Banner IDwebhost
Berita

Pelabuhan Mewah yang Diresmikan Jokowi Jadi Pelabuhan Hantu

Banner IDwebhost

Ini adalah tulisan panjang tentang Pelabuhan Perikanan Nusantara Untia Makassar yang sepi aktivitas. Judul  ini digunakan sebagai penghormatan atas judul berita liputan6.com yang telah dihapus.

Presiden Joko Widodo, meresmikan operasionalisasi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Untia di Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu, 26 November 2016 lalu. Namun, meski sudah beberapa bulan paska diresmikan, PPN Untia masih tampak sepi, tidak diminati nelayan.

Pelabuhan Hantu pelabuhan untia
Tulisan Pelabuhan Hantu yang dihapus (Ist)

Tidak ditemukan banyak aktivitas di sana, kecuali beberapa pengelola yang sedang membersihkan beberapa sampah di tepi dermaga akibat terseret arus laut. Tidak ada satupun kapal atau perahu nelayan yang bersandar. Tidak ada juga aktivitas bongkar muat ikan apalagi transaksi jual beli ikan di sana.
Fungsional Umum, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, Masry Mallaena mengungkapkan, pasca diresmikan oleh Presiden Jokowi, hanya ada tiga orang pengelola yang ditempatkan untuk mengurus pelabuhan tersebut. Dua orang dari Dinias Kelautan dan Perikanan Sulsel, termasuk Masry, serta satu orang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

Untuk pengamanan, ada empat satuan pengamanan (satpam) yang berjaga. Mereka dibagi untuk menjaga dua pos pengamanan. Satu pos di gerbang masuk, dan satu pos lagi di dalam area pelabuhan, tepat di jalan masuk dermaga.

“Untuk sementara memang hanya tiga orang pengelola. Sisanya hanya ada empat satpam yang secara bergiliran bertugas,” kata Masry.

Masry berpendapat, PPN Untia yang hingga saat ini masih sepi dikarenakan nelayan yang sudah nyaman beraktivitas di Pelabuhan Perikanan Paotere, Makassar. Apalagi menurutnya, masyarakat lebih mengenal Pelabuhan Paotere ketimbang PPN Untia untuk membeli ikan.

“Di sana (Pelabuhan Paotere) kan sistemnya sudah terbentuk. Penjualnya, ada pembelinya dan lain sebagainya. Sistem tersebut tidak bisa kita putus. Paling tidak nanti dipindahkan sedikit demi sedikit. Kita butuh waktu,” ungkapnya.

Pelabuhan Hantu, Pelabuhan Untia sepi
Pelabuhan Untia (ist)

Meski begitu, Masry mengungkapkan jika operasional PPN Untia sepenuhnya sudah siap untuk digunakan. Baik itu dalam hal bongkar muat dan jual-beli ikan hingga pengurusan dokumen serta pengukuran kapal.

“Bukan cuma kita yang siap, semua fasilitas di sini juga sudah siap. Keunggulan kita di sini bisa dilihat sendiri, kita punya lahan yang lebih luas dan besar. Kita bisa tampung banyak kapal besar dan kapal nelayan sekaligus. Zise-nya juga dari belakang ke depan kita lebih panjang,” jelasnya.

[nextpage title=”Nelayan Masih Betah di Paotere”] Jarak pelabuhan perikanan Paotere dengan PPN Untia tidak begitu jauh jika menggunakan jalur laut. Kurang lebih hanya lima menit saja menggunakan perahu Jolloro (Kapal Nelayan Khas Sulawesi). Jika menggunakan jalur darat, jarak tempuh hanya 15 sampai 25 menit saja.

Sejumlah nelayan penangkap ikan mengaku masih betah berlabuh di Paotere. Begitupun dengan pemborong atau pembeli ikan yang datang dari sejumlah daerah.

Ramli (43) misalnya, Nelayan yang setiap hari menangkap ikan menggunakan jala menyatakan sudah terbiasa menjual hasil tangkapannya di pelelangan ikan Paotere. Menurutnya, langganan yang sering membeli ikan tangkapannya juga sudah terbiasa di Paotere.

Sepi, pelabuhan hantu “Di sana kan belum jelas pembelinya. Kita juga sudah punya langganan di sini. Biasanya beli di sini saja,” jelas Ramli.

Sementara itu, salah satu pemborong ikan yang ditemui di Paotere, Lukman (40) menuturkan, saat ini memang masih sulit untuk berpindah ke PPN Untia. Selain karena sudah terbiasa, aktivitas bongkar muat ikan masih dilakukan di Paotere.

“Kami sudah terbiasa dengan sistem yang berjalan selama ini, di sini. Langganan kita banyak di sini, jadi kalau mau bergeser ke Untia dalam waktu dekat ini saya pikir belum bisa,” tutur pengusaha ikan asal Kabupaten Pinrang ini.

Lukman mengatakan, meski belum pernah berkunjung ke Untia, namun dia sudah mendengar kabar diresmikannya PPN Untia. Ia pun tak menutup kemungkinan akan mengambil ikan di Untia.

“Kalau memang kapal-kapal sudah pindah ke sana yah kita juga akan pindah ke sana,” kata Lukman yang setiap harinya membeli ikan dalam jumlah yang besar untuk dijual ke Kabupaten Pinrang, Sulsel.

Ia menilai, Pelabuhan Perikanan Paotere saat ini sudah terbilang kuno untuk terus beroperasi. Jalanan yang sempit dan tidak ada akses kendaraan menuju dermaga untuk mengangkut ikan.

“Di sini sebenarnya bagus, cuma ini dermaganya yang sempit, jadi kalau bongkar ikan kita harus angkut lagi ke mobil yang diparkir jauh,” keluhnya.

“Tapi nanti saya akan ke Untia lihat situasi di sana. Kalau ada tempat yang bisa saya sewa sebagai kantor, mungkin saya akan arahkan semua anggota saya ke sana, saya akan memulai di sana biar ramai,” kata dia.

  • Pelabuhan Hantu, pelabuhan untiaPotensi dan Keunggulan PPN Untia
    Pelabuhan Perikanan Nusantara Untia dibangun di lahan seluas 5,4 hektar dengan menelan anggaran Rp 200 Miliar. Proyek pembangunan pelabuhan Perikanan ini mulai dikerjakan pada tahun 2005 dan baru diresmikan pada akhir tahun 2016.
    Pada peresmian itu, Presiden Jokowi didampingi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, dan Staf Khusus Presiden Johan Budi. Turut mendampingi, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, serta para pimpinan daerah, muspida, serta pejabat lainnya.

PPN Untia ini mendukung aktivitas nelayan yang berada di zona Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 713 yang memiliki potensi sumber daya ikan sebesar 929.700 ton per tahun. WPP 713 yakni meliputi perairan Selat Makassar, Teluk Bone, Laut Flores dan Laut Bali.

Pelabuhan ini juga diklaim dapat melayani sampai 300 kapal, mulai dari ukuran kurang dari lima Gross Ton (GT) hingga di atas 30 GT, dengan target produksi perikanan sebesar 1.680 ton per tahun.

Untuk fasilitias, PPN Untia terbilang lengkap. Dermaga dengan panjang 152 meter dan lebar 8 meter serta fasilitas breakwater sepanjang 540 meter jadi fasilitas pokok. Selain itu, Turap sepanjang 326,9 meter dan jalan kompleks dengan panjang 1.350 meter persegi dan lebar 20 meter persegi serta kolam pelabuhan yang besar juga menjadi keunggulan.

Selain itu, ada juga fasilitas fungsional. Diantaranya, tempat perbaikan jaring, instalasi air bersih, kontor administrasi pelabuhan, instalasi listrik dan tempat pemasaran ikan yang luas.
Dua pos jaga, Musholla, balai pertemuan nelayan, pertokoan, toilet, rumah dinas, dan gudang juga disiapkan sebagai fasilitas penunjang.

[nextpage title=”Gaet Perusahaan Asing”] Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pemprov Sulsel, Sulkaf S. Latief menegaskan PPN Untia secara keseluruhan telah beroperasi. Meski begitu, ia mengakui jika PPN Untia masih sepi akan aktivitas nelayan.
Ia mengatakan sudah ada usaha untuk membuat pelabuhan berfungsi secara maksimal. Selain sosialiasi melalui brosur dan pamflet, beberapa langkah strategis juga telah dilakukan.

“Dinas Perikanan dan Kelautan sudah melakukan sosialisasi dengan pemilik kapal, pengusaha, dan eksportir perikanan,” kata Latief.

Menurutnya, pihaknya saat ini telah melakukan pembicaraan dengan beberapa pengusaha yang ingin memanfaatkan PPN Untia. Termasuk pengusaha ikan alas Rusia dan Australia.

“Pembicaraan dengan Pelindo, pengusaha Rusia dan Australia untuk kerja sama sudah. Sisa kita tunggu kesepakatannya nanti bagaimana. Sudah ada pengusaha juga yang direkomendasikan untuk membangun fasilitas seperti stasiun pengisian bahan bakar bagi Nelayan,” jelasnya.

Latief mengungkapkan, PPN Untia secara bertahap akan terus dikembangkan. Targetnya, 2018 mendatang, pelabuhan tersebut sudah dapat beroperasi maksimal sebagai sentra produksi perikanan di Sulsel

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker