Berita

Anggota Fraksi PKB: Nilai Pajak dan PNPB Minerba Hanya Setara 12,6% Nilai Penjualan Batubara

Kanigoro.com – Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI dengan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Dirten Minerba) Kementerian ESDM pada Selasa (11/2) berlangsung cukup hangat. Agenda yang membahas penerimaan negara dan investasi dari sektor pertambangan Minerba dikritisi salah seorang anggota Komisi VII dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Ratna Juwita Sari.

Dirjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyanto dalam kesempatan tersebut memaparkan bahwa realisasi penerimaan negara dari sektor Minerba pada tahun 2019 dalam bentuk pajak sebesar Rp36,3 triliun dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp44,9 triliun. Realisasi PNBP tersebut melebihi target tahun 2019 yang ditetapkan sebesar Rp44,3 triliun.

Paparan Dirjen Minerba tersebut dikritisi oleh salah seorang anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKB Ratna Juwita Sari. Legislator asal Tuban tersebut menyoal data produksi batubara 616,16 juta ton dengan data penjualan batubara yang lebih besar yaitu 634,76 juta ton.

“Bagaimana mungkin selisih data seperti ini bisa terjadi? Tolong dijelaskan, supaya rakyat Indonesia tahu secara clear?” tanya Ratna.

Ratna juga menyoroti selisih angka PNBP dari sektor Minerba yang merupakan gabungan dari PNPB SDA Minerba dan Penjualan Hasil Tambang, antara yang dilaporkan Dirjen Minerba dalam RDP dengan data MODI (Minerba One Data Indonesia) yang dikembangkan Ditjen Minerba. Untuk tahun 2019 Dirjen Minerba melaporkan nilai PNPB sektor Minerba sebesar Rp44,93 triliun, sementara data yang dipublikasikan MODI nilainya hanya Rp44,87 triliun.

“Bagaimana selisih data seperti ini masih bisa terjadi? Yang detail dan teknis beginipun harus diperbaiki. Jangan sampai salah,” kritiknya.

Selanjutnya Ratna menilai penerimaan pajak Rp36,3 triliun dan PNBP sebesar Rp44,9 triliun terlalu kecil, melihat jumlah penjualan mencapai 634,76 juta ton.

Dijelaskan Ratna, bahwa Pemerintah menetapkan harga batubara acuan (HBA) selama tahun 2019 sebanyak lima kali. Pada bulan Januari USD92,41 per ton, turun menjadi USD91,80 (Februari), turun lagi USD90,57 (Maret), lalu USD88,85 (April) sampai akhirnya menjadi USD66,30 (Desember).

“Intinya selama setahun rerata HBA adalah USD77,89. Jika dikalikan dengan jumlah batubara yang dijual yaitu 634,76 juta ton, maka ada nilai transaksi sebesar USD49,44 Miliar atau setara Rp643,73 triliun jika menggunakan kurs 13.000 per USD,” terangnya.

Jika penerimaan pajak dan PNBP hanya sebesar itu, lanjut Ratna, artinya hanya setara 12,6 persen saja dari nilai transaksi penjualan batubara.

“Rasa-rasanya akal sehat saya mengatakan itu terlalu kecil, dibandingkan dampak kegiatan pertambangan terhadap ekologi, kesenjangan sosial, dan bencana alam,” imbuhnya.

Pada bagian akhir pernyataannya, Ratna mengatakan agar investasi dikelola secara lebih berkualitas dan juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi melalui pengolahan dan pemurnian.

“Realisasi pengolahan dan pemurnian hasil pertambangan mineral dan batubara harus dipercepat. Dari 17 unit smelter yang dinyatakan selesai, kemudian 51 smelter yang disebut dalam proses, saya tidak menemukan satupun untuk batubara. Bagaimana strategi akselerasi dari Ditjen Minerba? Berapa target Smelter Batubara sampai 2024?” tanyanya mengakhiri tanggapannya.

Merespon hal itu, Dirjen Minerba Bambang Gatot Ariyanto mengakui bahwa input data di MODI seringkali terlambat.

“Input MODI memang selalu ketinggalan. Akan selalu diperbaiki. Mohon maaf ini,” jawab Bambang.

Ia juga menjelaskan terkait masih dianggap rendahnya kontribusi sektor Minerba terhadap penerimaan negara. Menurutnya pengenaan tarif PNBP sudah mulai dihitung dari gross produksi, namun terkait pajak yang menentukan adalah DJP Kemenkeu.

“Kenapa pajaknya kecil, kami biasanya menerima hitungannya dari DJP. Kami tidak tahu masalah itu,” ucapnya.

Berkaitan dengan smelter untuk batubara, Bambang menjelaskan memang baru akan mulai, dan masih dalam tahap feasibility study (FS). Tahapan ini agak lambat karena nilai investasinya mencapai USD3 miliar.

Mahalnya nilai investasi smelter, lanjut Dirjen Minerba, karena teknologinya semua harus beli.

“Smelter batubara kemungkinan baru mulai beroperasi tahun 2024,” jawabnya.

Tags

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker