FeaturedJalan Pinggir

Momentum Perubahan

Oleh: Rafani Tuahuns, S.H. (Founder Satu Asa dan  Pengurus PB PII)

Saat menulis ini, saya dalam perjalanan laut dari Kota Salakan menuju Kota Luwuk. Kurang lebih satu jam berlalu kapal feri ini lepas tali dari dermaga. Terlihat orang-orang mulai terbiasa dengan normal baru. Jaga jarak dan pakai masker. Tempat tidur dan tempat duduk penumpang pun telah diatur dengan jarak yang bersesuaian. Aktivitas di atas kapal selama pelayaran terasa lebih normal. 

Lima bulan berlalu ujian melanda seluruh penduduk bumi, terlebih bagi penghuni negeri ini. Kemarin sore (09/07/2020), kita dikagetkan kembali dengan data harian dari Gugus Tugas Pusat Covid 19. Dikabarkan, kemarin adalah angka positif harian tertinggi, menembus 2.657 orang. Sehingga total sejak 2 Maret, berjumlah 70.736 orang. Yang dinyatakan sembuh berjumlah 32.651 orang, dan meninggal dunia menyentuh angka 3.417 orang. Ini angka yang sangat memprihatinkan. 

Sementara, kebijakan normal baru, menjadi sebuah pilihan yang mau tidak mau, harus diambil sebagai langkah menyelamatkan negeri ini dari krisis ekonomi. Bahayanya jika krisis kesehatan saat ini, efeknya pada krisis ekonomi yang tidak mampu ditangani oleh nagara, maka berujung pada krisis politik dan krisis sosial serta mengancam kelangsungan bernegera. Kita tidak ingin terancam sebagai negara gagal. 

Ujian besar ini sejatinya dipandang sebagai sebuah peluang untuk melakukan perubahan besar. Semua elemen harus sadar secara kolektif. Para pejabat di bawah atap istana, para elit politik di kursi senayan, para tokoh pergerakan di jalanan, hingga warga di seluruh nusantara. Semua harus menyadari penuh, dengan kesadaran kolektif, ini momentum perubahan.

Di awal Maret lalu kita masih dipertontonkan dengan sikap apriori pejabat negara, menganggap corona tak bakal masuk ke Indonesia. Sudahlah, sekarang saatnya lebih serius mengurusi negeri. Kebijakan yang diambil harus benar-benar berdasarkan prioritas, tidak boleh lagi ada yang dikorbankan.

Beberapa pekan terakhir ini juga disuguhkan tontonan memilukan dari gedung senayan. Para legislator pilihan rakyat beradegan lucu dengan RUU kontrovesial. Sudahlah bung, harapan rakyat benar-benar menjadi suara rakyat. Melegislasi peraturan demi kepentingan bangsa, bukan kepentingan asing ataupun aseng. Negeri ini butuh negarawan.

Kita yakin dan percaya, jika para elit hadir dengan sikap negarawan, itulah sebaik-baik teladan dan pendidikan langsung terhadap rakyat agar ikut berkontribusi positif bagi negeri. Janganlah heran jika masih ada warga yang abai, sebab kerap kali para pejabat berdasi itu bersikap alay.

Sudah saatnya, gelombang ujian besar ini diubah menjadi arus yang maha dahsyat, arus perubahan. Ada dua syarat utama yang teramat penting dalam menjemput momentum perubahan itu.

Pertama, negeri ini harus memiliki sumber kekuatan besar. Pancasila, yang sejatinya menjadi sumber  tertinggi dalam proses bernegara, harus menjadi sumber kekuatan itu. Seperti teori yang diungkapkan Hans Nawiasky, seorang ahli hukum dari Jerman, dalam teorinya Staat Fundamental Norm, bahwa kedudukan Pancasila, menempati urutan tertinggi dalam tata urutan peraturan perundang-undangan, yang artinya Pancasila sebagai norma fundamental negara. Ia adalah sumber dari segala sumber hukum bernegara.

Lima sila yang termaktub di dalamnya merupakan kesepakatan para founding fathers, yang diambil nilai-nilai luhur bangsa. Sila pertama, dan yang utama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Indonesia bukan negeri tanpa Tuhan. Negeri ini dibangun dengan nilai-nilai spritual yang teramat kuat, simbol-simbol agama, menjadi fitur penting bangunan nusantara. Kehadiran para pejuang  kemerdekaan negeri ini lahir dengan kalimat-kalimat spritual. Bahkan jika ditarik jauh kebelakang, nilai-nilai agama telah menjadi living law, hukum yang hidup di tengah masyarakat. Maka sudah selayaknya, sumber agama menjadi nilai dasar membangun bangsa, sebagaimana amanat utama Pancasila.

Narasi memisahkan negara dan agama adalah narasi usang yang bertentangan dengan Pancasila. Tatkala ada kelompok tertentu yang masih berusaha sampai detik ini membenturkan negara dan agama, maka dapat dipastikan upaya itu adalah bagian dari menistakan Pancasila dan layak dijadikan musuh negara.

Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, adalah sila-sila berikutnya yang sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama yang hidup di bumi pertiwi.

Dalam agama Islam, agama mayoritas di negeri ini, justru sila-sila tersebut, sangat kental nuansa  ajaran Islam. Perihal kemanusiaan, perihal persatuan, perihal permusyawaratan, perihal kebijaksanaan  hingga keadilan sosial, menjadi nilai yang juga teramat fundamen dalam Islam. Dengan demikian, menjawab syarat utama menjemput momentum perubahan, bahwa Indonesia memiliki sumber kekuatan yang teramat dahsyat, yakni Pancasila dan nilai dasar agama yang terkandung di dalamnya. Sumber utama itu mesti menjadi menjadi benteng perubahan.

Kedua, arah yang tajam dari sang navigator. Bukan menyalahkan para elit negeri ini, namun  telah menjadi rahasia umum dan jelas terdengar dari berbagai sumber media. Misal dalam kerja-kerja kementerian, sering terjadi tumpang tindih kebijakan. Bahkan tak jarang saling sikut pernyataan. Mirisnya ada menteri yang dengan bangga menganulir pernyataan presiden. Padahal negara ini menganut sistem presidensial, yang seorang presiden memiliki kekuatan penuh dalam membawa arah kebijakan.

Sungguh rakyat menjadi semakin bingung. Realitas ini tidak perlu dicela. Sebab yang jauh lebih penting dan berharga untuk dilakukan adalah ikhtiar menghadirkan ide-ide pambaharuan. 

Gerbong besar bangsa ini, harus dipimpin oleh lokomotif yang kokoh dan kuat. Narasi perubahan itu harus dinavigasi secara tegas. Yakinlah, jika negeri ini memiliki arah kemajuan dari navigator yang kuat, dengan berpegang teguh pada sumber kekuatan Pancasila, maka ledakan kemajuan menjadi kenyataan.

Saat kekuatan itu hadir dalam momentum perubahan, maka dipastikan, negeri ini mampu keluar dari ketegangan yang dihadapi. Kondisi krisis saat ini justru menjadi peluang besar mengantarkan Indonesia  memimpin dunia. 

Mental perubahan ini mejadi modal utama, menjalankan kehidupan bernegara pasca Covid-19. Post pandemi akan lahir manusia-manusia tangguh. Ketangguhan itu teruji dengan ketangkasan membaca perubahan. Ini momentum terbaik, harus menjadi pilihan utama untuk membawa negeri ini, tampil sebagai pemenang memimpin dunia. Sebagaimana tersirat dalam amanat pembukaan konstitusi, mewujudkan perdamaian dunia. Selamat menjemput kemajuan negeriku, sampai bertemu di puncak kemenangan, memimpin perubahan. 

10.00 Wita, 10 Juli 2020.

Kapal feri, di atas perarian Laut Peling.

Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker