Artikel

Konsep Tauhid dalam Memaknai Pemikiran Politik Amien Rais

Oleh: Sudono Syueb

Sepekan terakhir ini jagad politik Indonesia demamnya naik, gegara kritik Amien Rais terhadap aksi bagi-bagi sertifikat kepada rakyat oleh Presiden Jokowo dianggap pengibulan.

“Ini pengibulan yang harus diwaspadai, bagi-bagi sertifikat, bagi-bagi tanah di beberapa daerah sekian hektar, tetapi ketika 74 persen negeri ini tanahnya, hutannya dimiliki olek kelompok tertentu itu malah seolah-olah dibiarkan. Ini apa-apaan?” kata Amien Rais.

Kritik keras Amin Rais ini membuat Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan meradang dan marah. Dengan nada tinggi dan berapi-api Luhut menyebut apa yang dilontarkan Amien Rais asal bunyi,

“Jangan asal kritik saja. Saya tahu track tecord-mu kok. Kalau kau merasa paling bersih kau boleh ngomong. Dosamu banyak juga kok, ya sudah diam sajalah. Tapi jangan main-main, kalau main-main kita bisa cari dosamu kok. Emang kau siapa?” kata Luhut saat memberikan pidato di Gedung BPK Jalan Gatot Subroto Jakarta, Senin (19/4/2018), seperti dilansir detikcom.

Setelah itu Wakil Ketua MPP PAN Drajat Wibowo, membela Amin Rais. Sedangkan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak akan memfasilitasi debat antara Amin Rais dan Luhut BP. Sementara  jubir komunikasi politik Presiden Johan Budi, menganggap bahwa sikap Luhut tidak mewakili istana. Walhasil meski yang ngecam Amin Rais juga banyak, tapi Amien Rais bergeming.

Memang secara politiko-historis, sejak Orba dulu Amin Rais telah berani mengkritik rezim Suharto yang telah berkuasa selama 32 tahun hingga Suharto tumbang. Kenapa Amin Rais begitu berani mengkritik razim penguasa? Karena pemikiran dan perilaku politik Amien Rais selalu merujuk pada Konsep Tauhid yang bersumber pada kalimah thoyyibahLaa ilaaha illah” (Tiada Tuhan Selain Allah). Maka Amien Selalu mengaitkan pemikiran dan sikap politiknya pada Allah. Karena itu Amien Rais tidak pernah takut kepada siapa pun kecuali Allah.

“Karakteristik pemikiran politik Amien Rais lebih banyak dipengaruhi oleh pemahamannya terhadap tauhid, mengingat beliau juga sebagai cendekiawan Muslim modernis. Pemikiran Amien Rais yang berbasis pada konsep tauhid ini mempunyai kemiripan dengan pemikiran politik Abul A’la al-Maududi, yang menyatakan bahwa asas terpenting dalam Islam, termasuk dalam hal politik, adalah tauhid. Korelasi konsep antara keduanya jelas terkonstruksi dalam perspektifnya bahwa kekuasaan atau kedaulatan tertinggi hanya milik Allah. Pengaruh pemikiran al-Maududi dan beberapa pemikir Islam Timur Tengah yang lain seperti Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, Sayyid Quthb, Ali Syari’ati dan Hassan al-Banna terhadap pemikiran politik Amien Rais sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar”, Umaruddin Masdar, seperti dikutip landasanteori.com.

Selanjutnya Masdar menyatakan, “Hal ini bukan saja karena pemikiran-pemikiran politik modernis Islam itu telah banyak diadopsi oleh Muhammadiyah, komunitas dimana Amien dibesarkan dan mengabdi di dalamnya, tetapi juga karena pengamatannya ketika ia menjadi mahasiswa luar biasa di Universitas al-Azhar terhadap gerakan dan pemikiran kaum modernis Islam di Timur Tengah itu kemudian melahirkan ikatan batin yang cukup dalam dan apresiasi tersendiri dalam pemikiran dan pribadi Amien Rais. Adalah wajar jika pengamatan dan apresiasinya itu kemudian mempunyai pengaruh yang tidak bisa dikatakan kecil terhadap bangunan pemikirannya secara umum sehingga Amien tampak begitu apresiatif terhadap pemikiran-pemikiran politik, terutama tentang teori politik Islam”.

Sementara itu, Ma’mun Murod Al Brebesy menyatakan bahwa Amien lebih dekat dengan Ali Syariati “Bahkan dibanding dengan al-Maududi, “kedekatan batin” Amien Rais tampak lebih condong kepada Ali Syari’ati, seorang aktivis di Gerakan Sosial Penyembah Tuhan yang berpandangan bahwa sistem sosio-ekonomi Islam adalah sistem sosialisme ilmiah yang didasarkan pada monoteisme (tauhid). Ini setidaknya tampak dari semangat Amien Rais dalam menerjemahkan buku-buku karya Ali Syari’ati yang beredar di Indonesia, yang sebagian besar merupakan hasil terjemahan Amien Rais. Mereka juga mempunyai latar belakang yang hampir sama, yaitu sama-sama “orang kampus”, yang dikenal produktif dalam tulis menulis dan sebagai petualang politik yang radikal. Hanya saja, Amien berangkat dari basic politik, sedangkan Ali berangkat dari sastra.

Berbagai gagasan pemikiran Amien yang serba Islam atau berdasarkan paradigma Islam, menurut Deddy Djamaluddin Malik dan Idi Subandy Ibrahim selalu terkait dengan lantangnya ia menolak ide sekulerisasi Cak Nur. Sebab, menurut Amien, Islam dan sekularisasi adalah dua hal yang tidak bisa dipersatukan. Tesis sekularisasi manganjurkan agar agama menjauhkan diri dari politik, dan begitu pula sebaliknya. Padahal dalam pandangan Amien antara agama dan politik justru saling bersatu, dan satu sama lain tak bisa dipisahkan. Karenanya, Amien berpendapat bahwa “Sekularisme-moderat maupun sekularisme radikal tidak memiliki tempat dalam agama Islam”, kata Amien Rais seperti dikutip Malik dan Ibrahim

Oleh karena itu, menurut Al Brebesy, “Pemikiran politik Amien juga dekat dengan figur umat Islam Indonesia yang amat dikaguminya, yakni sosok M. Natsir. Amien memang seorang Natsirin dan keturunan Masyumi asli. Sebagaimana halnya bahwa Natsir sendiri juga menolak tajam sekularisme dan pemikiran Barat (kapitalisme, liberalisme) lainnya. Lewat pandangan tauhid, maka manusia dibebaskan dari mitologi-mitologi, sehingga segala sesuatu selain Allah, termasuk juga kepemimpinan dalam masyarakat, menjadi sasaran sikap, telaah dan kajian terbuka”.

Lebih lanjut Al Brebesyi menyakan bahwa pemahaman tauhid seperti ini oleh Amien Rais dipopulerkan dengan istilah tauhid sosial. Munculnya konsep tauhid sosial ini tampaknya lebih dimaksudkan untuk menjelaskan berbagai problematika sosial umat yang menurut pandangan Amien Rais telah mulai meninggalkan ajaran tauhid, khususnya tauhid sosial. Makna tauhid adalah pengesaan akan keberadaan Allah, maka makna tauhid sosial adalah dimensi sosial dari tauhid itu sendiri, yang tidak lagi mengenal diskriminasi manusia atas dasar pertimbangan etnis, suku, agama, adat istiadat, bahasa dan termasuk agama. Sebagai masyarakat muslim yang mempercayai Islam sebagai agama pembebasan (religious of liberation), yaitu membebaskan masyarakat manusia dari segala bentuk eksploitasi dan penindasan, maka menurut Amien Rais kita harus tetap mengupayakan terealisasinya tauhid sosial.

Berangkat dari gagasan tauhid sosial ini, berbagai kritik dan pemikiran politik Amien Rais tampaknya banyak dibangun. Kritiknya yang pedas dan lugas yang selama ini banyak dilontarkannya, apakah itu menyangkut persoalan hukum, politik, dan ekonomi, tampaknya banyak dipengaruhi oleh pandangan-pandangan tauhid sosialnya. Begitu juga karakteristik pemikiran politiknya, baik tentang ideologi, negara ataupun demokrasi, tampaknya juga banyak dipengaruhi oleh pemahamannya terhadap tauhid sosial.

Tags

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker