Artikel

Ibnu Thufail dan Film Robinson Crusoe (1997)

Oleh: Delianur

Di sebuah pulau terasing di gugusan Samudra Hindia yang dilintasi garis khatulistiwa, hiduplah seorang bernama Hayy. Entah dari mana asalnya, Hayy hidup sendirian di pulau yang jauh dari keramaian. Di pulau yang tumbuh pohon kelapa dan pala itu, temannya Hayy hanyalah tumbuhan, binatang, pasir dan laut. Tidak ada yang lain. Hayy hidup tanpa orang tua dan dipelihara oleh seekor Rusa.

Untuk menjalani hidup, Hayy belajar seperti yang diperlihatkan lingkungannya. Bila lapar dan hendak makan, Hayy memetik buah-buahan dan memakannya. Ketika hewan mencari tempat berteduh saat hujan, Hayy pun menirunya. Begitu juga ketika berpakaian. Manakala melihat binatang memiliki ekor yang dipakai untuk menutupi kemaluannya, Hayy pun memakai celana untuk menutupi auratnya. Begitu seterusnya. Hayy belajar hidup dari makhluk sekitarnya.

Hanya saja hidup ternyata bukan hanya masalah pangan dan papan saja. Suatu hari Hayy kebingungan dengan fenomena kematian. Hayy termenung ketika Rusa yang memeliharanya mati. Hayy bertanya-tanya kenapa Rusa yang jasadnya masih utuh tidak lagi bergerak seperti biasanya. Pasti ada sesuatu yang hilang yang membuat Rusa tidak bergerak lagi. Hal tersebut itu mestinya non-material karena seluruh jasad yang bersifat material masih lengkap. Non-material itu juga yang menurut Hayy menggerakan tubuh si Rusa.

Setelah termenung melihat fenomena yang terjadi di bumi, Hayy pun menengadahkan kepalanya. Mencerna fenomena di langit. Ketika menengadahkan kepalanya Hayy kembali termenung. Melihat gugusan bintang, langit yang seperti tanpa atap dan pergerakan matahari dan bulan. Menurut Hayy bila melihat apa yang terjadi di langit, mesti ada sesuatu yang mengatur semuanya. Karena bila tidak ada yang mengatur, maka tidak akan terjadi harmoni di langit. Penggerak benda-benda di langit itu pastinya non-materi. Karena bila dia materi, pasti membutuhkan lagi penggerak yang menggerakan.

Penggerak langit itu mestinya sesuatu yang mesti ada atau wajibul wujud. Hayy yang terus memikirkan hal ini berkesimpulan bahwa wajibul wujud mesti sesuatu Yang Maha dan bukan materi. Dia pasti Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hayy sangat ingin menemui Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu.

Hayy pun terobsesi untuk mendekati Yang Maha dan melakukan berbagai macam cara untuk mendekati-Nya. Karena Yang Maha ini bukan materi, maka menurut Hayy dia juga harus mengesampingkan materi dalam proses pendekatannya. Seperti ketika Hayy melakukan gerakan berputar meniru gerakan bintang di langit. Gerakan mirip thawaf dan juga gerakan tarian Rumi. Karena dengan gerakan berputar seperti itu, jasad atau materi kita jadi tersisih. Orang akan lupa pada jasad yang menyelubungi dirinya ketika dia berputar-putar.

Itulah sekelumit cerita dalam roman filsafat berjudul “Hayy bin Yaqzhan” karangan filosof muslim Ibn Thufail. Dikenal di Barat dengan nama Aben Tofail atau Ebn Tophail.

Hayy sendiri berarti hidup sementara, Yaqzhan berarti Bangun. Nama ini metaforik dari Ibn Thufail bahwa banyak manusia yang hidup tapi tidak bangun. Dia beraktivitas sehari-hari seperti biasanya, tetapi tidak tahu arahnya dan maunya ke mana. Sebaliknya ada juga orang yang sudah bangun tapi tidak hidup. Dia sudah tahu hidup mesti seperti apa, tapi diam tidak melakukan apa-apa.

Sebelumnya nama Hayy bin Yaqzhan juga dipakai Ibnu Sina untuk menjadi salah satu judul salah satu roman yang dia tulis. Namun dengan alur cerita berbeda. Dalam novel Ibn Sina disebutkan tentang Ibnu Sina yang bertemu dengan Hayy yang sangat bijak. Ibnu Sina yang terpukau dengan Hayy, meminta supaya dirinya bisa mengikuti kemenapun Hayy pergi. Namun ditolak karena menurut Hayy, Ibnu Sina tidak bisa ikut dirinya karena dia tidak bisa meninggalkan teman-temannya.

Dalam kajian filsafat bulanan di Masjid Jendral Soedirman Yogyakarta, pengkaji Filsafat Islam dari UIN Sunan Kalijaga, Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag, mengatakan bahwa ungkapan Ibn Sina itu adalah metaforik tentang akal aktif Hayy, rasionalime Ibn Sina dan kemampuan inderawi teman-teman Ibnu Sina. Bahwa selama manusia masih terikat dengan hal-hal indrawi yang ditunjukan teman-teman Ibnu Sina, maka dia tidak bisa mengikuti akal aktif yang ditunjukan Hayy.

Sementara dalam roman karangan Ibn Thufail, Hayy bin Yaqzhan adalah metaforik tahapan berpikir manusia yang berawal sangat empirik (mencerna apa yang bisa dilihat dan diraba), bergerak ke rasional sampai akhirnya naik menjadi sangat intuitif.

Ibn Thufail sendiri adalah seorang filsuf, dokter dan sekretaris negara di masa pemerintahan Muwahidun di Andalusia Spanyol yang hidup sepanjang 1105-1185 M. Karena dikenal sebagai pengkaji Aristoteles, bagi para pembelajar masa itu, Ibn Thufail disebut sebagai “Guru Kedua” karena “Guru Pertama”-nya adalah Aristoteles.

Ketika Raja Abu Yusuf Ya’qub yang dikenal sangat menyukai filsafat kesulitan memahami karya-karya Aristoteles, Ibn Thufail memperkenalkannya dengan Ibn Rusyd yang juga sangat Aristotelian. Kepada Ibn Rusyd lah Raja meminta supaya ditulis buku yang menerangkan pemikiran Aristoteles. Permintaan itu dilaksanakan Ibn Rusyd dengan penulisan tiga jenis tafsir pemikiran atas buku-buku Aritoteles, yaitu Jami’ (short), Talkhis (middle) dan Syarh (long). Karena kepakarannya terhadap pemikiran Aristoteles inilah Ibn Rusyd kemudian dikenal sebagai The Great Commentator.

Namun perkembangan pemikiran Ibn Rusyd berbeda dengan Ibn Thufail. Pemikiran Ibn Rusyd terus berkembang dan mempengaruhi Barat melalui gerakan Averoisme sampai abad-19 dan menjadi cikal bakal renaisance. Averoisme sendiri adalah sebuah gerakan para pengagum pemikiran Ibn Rusyd yang dalam banyak kesempatan kerap menggugat dominasi gereja atas masyarakat. Sehingga tidak aneh bila gereja kerap mengeluarkan doktrin pelarangan beberapa pemikiran Ibn Rusyd dan Aristoteles tentang pentingnya rasionalisme.

Sementara pemikiran Ibn Thufail tidak menyebar jauh seperti pemikiran Ibn Rusyd. Karena waktu itu, banyak buku-buku karya Ibn Thufail dibakar karena dianggap sesat. Namun novel Hayy bin Yaqzhan, adalah karya Ibn Thufail yang selamat dari pembakaran. Melalui novel inilah kemudian pemikiran Ibn Thufail dikenal Barat dan banyak mempengaruhi Barat.

Alm Nurcholish Madjid dalam bukunya “Kaki Langit Peradaban Islam”, ketika membahas tentang Ibn Rusyd sempat menyinggung perihal novel Hayy bin Yaqzhan. Menurut cendikiawan muslim ini, novel Ibn Thufail inilah yang memberikan inspirasi bagi Daniel Defoe menulis roman berjudul “The Adventure of Robinson Crusoe”.

Sementara di laman Wikipedia, berdasar buku Nawal Muhammad Hassan (1980) berjudul, “Hayy bin Yaqzhan and Robinson Crusoe: A Study of an early Arabic Impacton English Literature”, buku Amber Haque (2004), “Psychology from Islamic Perspective: Contribution of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologits” juga New Encyclopedia of Islam, seseorang menulis tentang Daniel Defoe yang terinspirasi menulis novel “Robinson Crusoe” setelah membaca terjemahan Hayy bin Yaqzhan dalam bahasa Inggris yang muncul pada tahun 1671 dan dipublikasikan tahun 1708.

Daniel Defoe sendiri adalah seorang pedagang, mata-mata, penulis dan jurnalis Inggris yang hidup sekitar 500 tahun setelah Ibn Thufail, 1660-1731 M. Defoe menulis banyak hal mulai dari politik, kriminalitas, psikologi, agama, perkawinan sampai dengan supranatural. Karena perhatiannya terhadap politik, Defoe kerap menjadi konsultan politik bagi beberapa kalangan.

Sementara “Robinson Crusoe” adalah karya Defoe yang dipublikasikan pada 25 April 1719. Karya Defoe ini disambut antusias banyak kalangan sehingga dianggap sebagai buku kedua yang banyak dicetak setelah Bible. Robinson Crusoe dianggap sebagai tonggal awal sastra genre fiksi realistis Inggris. Novel karya Defoe ini diubah dalam banyak versi seperti film, radio, televisi dan membentuk genre baru bernama “Robinsonade”.

Film Robinson Crusoe 1997 yang dibintangi Pierce Brosnan (mantan pemeran James Bond) dan disutradarai Rod Hardy dan George T Miller, adalah diantara film yang didasarkan pada novel Robinson Crusoe karangan Daniel Defoe. Film yang menceritakan tentang seorang Robinson Crusoe yang terdampar di sebuah perahu terpencil karena kapal yang ditumpanginya karam dihantam badai.

Dalam film ini diceritakan tentang Crusoe yang harus berpisah dengan orang yang dicintainya karena membunuh temannya. Namun Crusoe juga melakukan berbagai upaya supaya bisa kembali bertemu perempuan yang dicintainya. Seperti Hayy bin Yaqzhan yang berupaya keras untuk menemui Allah Maha Pengasih yang sangat dicintainya.

Film ini juga menyinggung tentang perbedaan makna Tuhan antara Man Friday (William Takaku) anggota suku terasing di pulau tersebut, dengan Crusoe. Bagi Faraday, Tuhan adalah buaya. Karena buaya itulah yang nyata terlihat dan bisa membuat dia mati. Sementara bagi Crusoe, Tuhan adalah apa yang disebutkan di Bible. Dia Maha segala Maha. Tidak terlihat tapi menentukan segalanya. Pemahaman Crusoe dan Friday tentang Tuhan tidak bisa bertemu karena sebagaimana dalam Hayy bin Yaqzhan, keduanya ada di dua tahapan berpikir yang berbeda. Man Friday berkesimpulan secara empirik tapi Crusoe secara rasional.

Sebagaimana diketahui, setelah hikayat Hayy bin Yaqzhan dan Robinson Crusoe ini, kita akan menemukan banyak cerita film serupa yang menceritakan seorang yang terdampar di tempat terpencil lalu dipelihara binatang. Seperti Tarzan yang dipelihara Kera atau Mowgly yang dipelihara Serigala.

Tags
Selanjutnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker