Berita

Kemnaker, BPJAMSOSTEK, Pengusaha, SP/SB dan Pemda Harus Bersinergi Atasi Dampak Covid-19

Kanigoro.com – Wabah Covid-19 terus menghantui Bangsa Indonesia. Dampak yang ditimbulkannya tidak hanya kesehatan masyarakat tetapi juga dampak ekonomi juga sangat dirasakan oleh masyarakat kita. Memang sector pariwisata dan turunannya sangat terdampak kuat dengan covid-19 ini. Pekerja di sector ini terancam kehilangan pekerjaan dan mengalami masalah daya beli untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Tentunya tidak hanya sector pariwisata dan turunannya yang terdampak tetapi juga dengan sector manufactur dan jasa lainnya yang sudah mulai terasa dampaknya. Sudah ada pekerja yang dirumahkan, bukan karena Work From Home (WFH).

Bila pekerja yang di-WFH masih bisa memperoleh upah, tetapi pekerja yang dirumahkan dengan alasan produksi menurun atau pun kondisi ekonomi yang tidak baik kerap kali menyebabkan pekerja hanya mendapatkan upah dalam persentase tertentu atau tidak sama sekali mendapatkan upah. Berbeda lagi dengan pekerja harian lepas yang memang hitungan upahnya berdasarkan kehadirannya bekerja, tentunya juga akan terkena dampak dari covid-19 ini.

Tentunya pekerja formal, khususnya padat karya yang tidak bisa bekerja dari rumah, pun berpotensi besar terpapar covid-19. Dalam perjalanan mereka ke tempat kerja yang kerap kali tidak mengindahkan social distancing dan kurangnya perhatian untuk menggunakan alat pelindung diri (APD) merupakan faktor yang mendukung potensi terkena covid-19. Masuk kerja dan bergaul langsung dengan teman-teman se kantor menyebabkan covid-19 mudah menghinggapi para pekerja formal lainnya.

Tidak hanya pekerja formal, tentunya pekerja informal pun terdampak besar dengan adanya covid-19 ini. Kondisi pekerja informal ini sangat rentan terdampak, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi. Pekerja informal rentan kena covid 19 karena memang dalam pekerjaan kesehariannya mereka langsung kontak dengan para konsumennya, dan tidak menggunakan APD karena harga APD sudah mahal saat ini. Dan dengan kondisi ekonomi yang lesu ini pun mereka terdampak hebat karena tingkat permintaan menurun sehingga barang dan jasa yang ditawarkan oleh pekerja informal turut menurun. Pendapatan pekerja informal tidak menentu dan tergantung pada permintaan dari konsumen.

Oleh karenanya upaya yang dilakukan oleh Kementerian Ketenagakerjaan sudah baik, dan ini harus didukung oleh semua pemangku kepentingan hubungan industrial yaitu pengusaha, SP/SB, Pemda dan BPJamsostek. Harus ada tindakan cepat dan sistemik untuk menjawab masalah-masalah yang muncul serta mengatisipasi masalah baru yang akan muncul.

Dalam jangka pendek ini saya mendorong Kementerian Ketenagakerjaan mengalokasikan dana untuk menghadirkan APD pekerja-pekerja yang masih masuk kantor karena tidak bisa WFH, dengan pengawasan kepada seluruh Industri agar mematuhi protokoler penanganan covid-19 di tempat kerja.

Kemenaker bisa bekerja sama dengan BPJamsotek untuk menyiapkan APD. Di BPJamsostek ada ada alokasi dana MLT (Manfaat Layanan Tambahan) dari Program Jaminan Kecelakaan Kerja untuk APD yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan. Dalam kondisi saat ini saya mendorong BPJamsostek mengalokasikan lebih besar lagi dana untuk APD bagi pekerja. Tentunya tidak hanya bagi pekerja formal tetapi juga pekerja informal harus diperhatikan dan diberikan APD.

Untuk konteks ekonomi, Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi pekerja informal, pekerja harian lepas dan pekerja yang ter PHK yang mengalami kesulitan ekonomi akibat covid-19 juga harus diberikan bantuan, yaitu dalam bentuk subsidi pangan. Hal ini harus juga melibatkan pemda-pemda, yang bisa mengalokasikan anggaran perjalanan dinas, rapat maupun kegiatan yang melibatkan orang banyak, untuk dialihkan kepada subsidi pekerja yang mengalami masalah ekonomi.

Tentunya perlu juga untuk meningkatkan skill pekerja dengan paltihan-pelatihan, tetapi dalam kondisi saat ini sebaiknya tidak dilakukan dulu. Pelatihan-pelatihan belum harus segera dilakukan karena memang diharuskan semua orang bisa mengisolasi diri di rumah dulu. Bila dalam kondisi normal baru lakukan pelatihan-pelatihan tersebut, dengan meningkatkan anggarannya karena banyak pekerja yang ter PHK karena covid-19 ini. (Azw/Fn)

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker