Banner IDwebhost
Jalan Pinggir

Perkumpulan Brajabumi: Merawat Tosan Aji, Meneguhkan Identitas Bangsa

Banner IDwebhost

Kanigoro.com – Perkumpulan Brajabumi Kebumen memang bukan satu-satunya komunitas pecinta tosan aji. Sebelum Brajabumi disahkan Kemenkumham dengan SK Nomor: AHU-0002643.AH.01.07 Tahun 2018, di beberapa kota sudah ada perkumpulan serupa. Ada Komunitas Pelestari Keris “Astajaya” (Ajang Silaturahmi Tosan Aji Jakarta Raya), Komunitas Penggemar Keris “Satriyatama” (Satuhu Memetri Budaya Tosan Aji Magelang), Paguyuban Tosan Aji Panji Patria Blitar dan di tingkat nasional ada Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji (Senapati) Nusantara.

Umumnya paguyuban tosan aji di wilayah lain didirikan di sentra-sentra pembuatan tosan aji, atau minimal di tempat yang pada masa lampau ada tradisi tosan aji, tapi Brajabumi tidak.

“Brajabumi lahir bukan di sentra pembuatan tapi di tengah wilayah penyebaran Tosan Aji Nusantara dari beberapa Sentra Pembuatan Tosan Aji itu sendiri. Kondisi ini menimbulkan pemikiran dan ketertarikan yang sangat besar bagi masyarakat Tosan Aji yang ada,” jelas Ketua Brajabumi, Setyo Budi.

Baca juga: Sang Pangeran

Istilah tosan aji menurut Sekretaris Brajabumi, Putut Ahmad Su’adi berasal dari kata tosan yang berarti besi, dan aji yang artinya bernilai tinggi (mulia).

“Jadi yang dikategorikan tosan aji adalah semua jenis pusaka yang terbuat dari bahan dasar besi yang bernilai tinggi, dibuat dengan sistem tempa, bukan cor dan sejenisnya,” jelasnya.

Benda-benda pusaka yang dikategorikan tosan aji itu adalah: keris, tombak, pedang, pataka, trisula, tongkat, kujang, samurai dan lain-lain.

Karena didirikan di tengah wilayah penyebaran tosan aji nusantara, Brajabumi yang beranggotakan para pelesatri dan pecinta tosan aji, dengan cepat memiliki koleksi yang lengkap dari para anggotanya. Ada Kudi Hyang dari bumi Pasundan, kujang dan keris Pajajaran, keris dan tombak Cirebonan, Banyumas, Bagelen, Mataram Baru, Mataram Lama, Mangkunegaran, Sedayu, Tuban, Majapahit, Singosari.Tosan aji dari wilayah yang agak jauh misalnya dari Bali, Sumatra, atau Pedang Kompeni Belanda. Semua ada di Perkumpulan Brajabumi dan dirawat serta dijaga dengan penuh kebanggaan.

Baca juga: Kutukan Keris Empu Gandring, Anies Baswedan dan Jokowi

Kepengurusan Brajabumi dikukuhkan pada 5 Mei 2018 oleh Plt Bupati Kebumen Yazid Mahfudz di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen. Brajabumi menampung keanggotaan secara perorangan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Keris, tosan aji terpopuler

Dari beragam bentuk tosan aji tersebut, keris nampaknya memang paling populer dan menyejarah.

“Keris adalah salah satu jenis senjata tikam tradisional, karya nenek moyang bangsa Indonesia. Pembuatannya menggunakan teknik tempa yang sangat rumit, terkait dengan seni tempa pamor yang indah, yang dahulu sangat tidak terjangkau oleh pemikiran awam,” papar Setyo Budi.

Apalagi organisasi pendidikan, keilmuan dan kebudayaan PBB (United Nations Educational Scientific Cultural Organization, UNESCO) sudah mengakui keris sebagai Master Piece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity. Pengakuan tersebut diberikan pada 25 November 2005, lantas dienskripsikan dalam Representative List of Humanity UNESCO pada 2008.

Tak mengherankan juga bila aktivitas yang dilakukan Brajabumi banyak seputar masalah keris.

“Selain diskusi budaya di Rumah Budaya Bima Sakti, belakang Masjid Agung Kauman Kebumen, kami pernah mengunjungi Museum Keris Brajabuwana, Solo pada 10 Maret 2019,” terang Putut.

Baca juga: BPIP Dorong Ormas jadi “People Empowering”

Ketua Brajabumi, Setyo Budi juga pernah diminta menjadi nara sumber dalam Seminar Keris yang diselenggarakan Museum Tosan Aji Purworejo, Sabtu (10/11) lalu. Dalam seminar bertema “Keris sebagai warisan budaya masa lampau dilihat dari nilai filosofi dan nilai budaya masa kini”, Setyo Budi mengungkapkan berbagai pandangannya tentang keris.

Keris sebagai senjata unggulan, diungkapkan Setyo Budi, keampuhannya antara lain karena dibuat dari unsur baja dan besi serta batu meteorid yang jatuh dari angkasa, sehingga kokoh kuat.

“Cara pembuatannya juga diikuti dengan iringan doa kepada Sang Maha Pencipta Alam (Allah SWT) melalui suatu upaya spiritual yang dilakukan oleh empu pembuat keris,” terangnya.

Sehingga kekuatan spiritual Sang Maha Pencipta dipercayai orang sebagai kekuatan magis atau mengandung tuah. Di masa kini, hal itu cenderung dianggap sebagai makna batiniah (isoteris) yang menjadikan setiap keris memiliki daya tarik sendiri. Sehingga meski telah mengalami transformasi dari senjata tikam menjadi benda koleksi, keris tetap banyak diburu oleh para pecinta keris.

“Keyakinan akan menambah kewibawaan serta terkesan gagah dan berani dari pemakainya, menjadikan keris tetap digunakan sebagai pelengkap busana di era sekarang ini,” jelas Setyo Budi.

Baca juga: Jaga Nama Baik Bangsa dengan Berkarakter Positif!

Keris sebagai identitas bangsa

Bagi pecinta barang-barang karya seni, keris juga memiliki daya tarik dari sisi eksoterisnya. Bentuk keris yang indah dengan beragam pamor, yakni motif tertentu yang terdapat dalam bilah keris. Pakar keris Prasida Wibawa, penulis buku “Tosan Aji Pesona Jejak Prestasi Budaya (Gramedia, 2008) menyebut pamor karya lukisan pada tosan aji.

Sisi eksoteris lain yang menarik dari keris adalah kinatah dan sinarasah pada bilah keris. Kinatah adalah membuat gambar motif tertentu dengan cara menatah bilah keris dengan memberi parit atau alur yang kemudian diberi pengait di dalam alurnya untuk mengikat bahan emas atau perak yang nantinya akan dicairkan dan dilekatkan. Salah seorang ahli dan pecinta keris Perkumpulan Brajabumi, Ki Beta P Yuwono, menjelaskan istilah kinatah dan sinarasah.

“Setahu saya hal ini berbeda pada teknik penerapannya. Kalau kinatah itu bilah diukir dan teknik pemberian emasnya dengan dipatri,” terangnya.

Sedangkan pada sinarasah hal itu ditempeli di bagian luarnya. Karena itu sinarasah itu disebut sebagai teknik tempel. Otomatis kinatah dan sinarasah juga memberikan hasil yang berbeda. Keris dengan kinatah dan sinarasah emas, terkadang lengkap dengan intan berlian dan batu mulia lainnya, membuat keris juga bisa bernilai ekonomi tinggi.

Baca juga: Buzzer dan Potensi Konflik Bangsa

Keunikan keris dengan ragam pamor dan hiasan eksoteris lainnya, dalam pandangan Setyo Budi mencerminkan keluhuran nilai yang menunjukkan ciri khas dan jati diri yang tak ada duanya di dunia ini. Sehingga keris bisa menjadi identitas bangsa Indonesia.

Hubungan keris dengan sarungnya, menurut Setyo Budi juga punya makna filosofis.

“Filosofi manunggaling kawulo-Gusti, bersatunya masyarakat dengan pemimpinnya, insan kamil dengan Penciptanya, sehingga kehidupan selalu aman dan sejahtera. Selain saling menghormati satu sama lain, masing-masing juga harus tahu diri untuk berkarya sesuai dengan porsi dan fungsi masing-masing,” papar Setyo Budi.

Keunikan dan filosofi yang terkandung dalam keris, mendorong Perkumpulan Brajabumi juga giat mengadakan pameran keris. Yang pernah dilakukan antara lain Pameran Keris di Kampung Jawa, Desa Ambal Resmi, Kecamatan Ambal Kabupaten Kebumen. Pameran yang digelar pada 27 April 2019, dilaksanakan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen, digelar sejumlah 200 pusaka.

Sebelum resmi menjadi Perkumpulan Brajabumi pada 23 Februari 2018, yakni saat masih merupakan Paguyuban Tosan Aji Brajabumi, sebuah acara pameran dan sarasehan juga sukses diselenggarakan. Pameran dan Sarasehan Tosan Aji digelar di Hotel Meotel Kebumen pada 20-22 Desember 2017. Acara yang dibuka Bupati Kebumen Mohammad Yahya Fuad itu memamerkan hampir 500 an bilah pusaka nusantara.

Keberhasilan penyelenggaraan acara inilah yang antara lain mendorong dikukuhkannya Perkumpulan Brajabumi sebagai komunitas yang giat melestarikan tosan aji nusantara. Melalui berbagai kegiatan yang dilakukan komunitas tersebut, masyarakat bisa mendapatkan pencerahan tentang tosan aji. Bukan mengidentikan dengan klenik, melainkan sebagai salah satu bentuk karya seni unggulan yang kian meneguhkan identitas bangsa Indonesia. (AMz)