FeaturedJalan Pinggir

Menjadi Tahi dan Mata Lalat

Oleh: Asep K Nur Zaman (Jurnalis)

Kita pasti pernah berhubungan dengan yang namanya binatang lalat. Sebab, betapa sok akrabnya mereka dengan kita.

Lalat bisa ujug-ujug datang tanpa kita undang; secara sendiri, kelompok kecil, atau rombongan besar. Dia memiliki jiwa yang bebas untuk hinggap ke sana ke mari dan pada apa saja yang dia gemari.

Mereka acapkali hadir dalam berbagai suasana. Mereka gemar menemani kita di tengah hidangan makan dan minum, serta dalam suasana santai dan riang gembira. Lalat datang sebagai individu atau pasukan pengganggu dan perusak suasana, penghilang selera makan dan minum, bahkan penebar penyakit berbahaya!

Lalat lahir, hidup, dan berkembang dari tempat-tempat kotor, jorok, dan bau busuk. Lalat gemar makan sampah dan bangkai yang baginya menjadi sumber protein tinggi. Tetapi lalat juga suka ikut nimbrung menikmati berbagai hidangan kesukaan manusia.

Dia tidak hanya hadir di perkampungan kumuh, melainkan juga mampu menembus tembok istana. Bahkan, seekor lalat yang hanya punya satu sayap, dipilih Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk terbang dan menyusup melalui lubang hidung ke dalam kepala Raja Namrud. Ia memakan otak penguasa sombong dan penentang Nabi Ibrahim alaihissalam itu hingga tewas terhina dan teraniaya.

Kendati menjadi hewan menjengkelkan dan menjijikan, dan kita senantiasa merasa pantas membunuh dan memusnahkan habitatnya, lalat mampu menciptakan konotasi positif. Semua tahu, dalam bahasa Indonesia ada kiasan “tahi lalat”.

Itulah penamaan untuk noktah hitam seperti lalat yang tengah hinggap pada permukaan kulit. Orang Jawa menyebutnya “andeng-andeng” dan orang Inggris menamaninya ”beauty spot”.

Kehadirannya bisa menjadi pemanis wajah wanita jelita dan penebar pesona jejaka tampan. Maka, banyak orang mendambakannya, bila perlu membuat tiruan dengan tinta atau teknik tato. Setitik tahi lalat pada sudut dagu, misalnya, ikut mendongkrak pamor aktor Rano Karno.

Secara qodratullah, lalat juga memiliki dua bola mata yang luar biasa. Lihat, ukurannya besar dan menonjol sehingga bisa melihat ke segala arah tanpa menggerakan kepalanya.

Menurut para ilmuwan, bola indra penglihatannya terdiri dari 4.000 biji mata facet bersegi enam. Masing-masing bekerja sendiri-sendiri dan mengasilkan ribuan gambar benda atau obyek yang dilihatnya dengan tajam.

Informasi yang terekam bola mata lalat dikirim sangat cepat ke pusat saraf penglihatannya. Ia akan membaca gerakan sedikit apapun, apalagi yang mengancam nyawanya. Maka, jangan heran, kita sering kesulitan untuk menangkap lalat atau tidak semudah memukul nyamuk.

Daya penglihatan lalat yang multi-angle adalah inspirasi bagi manusia. Di dalamnya terkandung filosofi pentingnya kita menggunakan cara pandang majemuk dalam memotret suatu persoalan. Dengan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, kita dapat memahaminya dengan lebih jelas dan jernih.

Lewat pemahaman dan cara pandang yang menyeluruh, kita pun dapat mengambil solusi yang terbaik, yaitu dalam arti tepat dan adil untuk kepentingan bersama, sekalipun pasti ada yang tidak suka! (Fn)

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker