Banner IDwebhost
Artikel

Belajar ‘Ukhuwah’ pada KH Hasyim Asy’ari

Banner IDwebhost

Oleh: Ahmad Khoirul Fata & M Ainun Najib*)

Persaudaraan antar sesama umat Islam (ukhuwah islamiyah) di negeri ini sedang mengalami goncangan cukup berat. Belum tuntas perdebatan antara kelompok pro dan anti gubernur non-Muslim di Jakarta, di Sidoarjo terjadi pengusiran dai “Wahabi-Salafi” oleh sekelompok orang yang menggunakan identitas Banser NU. Kejadian serupa juga terjadi di beberapa daerah, di mana sekelompok oknum anggota Banser menghadang dan membubarkan aksi damai aktivis HTI.

Peristiwa gesekan antar kelompok umat Islam itu tentu saja cukup memprihatinkan, apalagi melibatkan warga NU. Pasalnya, NU selama ini dikenal sebagai organisasi yang mengusung ide tawasuth dan tasamuh serta aktif mempromosikan paham Islam rahmatan lil `alamin ke penjuru dunia. Sikap oknum Banser tersebut tentu saja menciderai karakter itu. Pun demikian, jika pendiri NU KH Hasyim Asy’ari masih hidup, tentu beliau akan bersedih melihat umat Islam tetap tidak berubah dari dulu hingga sekarang.

Peristiwa gesekan seperti itu sesungguhnya juga pernah terjadi di zaman pendiri NU itu masih hidup. Dan sebagai tokoh agama, beliau memberikan respons yang bijak guna melerai dan mengajak umat ke arah persaudaraan dan persatuan. Di titik inilah terletak urgensi mengkaji pemikiran KH Hasyim Asy’ari tentang persatuan umat Islam.

Anti Fanatisme
KH Hasyim Asy’ari hidup di saat umat Islam Indonesia mengalami gesekan antara golongan modernis dengan tradisionalis. Meski terlibat dalam perdebatan tersebut, beliau tetap merasa sedih dan prihatin melihat kondisi yang ada. Hal itu tergambar dari terbitan “al-Mawa’iz” yang diedarkan pada Muktamar NU di Banjarmasin. Di situ KH. Hasyim Asy’ari secara tegas mengingatkan bahwa Allah dan Rasul-Nya melarang perbedaan pandangan keagamaan yang mengakibatkan berkobarnya permusuhan dan fitnah.

Beliau juga menganjurkan para ulama untuk meninggalkan sikap ta’assub (fanatisme) terhadap mazhab, karena ta’assub dalam persolan furu’ (cabang) pada satu mazhab atau pendapat adalah perbuatan yang tercela. Pernyataan seperti itu juga beliau tujukan kepada golongan pembaharu Islam.

Meski larangan taklid yang mereka suarakan itu –seandainya pun- dibangun di atas pendapat yang dianggap kuat, seharusnya golongan pembaharuan Islam tidak melakukannya dengan nada permusuhan dan penghinaan terhadap orang-orang yang bertaklid. Justru sebaliknya, harus dilakukan dengan argumentasi yang kokoh serta disampaikan dengan cara yang bijak dan toleran. Jika tidak demikian, beliau mengibaratkan para pembaharu itu tidak ubahnya seperti “membangun sebuah istana dengan terlebih dulu menghancurkan sebuah kota.”

Menurut beliau, perbedaan pendapat seharusnya tidak mendorong munculnya permusuhan antara sesama muslim, justru sebaliknya, harus mendorong lahirnya sikap yang toleran. Dalam “al-Tibyan fi al-Nahyi `an Muqata`at al-Arham” beliau memberikan contoh toleransi yang terjadi di masa lalu.

KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa di kalangan sahabat Nabi dan imam mazhab telah terjadi perbedaan pendapat dalam persoalan furu’iyyah. Dicontohkan, Imam Abu Hanifah memiliki perbedaan pendapat lebih dari empat belas ribu persoalan dengan Imam Malik. Demikian pula antara Imam Ahmad bin Hanbal dengan Imam al-Syafi’i. Akan tetapi, hal itu tidak mendorong tumbuhnya permusuhan antara mereka.

Bahkan ketika Imam al-Syafi’i berziarah ke makam Imam Abu Hanifah dan bermukim di sana selama tujuh hari, Imam al-Syafi’i setiap kali mengkhatamkan al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada Imam Abu Hanifah. Tidak sekadar itu, selama tujuh hari itu pula beliau tidak qunut saat shalat Subuh sebagai bentuk penghormatan kepada Imam Abu Hanifah.

Kendati demikian, penghargaan terhadap perbedaan pandangan keagamaan KH Hasyim Asy’ari terbatas pada persoalan furu’iyyah semata, bukan pada pondasi agama (ushuluddin). Di titik ini KH Hasyim Asy’ari mengkritik KH Khalil Peterongan yang mengembangkan “Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah” dan mendeklarasikan dirinya sebagai wali. Menurut KH Hasyim Asy’ari, tidak ada wali yang memproklamirkan kewaliannya, dan jika ada yang melakukan hal itu, maka orang tersebut tidak ubahnya mendustakan Allah.

Persatuan Umat
Bermukim di Mekkah selama tujuh tahun memberi bekas pada pemikiran KH Hasyim Asy’ari berupa cita-cita mempersatukan kekuatan Islam. Dalam “Muqaddimat al-Qanun al-Asasi li Jam’iyah Nahdlat al-‘Ulama” beliau menulis, persatuan kaum Muslim merupakan sebuah keniscayaan yang dilandaskan atas keimanan kepada Allah, karena sesungghnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sementara dalam “Adab al-`Alim wa al-Muta’allim” beliau menjelaskan, iman hanya tumbuh dari orang yang memiliki tauhid. Karena itu, orang yang tidak mempunyai tauhid sesungguhnya ia tidak dianggap kaum beriman.

Lebih jauh dijelaskan dalam “Muqaddimat”, persatuan adalah sebuah keniscayaan karena kaum beriman bersaudara sebagaimana dipraktekkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabat. Orang mukmin layaknya satu tubuh yang bila salah satu anggota tubuh sedang sakit, maka yang lainnya juga merasakan kesakitan pula. Dan di “Al-Tibyan” secara tegas dinyatakan, perpecahan umat Islam merupakan refleksi kesadaran kolektif umat yang dikuasai oleh setan dan hawa nafsu yang menyesatkan.

KH Hasyim Asy’ari menyadari betul bahwa mengaplikasikan persatuan kaum Muslim tidak semudah membalikkan tangan. Fakta sejarah menunjukkan bahwa benih-benih perpecahan justru terjadi pasca Nabi Muhammad Saw meninggal dunia yang ditandai dengan perebutan kekuasan politik antara kaum Muhajirin dan Ansar, meskipun dalam beberapa dekade gesekan tersebut dapat diselesaikan. Dan Rasulullah sendiri pernah meramalkan bahwa Islam akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga sekte (firaq); Semuanya masuk neraka, kecuali satu sekte yaitu orang-orang yang senantiasa mengikuti sunnah nabi Muhammad dan sahabat.

Kendati demikian, KH Hasyim Asy’ari tidak bersikap fatalistik terhadap realitas sejarah. Paling tidak, beliau tetap menuntut kemungkinan untuk mempersatukan kaum Muslim Indonesia dalam perbedaan, mengelola konflik umat dan mentransformasikannya dalam persatuan. Karena itu, KH Hasyim Asy’ari menyuarakan keprihatinan etis atas polarisasi dan segregasi umat Islam Indonesia. Apalagi manusia itu pada dasarnya diciptakan untuk bermasyarakat dan bersatu. Seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhannya dengan sendirian tanpa bantuan orang lain.

Di dalam “al-Tibyan” dan “Muqaddimat” beliau menegaskan bahwa persatuan akan mendatangkan kebaikan bagi umat manusia dan menghindarkan dari bahaya yang mengancam. Persatuan merupakan prasyarat utama untuk menciptakan kemakmuran sekaligus mendorong terjalinnya moral welas asih antar sesama umat.

Sebaliknya, perpecahan dan memutuskan hubungan persaudaraan adalah perbuatan dosa besar dan kejahatan yang keji. KH Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa, persatuan telah terbukti mendatangkan kemakmuran negeri, kesejahteraan rakyat, tersemainya peradaban, dan kemajuan negeri.

Meski terlibat secara langsung dalam dinamika keislaman di zamannya, KH Hasyim Asy’ari mampu bersikap tenang dan tidak larut dalam pertentangan yang terjadi. Justru beliau dengan bijak mengajak kelompoknya dan kelompok lain untuk mengedepankan semangat persaudaraan sesama Muslim dengan meninggalkan sikap fanatisme kelompok, sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW.

Sikap seperti inilah yang seharusnya kini dikedepankan tokoh-tokoh gerakan Islam. Perbedaan-perbedaan yang terjadi seharusnya tidak dibawa larut dalam pertentangan, namun justru ditransformasikan menjadi energi positif persatuan umat Islam. Allahu a’lam.

*) Alumni Ponpes Arraudlatul Ilmiyah Kertosono, Nganjuk, Jatim.

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker