Banner IDwebhost
BeritaFeatured

Reformasi Hadir Lagi: PW PII Yogbes Suarakan Otonomi Pendidikan

Banner IDwebhost


Kanigoro.com – Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia Yogyakarta Besar (PW PII Yogbes) dan BEM KM UGM serta elemen organisasi kemahasiswa di Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar aksi bertajuk “21 Mei: Reformasi Hadir Kembali” di jalan Bundaran UGM, Kamis (21/5). Sejumlah perwakilan organisasi menyampaikan orasi secara bergiliran menyuarakan tuntutannya.

“Hari ini kita meyaksikan, bagaimana potret pendidikan kita hari ini? Pendidikan kita masih syarat dengan monopoli.” kata Ketua Umum PW PII Yogyakarta Besar memulai orasinya.

Azzam

Azzam menyoroti dari enam agenda reformasi yang berbicara soal otonomi seluas-luasnya khususnya pada bidang Pendidikan.

“Konsep, sistem dan kurikulum pendidikan kita masih dipegang oleh pusat. Justru disitulah terjadi (sentralisasi). Padahal kita dengan daerah yang beragam, justru hadirnya sentralisasi ini sistem ini menjadi sebuah ancaman. Bisa jadi konsep pendidikan pusat tidak relevan dengan budaya masyarakat di beberapa daerah.” lanjut Azzam.

Azzam juga menyoroti Kasus Inpres Revitalisasi SMK 2016, “aturan ini coba mengatur Kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan Industri. Persoalannya, Tidak semua aktivitas Ekonomi di tiap provinsi itu basisnya industri yang sama.” paparnya.

Dia mempertanyakan relevansi kurikulum yang dibuat pusat dengan kebutuhan pelajar.

“Dimana Link and Match nya? Untuk apa pelajar diberikan keterampilan yang sama? Sedangkan basis industrinya berbeda.” tanyanya.

Selain itu, Azzam mengingatkan kepada pemerintah bahwa masih terdapat hak-hak pelajar yang belum terpenuhi, seperti belum meratanya pelajar dalam memperoleh akses pendidikan.

“Padahal dalam UUD 1945 Pasal 31 telah jelas ‘Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.’ Kemudian di Pasal 32 ‘Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.’ Seharusnya sektor pendidikan harus diutamakan.”

Azzam juga menyatakan, program pemerintah tidak relevan ketika kebutuhan vokasi malah lebih didorong sedangkan angka literasi Indonesia menempati posisi 60 dari 61 negara.


“Indonesia yang satu sisi secara data angka literasi menempati ranking 60 dari 61 negara kemudian pemerintah yang teriak-teriak penting vocational sebagai bagian dari strategi menghadapi Revolusi Industri 4.0. Akan tetapi ini menjadi tidak relevan secara by data melihat angka literasi yang sangat rendah malah di dorong untuk mempunyai keahlian saja.” imbuhnya.

Di akhir orasi, Azzam menyampaikan “Ini Tanah Air kita, ini Ibu Pertiwi Kita, kami menuntut aspirasi pelajar kita tidak dikebiri.”


Aksi berjalan khidmat dan ditutup dengan doa lintas agama serta tanda tangan maklumat semangat transformasi.

Usai aksi di bundaran UGM dilaksanakan, para peserta aksi melanjutkan agenda membagikan makanan dan sembako kepada warga yang membutuhkan.

Artikel Terkait

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker