Artikel

Cak Imin Kandidat Kuat Pendamping Jokowi?

Sudah Masuk Lima Besar Cawapres Pendamping Jokowi

Oleh: Said Salahudin

Pengamat Politik

Penyebutan nama Muhaimin Iskandar atau Cak Imin oleh Joko Widodo (Jokowi) sebagai salah satu dari lima kandidat calon wakil presiden (cawapres) pendampingnya menempatkan PKB sebagai parpol paling spesial diantara parpol pendukung Jokowi yang lain.

Walaupun belum benar-benar pasti ditunjuk sebagai cawapres, tetapi penyebutan nama Muhaimin secara langsung oleh Jokowi tentu punya makna politis tersendiri.

Oleh karena baru Muhaimin satu-satunya orang yang disebut namanya secara langsung oleh Jokowi, maka hanya dia-lah yang sementara ini bisa disebut sebagai cawapres resmi Jokowi. Sebab empat yang lain kan masih rahasia. Belum disebutkan namanya oleh Jokowi.

Jadi PKB boleh saja berbangga. Walaupun masih bersifat sementara, tetapi status Cak Imin sebagai cawapres itu menjadi anugerah bagi PKB yang tidak didapatkan oleh parpol pendukung Jokowi lainnya.

Tetapi keistimewaan yang diberikan Jokowi kepada PKB itu boleh jadi diam-diam memunculkan kecemburuan bagi parpol pendukung yang lain.

Apalagi Jokowi mengatakan daftar cawapresnya sekarang ini sudah mengerucut menjadi lima nama. Itu artinya, selain Muhaimin, tersisa empat nama lagi. Di antara yang empat itu disebut-sebut ada juga nama tokoh dari luar parpol.

Artinya, peluang yang dimiliki oleh Partai Golkar, PPP, Nasdem, Hanura dan parpol yang lain untuk menempatkan kadernya sebagai pendamping Jokowi menjadi semakin sempit oleh karena sudah ada nama Muhaimin dan nama tokoh lain dari unsur non-parpol dalam daftar yang lima itu.

Ditinjau dari latar belakang penyebutan nama Muhaimin sebagai salah satu kandidat cawapres, maka keberhasilan PKB memengaruhi Jokowi ini sebetulnya tidak terlepas dari setidaknya tiga strategi cantik yang dimainkan oleh Muhaimin dan PKB.

Pertama, melalui pengajuan syarat dukungan. Sejak jauh-jauh hari Muhaimin dan elit partainya gencar melempar jargon: “PKB akan mendukung Jokowi jika Muhaimin yang menjadi cawapresnya”. Jargon itu terbukti efektif.

Jokowi dan parpol pendukung yang lain ternyata berhasil dibuat ‘ketar-ketir’  oleh siasat Cak Imin itu. Sebab jika syarat itu tidak dipenuhi, maka jika dibaca secara ‘a contrario‘ itu artinya ada kemungkinan PKB akan mendukung capres yang lain. Ini tentu tidak diharapkan oleh Jokowi.

Kedua, melalui taktik penetrasi. Muhaimin dan PKB coba menekan Jokowi dengan cara menembus lingkaran ‘oposisi’. Ini dilakukan dalam rangka menaikkan posisi tawar PKB di hadapan Jokowi.

Komunikasi politik yang cukup intensif dilakukan Muhaimin dan elit PKB dengan kelompok ‘oposisi’. Ketika proses negosiasi dengan kubu petahana sedang berjalan, pada saat yang sama Muhaimin dan elit PKB juga melakukan pembicaraan dengan kubu SBY untuk menjajaki peluang poros ketiga, termasuk dengan kubu Prabowo Subianto.

Bahkan Cak Imin cukup sering menyebut nama Prabowo dengan melontarkan jargon Prabowo hanya bisa menang jika Muhaimin yang jadi cawapresnya.

Bagi Jokowi, jargon semacam itu menunjukan PKB tidak main-main dengan opsi untuk bergabung ke kubu ‘oposisi’ jika syarat cawapres yang diminta oleh Muhaimin tidak dipenuhi. Jadi pikir Jokowi, ini bukan sekedar siasat ‘gertak sambal’ PKB.

Ketiga, mempopulerkan jargon “Jokowi hanya bisa menang jika cawapresnya Cak Imin” yang serupa dengan jargon yang dilontarkan PKB kepada kubu Prabowo.

Jargon itu seperti berhasil membuat Jokowi berpikir keras dan membuat semacam kalkulasi. Dulu, pada Pilpres 2014, Jokowi menang sekitar delapan juta suara atas Prabowo. Didalam angka delapan juta itu ada suara PKB yang meraih 11 jutaan suara di Pileg 2014.

Jadi jika PKB keluar dari koalisi, maka suara nahdliyin yang menjadi basis suara PKB dikhawatirkan dapat memperkecil peluang Jokowi untuk memimpin di periode kedua.

Lebih dari itu, jika syarat cawapres yang diminta PKB tidak diakomodir, maka peta koalisi Jokowi akan sangat minim dukungan umat Islam. Praktis hanya akan ada PPP di sana. Itu jelas tidak menguntungkan bagi Jokowi.

Tetapi pertanyaannya: apakah dengan masuk lima besar kandidat cawapres Muhaimin akan dipastikan mendampingi Jokowi? Ini akan sangat bergantung setidaknya pada dua hal.

Pertama, jika Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan pembatalan syarat ‘presidential threshold  (pres-t)‘, maka sangat mungkin konstelasi Pillres akan berubah. Dan salah satu kemungkinan dari perubahan itu adalah Cak Imin batal menjadi cawapres Jokowi. Dia bisa tersingkir akibat perubahan peta koalisi yang dibangun partai-partai politik.

Kedua, seandainya ketentuan ‘pres-t’ tetap diberlakukan, posisi Cak Imin sebagai kandidat cawapres Jokowi juga belum cukup aman. Dia bisa saja gagal menjadi mendampingi Jokowi karena boleh jadi ada kandidat lain yang dianggap lebih tangguh oleh Jokowi untuk menghadapi penantangnya.

Jadi, figur capres-cawapres yang dipastikan menjadi rival petahana turut menjadi faktor yang memengaruhi dipilihnya Cak Imin sebagai cawapres Jokowi.

Tags

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker