FeaturedJalan Pinggir

Perjalanan Manusia dan Film The Lost of City Z

Oleh: Delianur

Di dinding Palazzo Apostolico, kediaman resmi Paus pemimpin Gereja Katholik di Vatikan, terpampang lukisan Fresco berjudul “La Scuola di Atene” atau “School of Athens”. Dalam lukisan karya Raphael pada tahun 1509-1511, terdapat gambar-gambar tokoh besar yang namanya masih disebut sampai sekarang. Seperti Anaximander dan Pythagoras yang sedang menulis, Archimides yang sedang menunjukan karyanya, Alexander The Great dengan seragam tentaranya sampai dengan Ibn Rusyd yang terlihat sedang melihat catatan Pytagoras dari belakang bahunya dengan muka yang hitam dan mata menunjukan kepicikan. Sebuah gambaran buruk tentang Ibn Rusyd meski tidak seburuk gambaran Dante Alighieri dalam Divina Commedia yang menggambarkan Ibn Rusyd terjebak dalam limbo, tepi neraka, bersama Salahuddin Al-Ayyubi dan beberapa pemikir Islam dan Yunani non-Kristen.

La Scoula di Atene karya Fersco


Namun dalam lukisan itu, nama-nama besar diatas tetaplah pinggiran. Bukan utama. Setidaknya terlihat dari posisi mereka yang berdiri di pinggir atau duduk dibawah. Sentral dari lukisan itu adalah dua lelaki yang sedang berjalan beriringan di tengah-tengahnya. Lelaki pertama adalah seorang berjanggut panjang, terlihat sudah tua yang berjalan sambil mengacungkan satu jarinya keatas. Itulah Plato. Sedangkan disampingnya terlihat seorang lelaki yang lebih muda, berjalan sambil mengembangkan lima jarinya dan menghadapkannya ke bawah. Itulah Aristoteles.


Melalui tangan Plato yang menunjuk keatas, Raphael seolah ingin menggambarkan pandangan utama filsafat Plato yang dikenal dengan idealisme nya itu. Karena menurut Plato, yang hakiki itu pada dasarnya ada di dalam dunia ide dan itu tunggal. Bahwa apa yang kita lihat di alam nyata, bukanlah hal yang hakiki. Konon Plato sampai kepada kesimpulan seperti ini setelah melakukan perjalanan ke Timur.


Gambaran idealisme Plato ini mungkin bisa kita lihat dari “Allegory of The Cave” Plato yang sangat mashur itu. Dalam alegori ini Plato menggambarkan tentang sekelompok manusia yang hidup di gua dalam waktu lama. Di pintu gua, mereka membuat api untuk penerangan. Namun api tersebut ternyata tidak hanya berfungsi menerangi gua, tetapi juga memantulkan gambaran di dinding gua setiap kali ada sesuatu yang melintas di pintu gua.


Menurut Plato, kehidupan manusia itu seperti orang yang hidup di gua yang memperhatikan dinding gua. Mereka menganggap bahwa singa, harimau, pohon atau matahari, bentuknya adalah seperti yang terlihat di dinding gua. Padahal itu hanya bayangannya saja. Harimau, singa, pohon atau matahari yang sesungguhnya adanya diluar gua bukan di dinding gua. Manusia menurut Plato, hanya mampu melihat bayangan dari realitas yang sesungguhnya. Plato sempat mengatakan bahwa realitas yang sesunguhnya itu tunggal dan berada diatas segalanya. Pernyataan itulah yang kemudian ditafsirkan Plotinus sebagai Tuhan.


Berbeda dengan Plato, Aristoteles yang lebih muda tidak mengacungkan tangannya keatas dengan satu jari. Tapi mengembangkan telapak tangannya, sehingga kelima jari nya terlihat, dan menghadapkannya ke bawah. Aristoteles seolah ingin berkata, bahwa setelah kita membicarakan hal-hal ideal yang sifatnya melangit, mari kita turun ke bumi. Mari kita lihat ke apa yang terjadi di bumi. Sikap ini seperti menggambarkan ide dasar filsafat Aristoteles yang bercorak realisme. Bahwa yang hakiki itu adalah apa yang dilihat, dirasakan di alam nyata. Itulah yang mesti diperhatikan dan dikaji lebih jauh.


Karenanya Aristoteles dikenal sebagai filosof yang membicarakan materia, membuat klasifikasi yang sangat ketat dari setiap realitas yang dia temui dan dan menyukai ilmu alam seperti biologi. Karya-karya Aristoteles dikenal sangat sulit dicerna. Selain karena yang muncul itu hanyalah diktat-diktat kuliah bukan sebuah buku yang sengaja ditulis sengaja oleh Aristoteles, juga karena bahasanya sangat kering.


Karena Plato dianggap lebih idealistik, menghargai sesuatu yang sifatnya abstrak diluar kenyataan, serta yang ideal dan tunggal itu ditafsirkan sebagai Tuhan oleh Plotinus, maka banyak agamawan yang mengikuti filsafat Plato. Kebanyakan pemikir gereja juga filosof muslim seperti Ibn Sina, Al-Ghazali, Suhrawardi dianggap sebagai filosof neo-plotinus. Namun karena cara pandang neo-plotinus berkembang menjadi lebih mistis, orang menganggap bahwa cara berpikir Plato inilah yang menjadi pangkal kemunduran manusia. Orang selalu menghubungkan setiap kejadian yang dihadapi manusia kepada sesuatu yang sangat abstrak dan mistis. Jadinya manusia jumud.


Sebaliknya terjadi dengan para pengikut Aristoteles. Realisme Aristoteles membuat orang untuk lebih intens mengkaji fenomena alam sehingga mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam sejarah Islam misalnya. Masa kejayaan Islam adalah ketika para filosof muslim memperkenalkan pemikiran-pemikiran Aristoteles. Filsuf muslim seperti Al-Farabi pada masanya disebut sebagai guru kedua karena guru pertamanya adalah Aristoteles. Ibnu Rusyd disebut sebagai “Great Commentator” karena kemampuannya mengurai pemikiran Aristoteles yang rumit untuk lebih mudah bisa difahami. Atau Ibnu Sina. Meski dikenal sebagai neo-platonis, tetapi sangat tekun memperhatikan fenomena alam sehingga menjadi pakar dunia kedokteran.


Ketika Islam jaya karena mengambil filsafat Aristoteles yang bercorak realism, Barat justru mundur karena sangat neo-Platonis yang mistis dan idealistis. Namun selanjutnya keadaan berbalik. Islam dianggap mundur karena menjadi sangat mistis. Abai untuk menelaah realitas sehingga sains nya mundur. Sementara pada saat bersamaan, rintisan Ibn Rusyd yang memperkenalkan pemikiran filsafat Aristoteles, diambil Barat.

Thomas Aquinas, salah satu pemikir gereja brilian terkemuka yang sangat kritis terhadap Ibn Rusyd tetapi sangat terbantu dengan karya-karya Ibn Rusyd, berhasil mengintegrasikan pemikiran realisme Aristoteles dengan iman gereja yang platonis. Seperti juga Ibn Rusyd yang melalui filsafat Aristoteles bisa menjelaskan tidak adanya pertentangan antara syariah, yang sangat realism, dengan iman, yang sangat idealis.


Sebagaimana diketahui, Plato dan Aristoteles sendiri adalah orang Yunani. Mereka adalah para filosof Yunani yang pemikirannya mampu merubah perjalanan hidup manusia sampai sekarang. Pemikiran-pemikiran Plato dan Aristoteles muncul ke permukaan setelah orang intens mengkaji peninggalan Yunani yang kaya. Jadi secara sekilas, perjalanan kehidupan manusia sedikit banyaknya dipengaruhi oleh alam pikiran Yunani.


The Losf of City Z sendiri bukanlah film mengenai filsafat atau peradaban Yunani. Bukan juga tentang kejayaan Islam, Kristen, Ibn Rusyd atau Thomas Aquinas. Karya James Gray ni adalah film berdasar kisah nyata yang terjadi hampir 1,5 abad setelah “School of Athens” muncul dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan hal-hal diatas.


Film yang diproduksi tahun 2016 ini menceritakan tentang Percy Fawcett. Seorang militer Inggris yang mendapat tugas menelusuri sungai di pedalaman Amazon. Fawcet terpaksa menerima tugas berbahaya ini karena ingin memulihkan nama baik orang tuanya dan memberi kebanggaan kepada anak-anaknya. Fawcett sendiri bisa menuntaskan tugasnya dengan baik. Setelah mengahadapi banyak halangan, hulu sungai yang dia cari dan tidak pernah diinjak orang, bisa dia temukan.


Hanya saja dalam perjalanan itu, Fawcett mendengar cerita dari suku pedalaman Amazon tentang kota yang berlimpah dengan emas. Meski awalnya tidak begitu percaya, namun di hulu sungai Fawcett menemukan pecahan tembikar yang menunjukan adanya kehidupan dan kebudayaan di pedalaman Amazon yang terpencil tersebut. Berdasar temuan-temuannya, Fawcett berkesimpulan bahwa di kota berlimpah emas yang disebut dengan Zed, ada kehidupan yang jauh lebih unggul dibanding kehidupan di Inggris.

Salah satu scene dalam film The Lost City of Z.


Fawcett mengutarakan temuan dan kesimpulannya ini kepada Royal Geographic Society di London. Karena menganggap budaya di kota Z itu lebih unggul dibanding di London, Fawcett tentu saja ditertawakan. Sebagai bangsa yang sudah berkelana ke banyak tempat, orang Inggris beranggapan bahwa budaya masyarakat Amazon pastilah terbelakang. Namun Fawcett berhasil meyakinkan Royal Geographic Society juga Rockefeller Foundation untuk membiayai ekspedisi menemukan kota Z. Ekspedisi yang gagal, karena kota Z tidak pernah ditemukan sampai sekarang.


Berkaitan dengan “School of Athens” film ini menimbulkan pertanyaan. Kira-kira apa yang akan terjadi bila kota Z yang disebut Fawcett memiliki budaya unggul itu ditemukan? Bagaimana kalau ternyata peninggalan budaya Z itu sangat berharga dan menarik seperti berharga dan menariknya peninggalan budaya Yunani yang menjadi rujukan orang sampai sekarang? Bila kota Z ini ditemukan dan dia memang memiliki keunggulan seperti yang diungkapkan Fawcett, mungkinkah orang akan mempunyai kiblat baru selain Yunani.


Pertanyaan ini menjadi sangat mungkin. Karena secara ontologis, sesuatu disebut ada (being) selama dia bisa dirasa dan dipikirkan. Meski mungkin tidak terlihat mata, setidaknya dia ada di kepala kita. Adapun bagaimana wujud mengada atau eksistensinya seperti apa, itu adalah masalah lain.

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker