ArtikelFeatured

Gerhana Matahari Sebagian 26 Desember 2019

Penulis naskah dan peneliti :

  1. Mulya Diana Murti, S.Si.
  2. Muhammad Bayu Saputra, S.Si.

Pusat Sains AntariksaLembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

Pada penghujung tahun 2019 ini, masyarakat Indonesia kembali disuguhkan dengan salah satu fenomena alam yang menarik, yaitu gerhana matahari, tepatnya pada tanggal 26 Desember lalu. Terakhir kali fenomena gerhana matahari teramati di wilayah Indonesia adalah saat terjadinya gerhana matahari total 9 Maret 2016. Gerhana matahari merupakan fenomena terhalangnya sebagian atau keseluruhan piringan Matahari oleh Bulan. Terdapat beberapa jenis gerhana matahari, yaitu gerhana matahari total, gerhana matahari sebagian, dan gerhana matahari cincin.  

Gerhana matahari yang terjadi pada 26 Desember lalu adalah jenis gerhana matahari cincin. Akan tetapi, hanya beberapa wilayah di Indonesia yang dapat menikmati gerhana matahari cincin tersebut, seperti di Sibolga, Siak, Kepulauan Riau, Singkawang, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Sedangkan untuk sebagian wilayah Indonesia lainnya, gerhana yang teramati adalah gerhana matahari sebagian, misalnya di pulau Jawa gerhananya mencapai 70-80%, di Sulawesi sekitar 65-85%, dan di NTT sekitar 45-55%.

Untuk daerah Kupang, Bulan menutupi piringan Matahari paling banyak sebesar 46,8%. Proses gerhananya dimulai ketika Bulan mulai menutupi Matahari pada pukul 12.46 WITA, kemudian puncaknya pada pukul 14.22 WITA, yaitu saat Bulan menutupi Matahari paling banyak, dan berakhir pada pukul 15.42 WITA. Saat gerhana tersebut, kondisi langit Kupang lumayan cerah sehingga hampir seluruh proses gerhana dapat teramati. Hanya saja, menjelang gerhana berakhir, Matahari mulai tertutupi oleh awan tebal.

Tahapan gerhana matahari sebagian yang berhasil dipotret dari Kantor Pusat Sains LAPAN Tilong, Kamis (26/12).

Dalam mengamati Matahari perlu memerhatikan keamanan mata. Jangan melihat langsung ke arah Matahari dengan mata telanjang tanpa bantuan alat pengaman baik saat gerhana maupun tidak. Kuatnya intensitas cahaya Matahari dapat merusak mata dan menyebabkan kebutaan. Beberapa peralatan yang dapat digunakan untuk mengamati Matahari dengan aman adalah kacamata Matahari, proyeksi lubang jarum, teleskop atau kamera yang dilengkapi dengan filter khusus Matahari.

Setelah gerhana matahari 26 Desember lalu, dalam kurun waktu 5 tahun mendatang, masyarakat di wilayah Indonesia diprediksi akan kembali dapat menikmati 2 gerhana matahari, yaitu pada 21 Juni 2020 dan 20 April 2023. Untuk masyarakat di daerah Kupang sendiri, akan mendapati kedua gerhana tersebut dalam bentuk gerhana matahari sebagian. Untuk gerhana 21 Juni 2020, Bulan hanya menutupi piringan Matahari maksimal 2,8%, sedangkan untuk gerhana matahari 20 April 2023 mendatang, masyarakat Kupang akan dapat menikmati gerhana maksimal 96,8%.

Tags

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker