ArtikelFeatured

Papua, Damailah Saudaraku, Maafkanlah Mereka

Oleh : M. Nigara (Wartawan Senior)

Menyebut Papua, kepala saya penuh dengan para legenda di dunia olahraga. Timo Kapissa, Hengky Rumere, Metuduaramuri, Yonas Sawor, Rully Neere, Stevanus Sirey dan sederet nama lainnya dari lapangan hijau. Benny Maniani dan Seppi Karubaba dari ring tinju.

Tidak berhenti di situ. Kepala saya juga dipenuhi dengan bayangan Yulius Uwe, raksasa yang menjadi manusia super. Tiga kali Sea Games 1987, 89, 91 menjuarai dasa lomba. Begitu juga Alex Kapissa yang larinya seperti angin, selain sebagai sprinter, ia juga pemain sepakbola dari Perseman Manokwari. Dan yang terpenting : Sungguh, mereka semua pasti bukan monyet! Seperti kata yang sempat terlontar terkait kasus yang kini sedang ramai dibicarakan.

Mereka adalah para sahabat saya. Mereka semua sudah membela Indonesia berulang kali. Mereka dan segenap keluarganya adalah bagian dari kehidupan dunia olahraga kita, olahraga Indonesia. Istimewanya, mereka semua selalu tersenyum dan sangat ramah. Gigi-gigi mereka begitu putih dan berjajar rapih.

Sakit rasanya jika ada orang, siapa pun dia, menyebut mereka secara kasar. Tolong catat : Mereka adalah saudara-saudara kita dari Papua. Mereka sama dengan kita, bahkan untuk urusan bela negara, mereka sangat mungkin lebih banyak ketimbang kita. Utamanya terkait bidang olahraga.

Jadi, terlalu gila jika mereka dilecehkan. Terlalu gila jika ada yang menghinanya. Terlalu gila jika ada yang menyepelekannya. Terlalu gila jika ada rasisme yang dialamatkan ke arah mereka. Terlalu gila jika ada yang bermain dari isu ini.

Yang memprihatinkan, mengapa kok Jawa Timur yang harus jadi penyebabnya ? Daerah yang selama ini kita kenal sebagai basis para pahlawan. Daerah yang sepanjang sejarah kita kenal banyak melahirkan tokoh-tokoh besar? Tempat tumbuh kembangnya jiwa patriot kebangsaan. Ingatlah semangat 10 November. Mengapa ? Duh !!!

Dari hati yang paling dalam, saya berharap ada sikap jujur pada para pelaku. Jangan korbankan saudara-saudara Jawa Timur lainnya. Segeralah meminta maaf.

Begitu juga, saudara-saudara kita di tanah Papua. Saya paham dan ikut merasa sakit, tapi berhentilah. Maafkanlah mereka saudaraku. Kami semua adalah saudaramu. Kita punya ibu yang sama, ibu Pertiwi. Tanggalkanlah kemarahanmu. Mari bersama kita kendalikan emosi. Semoga damai kembali bersenandung. Aamiin. (Fn)

Tags

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker