana yang disensor karena ini bukanlah kolom opini politik.

Yang menjadi dilema, Anda mungkin justru tidak menemukan artikel ini sama sekali, jika perusahaan-perusahaan besar itu memutuskan bahwa ide saya tidak boleh disebarkan.

Pertanyaan saya, mengapa kita mengizinkan perusahaan-perusahaan teknologi besar ini memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh Anda lihat? Saat ini, 72% warga Amerika percaya bahwa media sosial menyensor pendapat mereka (sumber: Pew Research Center), dan hanya 13% warga Amerika tidak kuatir mengenai pengaruh politik terhadap platform teknologi sosial.

sumber: PEW Research

Tentunya, perusahaan-perusahaan ini adalah platform swasta. Ini berarti, mimbar medsos mereka boleh saja memilih apa yang bisa dan tidak bisa diucapkan. Tapi apa tidak ada alternatif desain media sosial lain yang lebih baik ketimbang sistem yang ada sekarang?

sumber: Business Insider

Menurut saya ada, dan kuncinya ada di desentralisasi, khususnya di teknologi distributed ledger technology, Blockchain, dan hasil evolusinya. Dalam opini saya ini, saya akan menjelaskan lebih lanjut mengenai perkembangan media sosial alternatif, dan bagaimana media sosial masa depan bisa didesain secara lebih baik, membentuk medsos terdesentralisasi (decentralized social media), agar pengguna dapat mempertahankan kebebasan berpendapat secara bertanggung jawab. Decentralized Social Media yang sudah ada mungkin pembaca belum pernah mendengar alternatif-alternatif media sosial yang saya sebutkan di bawah ini:

● Mastodon

● Steem

● Hive.org

● Dewa.com (buatan Indonesia)

● diaspora*

● Gab (sedang migrasi ke arah terdesentralisasi)

● Parler (tersentralisasi, tapi model periklanannya terdesentralisasi)

● Friendica

● Hubzilla

● Patchwork

● Pleroma

● Scuttlebutt

● Socialhome

● Iris.to (pengganti Whatsapp)

● Meething.space (pengganti Zoom)

Filosofi dasar dari tipe sosmed di atas serupa: Kepemilikan data pribadi tiap pengguna, kekuatan yang berbasis komunitas, dan hampir tidak ada keputusan otoriter sepihak. Kebanyakan media sosial ini memiliki basis infrastruktur yang terdesentralisasi, sehingga server-servernya terbagi antara banyak pihak — termasuk pihak pengguna. Hal ini berarti kepemilikan dari medsos terdesentralisasi ada di pengguna, bukan hanya di pemilik atau pembuat platform. Dari daftar diatas, Steem sudah memiliki satu juta pengguna, Mastodon sudah memiliki 2.2 juta pengguna, dan Parler memiliki 8 juta pengguna. Medsos lain dalam daftar tersebut sudah memiliki daily active user hingga ratusan ribu. Tentunya masih jauh dari level pengguna media sosial mainstream seperti Facebook atau Twitter, namun saya rasa sudah cukup membuktikan bahwa media sosial dengan desain seperti ini dapat menjadi viral.

Masa Depan Media Sosial

Menurut saya, media sosial akan bertransformasi besar-besaran ke arah desentralisasi dalam waktu beberapa tahun ke depan. Akibat tuduhan-tuduhan bias politik dan penyensoran, banyak pengguna Facebook dan Twitter sudah mulai pergi ke media sosial lain yang lebih mendukung pendapat mereka, seperti Gab dan Parler. Dari sisi analisis teknis, satu-satunya jalan untuk mengimplementasi media sosial secara terpercaya dan teratur adalah melalui sistem insentif berbasis Blockchain atau yang diturunkan dari Blockchain. Tidak seperti sistem terpusat, sistem desentralisasi biasanya gagal karena kurangnya insentif dalam menjalankan node. Selain itu, sistem terdesentralisasi acap kali memiliki permasalahan besar dalam pengaturan, penentuan, dan penertiban kebijakan komunitas Inilah mengapa sebuah platform medsos berbasis Blockchain, seperti Steem, Hive, dan lainnya, akan menjadi masa depan interaksi sosial kita di dunia digital. Dengan model insentif yang disediakan Blockchain, pemilik node dalam jaringan terdesentralisasi dapat menerima insentif nyata dari jaringan itu sendiri, tanpa memiliki kontrol distribusi terpusat. Pada saat yang sama, pengaturan kebijakan tetap dapat dilakukan oleh komunitas, dan ditertibkan secara sistem Artinya, sebuah jaringan Blockchain yang dirancang dengan benar akan membentuk platform yang menstabilkan sendiri tanpa kendali pusat.

Medsos Terdesentralisasi dan Masa Depan Manusia

Saya percaya bahwa evolusi komputasi akan mengarahkan manusia menuju salah satu dari dua jalur alternatif: Dunia dengan ilusi kebebasan, dimana interaksi antar pihak terjadi di atas mimbar-mimbar media sosial yang dimiliki oleh kekuatan oligarki sentral dengan kekuatan absolut. Dunia dengan kebebasan & kebebasan sejati, dengan kemandirian data individu dan sistem yang bekerja sama satu sama lain, di mana identitas, data, dan pendapat Anda adalah milik dan tanggung jawab Anda.

Mari kita ambil pilihan kedua.

Artikel Terkait

Back to top button