Berita

Prof Dr Zainuddin Maliki Desak Menteri Nadiem Benahi PJJ

Kanigoro.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memastikan tahun ajaran baru mulai Senin, 13 Juli 2020. Sementara itu kurva Covid-19 secara nasional belum kunjung melandai. Daerah yang dinyatakan oleh gugus tugas penangan Covid-19 sebagai zona hijau hanya berkisar 6 persen. Dengan demikian kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tetap menjadi arus utama pelaksanaan belajar mengajar.

“Kami sepakat bagi daerah yang masuk zona kuning dan apalagi merah diharapkan untuk tidak keburu membuka kelas tatap muka. Semua fihak diharapkan mempertimbangkan faktor kesehatan siswa didik, guru, tenaga kependidikan dan semua yang terkait dengan pembelajaran,” demikian dikemukakan Prof. Zainuddin Maliki, anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PAN, kepada Kanigoro.com Kamis (9/7).

Namun demikian, anggota legislatif asal Dapil Jatim X (Gresik dan Lamongan) itu mengingatkan agar Kemendikbud benar-benar membenahi pelaksanaan model PJJ. Secara kuantitatif memang cukup tinggi partisipasi siswa didik kita dalam pembelajaran daring.

“Namun yang kita perlukan bukan hanya pemerataan dan tingkat partisipasi siswa, melainkan juga kualitas dan efektivitas pembelajaran daring itu sendiri,” ungkap mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya itu.

Banyak hal yang harus dilakukan untuk membenahi pembelajaran jarak jauh. “Mulai dari aspek kurikulum, kesiapan guru mendesain PJJ, penyediaan sarana prasarana, ketersediaan jaringan internet hingga persoalan layanan bagi siswa yang berada di daerah 3T,” ungkapnya.

Dari sisi kurikulum, tidak mungkin guru dibebani tugas menuntaskan muatan isi K-13. “Perlu segera dirumuskan kurikulum adaptif sesuai dengan situasi darurat covid-19, sehingga guru memperoleh kejelasan capaian pembelajaran yang harus diraih,” ungkap mantan Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur itu.

Menteri Nadiem juga masih harus kerja serius mengembangkan kreativitas guru agar mereka dapat mendesain pembelajaran jarak jauh yang efektif. Pasalnya, banyak yang merasa bahwa PJJ itu merupakan hal baru tetapi tiba-tiba harus dihadapi sebagai kenyataan. Harus diakui banyak guru yang mampu mendesain pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) sehingga suasana pembelajaran siswa aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

“Tetapi bagi guru yang masih mengajar secara konvensional, mengemas PAKEM, apalagi di tengah berbagai keterbatasan karena darurat Covid-19 tentu merupakan masalah tersendiri,” ungkap penulis buku Sosiologi Pendidikan ini.

Dibutuhkan ketrampilan ekstra seorang guru untuk mendesain metode belajar yang tidak bikin jenuh siswa belajar di rumah dan hasilnya pun efektif. Karena itu menurut Zainudin Maliki pada saat seperti sekarang guru membutuhkan pelatihan mengemas PJJ berbasis PAKEM sehingga siswa aktif, kreatif dan efektif belajar dari rumah.

“Guru memerlukan pengayaan imajinasi dan kreatifitas mengantarkan siswa didik sehingga tidak jenuh, melainkan bisa belajar di rumah dalam suasana yang menyenangkan,” pungkasnya. (SS/Amz)

Tags
Selanjutnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker