ArtikelFeatured

Selamatkan PAN dari Intervensi Kekuatan Eksternal

Oleh: Dr. Bambang Sutrisno (Kader PAN, Jawa Timur)

Munculnya aksi dukungan untuk Zulkifli Hasan dalam forum Rakernas PAN merupakan bagian dari strategi membangun opini publik bahwa mayoritas kader PAN masih menghendaki Zulhas melanjutkan masa kepemimpinannya untuk periode kedua. Celakanya gerakan mereka justru memantik reaksi keras dari Prof. Amien Rais yang selama ini selalu menjadi rujukan para peserta kongres dalam menjatuhkan pilihan politiknya.

Dalam suatu kesempatan Prof. Amien Rais pernah mengingatkan para kader agar selalu mewaspadai setiap kemungkinan adanya campur tangan kekuatan luar termasuk suprastruktur politik yang ikut mengendalikan suksesi Ketua Umum dalam forum kongres yang akan segera berlangsung. Beliau mengkhawatirkan keberadaan PAN hanya sebatas kekuatan pelengkap yang sama sekali tidak bermanfaat bagi kemaslahatan masa depan bangsa dan negara. Beliau berusaha keras mempertahankan jatidiri PAN sebagai partai reformis yang kritis terhadap kebijakan pemerintah yang secara nyata tidak memihak kepentingan rakyat. Bagi para kader yang serius menjadikan PAN sebagai instrumen perjuangan politik untuk mewujudkan Indonesia baru yang lebih demokratis, berkeadilan dan berkemakmuran, rasanya tidak ada alasan rasional obyektif untuk tidak mendukung sikap politik pendiri partai ini.

Tanpa bermaksud menafikan perjuangan dan pengorbanan Zulkifli Hasan selama menakhodai DPP PAN, saya ingin menyampaikan beberapa catatan kecil tentang performance PAN periode 2014 – 2019.

Pertama, selama masa kepemimpinan Zulkifli Hasan proses demokratisasi internal partai nyaris tidak berjalan, bahkan melenceng dari koridor konstitusi partai yang telah disepakati. Mekanisme penyelenggaraan administrasi organisasi bersifat sentralistik dan sama sekali tidak memberikan ruang kemandirian bertindak kepada organ penyelenggara organisasi partai di bawah untuk melakukan terobosan strategis secara otonom sesuai kondisi obyektif yang mereka hadapi. Bahkan permusyawaratan partai seperti Muswil, Musyda, Muscab dan seterusnya hanya bersifat formalitas serimonial belaka. Keputusan akhirnya sangat ditentukan oleh kehendak subyektif Ketua Umum. Akibatnya di sana sini muncul kegaduhan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Fenomena ini sama sekali tidak merefleksikan karakteristik PAN sebagai partai tempat berhimpunnya kaum terpelajar yang terlatih taat azas. AD/ART yang seharusnya menjadi kaidah penuntun dalam setiap pengambilan kebijakan strategis partai, dikangkangi secara semena-mena tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, di bawah kendali Ketua Umum Zulkifli Hasan, berulang kali PAN terjebak blunder politik yang membuat para anggota dan simpatisan fanatik di akar rumput merasa kecewa, bahkan ada yang dengan sangat terpaksa meninggalkan PAN yang sejak kelahirannya mereka perjuangkan. Salah satunya adalah langkah nekad Zulkifli Hasan membawa PAN meninggalkan sekutu koalisinya di KMP berbaur dalam barisan koalisi penguasa, tanpa mau memperdulikan suara arus bawah yang menghendaki konsisten sebagai kekuatan penyeimbang di luar kekuasaan. Melihat kenyataan tersebut tidaklah salah bila ada pihak yang menuding Zulkifli Hasan telah menggadaikan idealisme partai demi konsesi politik sesaat secara tidak bermartabat. Fakta itu pulalah yang membuat sejumlah kader idealis dan kritis merasa ikut menanggung beban malu kepada publik dan akhirnya memilih hengkang dari PAN.

Ketiga, menjelang perhelatan pemilu 2019 sikap politik Zulkifli Hasan tidak pernah jelas, bahkan tidak jarang bersimpangan jalan dengan langkah politik yang diambil oleh Prof. Amien Rais selaku sesepuh PAN sekaligus panutan para kader. Kondisi inipun sempat membuat para kader di akar rumput kecewa berat.

Catatan kecil di atas seyogyanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan para peserta kongres dalam menentukan pilihannya kelak. Mereka hendaknya sadar bahwa kehadiran mereka di forum kongres hanyalah sebagai kepanjangan tangan para anggota dan simpatisan PAN di akar rumput, demi terwujudnya perubahan masa depan yang lebih menjanjikan. Jangan sekali-kali nekad mengambil pilihan politik yang berseberangan dengan kehendak kolektif keluarga besar PAN di arus bawah, jika memang tidak menghendaki PAN hanya tinggal kenangan.

Selamat berkongres dan salam akal sehat.

(Sudono Syueb)

Tags

Artikel Terkait

Check Also

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker